Selasa, 26 September 2017

Ruwat Sukerta Majapahit di Trowulan, Warga Pakai Kain Kafan

Sabtu, 08 Oktober 2016 13:18:31 WIB
Reporter : Misti P.
Ruwat Sukerta Majapahit di Trowulan, Warga Pakai Kain Kafan

Mojokerto (beritajatim.com) - Ratusan warga mengikuti ruwat sukerta Majapahit di Pendopo Agung Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (8/10/2016). Ruwat dilakukan dengan tujuan air pertirtaan tersebut bertujuan untuk membuang sial, marabahaya dan diharapkan kehidupan yang diruwat ke depan lebih baik lagi.

Ratusan warga yang akan diruwat diminta untuk mengenakan kain kafan yang sudah disiapkan panitia acara. Dengan menggunakan kain kafan, warga peserta ruwat akan dipanggil satu per satu untuk mengikuti prosesi ruwat. Dengan memakai bahasa jawa, para peserta ruwat kemudian diguyur dengan air yang berasal dari tujuh pertirtaan yang ada di Kecamatan Trowulan.

Diantaranya, air pertirtaan Siti Inggil Petilasan Raden Wijaya di Desa Bejijong, air pertirtaan Prabu Hayam Wuruk di Desa Panggih, air pertirtaan Tribuana Tunggal Dewi di Desa Klinterejo, air pertirtaan Sumur Sakti Maha Patih Gajahmada di Desa Beloh, air pertirtaan Sumur Upas di Desa Sentonorejo, air pertirtaan Sumber Towo dan air pertirtaan Putri Cempo di Desa Trowulan.

Air dari tujuh pertirtaan tersebut dicampur dengan tujuh jenis bunga berbeda warna. Yakni mawar, melati, gading, kenongo, kembang pring, kembang rowo dan sedap malam. Air tersebut diberi mantra oleh sesepuh dan diguyur ke kepala para peserta ruwat dan dilanjutkan dengan memotong sedikit rambut. Selesai prosesi, para peserta diminta mandi dan kain kafan yang sebelumnya dikumpulkan untuk dilarung.

Ki Suwoto Kondo Buwono menjelaskan, jika ruwat tersebut mempunyai tujuan agar tidak ada sial yang mengikuti anak yang akan diruwat tersebut. "Ruwat tidak ada hubungannya dengan agama dan penggunaan kain kafan dengan tujuan dinetralkan dan kain kafan tersebut akan dilarung karena dianggap menggandung itu yang menggandung sial atau apes," katanya.

Masih kata dalang asal Mojokerto ini, ada 60 jenis kelahiran yang harus diruwat. Diantaranya, ontang-anting (satu laki-laki atau satu perempuan), gentono-gentini (dua anak laki-laki dan perempuan), sendang keapit pancuran (tiga anak, laki-laki-perempuan-laki-laki), pancuran kaapit sendang (anak tiga, perempuan-laki-laki-perempuan) dan lain sebagainya.

"Terakhir untuk sempurnanya ruwat yakni pargelaran wayang kulit dengan lakon Purwakala. Purwa berarti asal atau permulaan, Kala berarti bencana, jadi asal mula dari bencana sehingga diharapkan agar anak cucu Adam yang dianggap apes karena lahirnya agar tidak sial atau selamat," jelasnya.

Salah satu peserta ruwat, Davitri mengatakan, jika ia mempunyai anak dengan susunan perempuan, laki-laki dan perempuan. "Saya punya anak tiga pancuran kaapit sendang sehingga harus diruwat. Karena saya orang Jawa sehingg saya percaya dengan ruwat agar anak-anak saya tidak sial, selamat, sehat dan tidak ada halangan apa-apa," urainya.

Ketiga anaknya yang ikut diruwat yakni, Nur Fadila Aini Putri Utama (9), Arya Jaka Kuncara Putra Utama (7) dan Gendis Hening Fajariyah Putri Utama (3). Meski percaya dengan ruwat tersebut, namun warga asal Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo ini mengaku baru pertama anaknya ikut diruwat. [tin/but]

Komentar

?>