Selasa, 26 September 2017

Koleksi Barang Antik, Jadi Lirikan Properti Fotografi

Senin, 22 Agustus 2016 18:30:44 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Koleksi Barang Antik, Jadi Lirikan Properti Fotografi

Bojonegoro (beritajatim.com) - Pada dinding kayu digantung beberapa barang-barang lama, seperti lampu, kamera, piring, dan foto-foto zaman dulu dalam figura. Di meja kayu dan rak tertata rapi seperti radio, kamera dan banyak properti rumah tangga lain yang semuanya merupakan benda-benda antik.

Koleksi barang-barang antik membuat ruang yang digunakan sebagai usaha warung kopi itu menjadi lebih khas jika dibanding yang lain. Desain dengan ornamen-ornamen lama seolah membawa pelanggan masuk pada zaman dulu. Hal itu yang menjadi daya tarik sendiri bagi para pelanggan.

Berawal dari hobi mengumpulkan barang antik sejak tahun 2008, Trifirmansyah (32) warga Jalan Dr. Cipto, Kelurahan Mojo Kampung, Kecamatan/ Kabupaten Bojonegoro akhirnya mengembangkan menjadi hal yang indah dan memiliki nilai jual. Bahkan, dari hobinya tersebut kini banyak komunitas fotografi yang menyewa benda antik koleksinya.

"Dari koleksi itu sekarang banyak yang ngelirik untuk dijadikan properti prewedding ataupun komunitas fotografi," ujarnya, Senin (22/8/2016).

Benda-benda antik yang sering disewa itu salah satunya koper besi, sketsel, meja, kursi, lampu gantung, dan jam dinding. Ia memilih tidak menjual barang-barang tersebut. "Kalau disewa boleh, karena saya masih bisa menikmati barang-barang tersebut juga barang tidak hilang," ujar pria yang juga pernah menjadi anggota vespa itu.

Koleksi benda-benda antik itu seolah-olah membuat dia seperti kembali pada masa lalu. Kepuasan batin saat mendapat barang antik tersebut menjadi alasan pria yang memiliki dua orang anak itu terus berburu barang antik. Namun, ia hanya mencari di wilayah Bojonegoro saja, di tempat-tempat rongsokan maupun pasar loak.

"Dulu punya banyak tinggalan barang antik dari orang tua dan sampai sekarang masih tersimpan rapi. Dari situ ada kepuasan batin memilikinya," ungkapnya.

Pria yang akrab disapa Tole itu mulai suka mengumpulkan barang antik sejak tahun 2008. Dulu dia mengumpulkan barang antik jenis kayu, mulai kursi, meja, dipan dan lain-lain. Namun, karena pernah dibohongi oleh kolektor sehingga ia sempat berhenti.

"Dulu masuk kolektor sampai Rp 70 juta, kursi dan meja. Sekarang mulai mengumpulkan barang-barang dari jenis ornamen maupun properti rumah tangga. Barang-barang yang kecil saja," terangnya.

Banyak benda perabot rumah yang dimiliki sekarang seperti, kamera tahun 70-an, radio, televisi, jam dinding, kompor, piring, lampu teplok, kompor, dan ornamen lain. Barang-barang tersebut merupakan produksi tahun 40-an hingga tahun 80-an. "Kompor tahun 1886 yang menggunakan bahan bakar spirtus, baru saja saya tukar dengan kontra bass," ceritanya.

Untuk barang-barang antik berupa perabotan rumah tangga ia sering berburu dari rumah ke rumah. Khususnya, kata pria dua anak itu, ia lebih sering berburu di rumah warga yang berada di seputaran Sungai Bengawan Solo. "Karena alat transportasi pertama itu melalui air," terangnya. [uuk/ted]

Komentar

?>