Senin, 24 Juli 2017

Nantikan Pertunjukan Teater Masegit di Surabaya

Jum'at, 19 Agustus 2016 18:21:55 WIB
Reporter : Tulus Adarrma

Bojonegoro (beritajatim.com) - Masegit adalah situs di mana relasi di dalam kehidupan Masyarakat saling bertautan. Ia lebih dari sekadar tempat ibadah di mana kewajiban pribadi kepada Tuhan dilaksanakan dan fatwa-fatwa agama disampaikan. Ia juga bisa dimaknai sebagai ruang sosial dan kebudayaan di mana gagasan seseorang dengan orang lain dipertemukan, persoalan-persoalan masyarakat dipecahkan, cita-cita bersama diperjuangkan, dan seterusnya.

"Pertunjukan Masegit ingin memotret situs tersebut dalam kerangka nalar kebudayaan manusia Madura," ujar Sutradara, pertunjukan Masegit, Shohifur Ridho Ilahi, Jumat (19/8/2016).

Pertunjukan Masegit diciptakan oleh seniman-seniman diaspora Madura (dan beberapa seniman rekanan) yang tinggal di Jawa. Jarak spasial, nyatanya, turut mempengaruhi sudut pandang dalam melihat sesuatu, turut memberi peluang pembacaan baru, tapi turut pula menjadi lubang jebakan sewaktu-waktu.

Dalam satuan jarak tertentu, berbekal sebuah tatapan mata dari tanah Jawa yang diproyeksikan ke daratan (dan lautan) Madura, lanjut dia, kami berupaya mereka ulang ruang kenangan, menggali ingatan, menyusur fenomena sosial yang telah dan tengah berlangsung, serta membaca ulang arsip sejarah.

"Dengan menyadari bahwa identitas adalah hasil dialektika diri dan liyan, barangkali di situlah kami bisa melihat ihwal diri dengan lebih benderang, barangkali kami bisa masuk menemu makna dan pengetahuan," ungkapnya.

Pertunjukan Masegit mempresentasikan tiga bagian kecil yang kami beri nama: ingatan, tegangan, dan sesilangan. Ingatan memapar Bagaimana identitas madura yang dikonstruksi oleh kolonial masih berlangsung hingga sekarang. Dan bagaimana manusia Madura menjadikan masegit sebagai lumbung semangat perlawanan.

Sementara tegangan menunjuk pada konflik sosial yang dilatari oleh keyakinan dan praktik keagamaan serta sejumlah paradoks dan tegangan yang terjadi di dalamnya. Adapun sesilangan fokus pada perkara kaum muda Madura sebagai generasi yang berdiri di atas keterbelahan, diri sekaligus orang lain: berdiri di altar masegit sembari membuka diri seluas-luasnya terhadap pengaruh dari luar.

Narasi ulang alik ini serupa bentangan Suramadu yang gagah. Jembatan ini tidak hanya menghubungkan Madura dan Jawa, melainkan juga jembatan industri, akulturasi budaya, dan percepatan ekonomi.

Penerima Hibah Seni Yayasan Kelola 2016, Masegit ini rencananya akan dipentaskan di beberapa kota. Salah satunya di Gedung Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur Surabaya, pada Minggu, 28 Agustus 2016 pukul 19.30 WIB. Selain itu juga akan dipentaskan di Auditorium STAIN Pamekasan, Madura pada Rabu, 31 Agustus 2016. [uuk/kun]

Tag : teater

Komentar

?>