Selasa, 23 Oktober 2018

Jilbab Lukis, Produk Seni yang Jarang Diminati

Jum'at, 29 Juli 2016 16:11:08 WIB
Reporter : Misti P.
Jilbab Lukis, Produk Seni yang Jarang Diminati

Mojokerto (beritajatim.com) - Indah Sulistya Larasati (56) tenggah mengembangkan bisnis kerajinan tangan, jilbab lukis. Meski mengaku produk kerajinan tangannya tak banyak diminati, namun warga Perum Wikarsa Blok H No 8 Desa Kenanten, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini tetap dikembangkan karena kecintaannya pada seni lukis.

Ibu tiga anak ini, mengaku sudah setahun terakhir mengembangkan produk kerajinan tangan berupa jilbab dan baju lukis. Bisnis tersebut dilakoni berawal dari tantangan sang suami yang juga seniman lukis untuk melukis.

"Saya tidak bisa melukis tapi karena sering diajak ikut pameran sehingga saya jadi tertantang," ungkapnya, Jum'at (29/7/2016).

Indah kemudian menuangkan lukisannya ke media jilbab, baju hingga rok. Indah mengaku, produk jenis itu belum banyak beredar di kawasan Mojokerto namun tidak di kota besar.

Indah sendiri mengaku banyak tahu tentang produk serupa banyak beredar di Surabaya karena ia melihat unsur seni yang indah tersebut akhirnya ia tertarik dan mengembangkan minatnya yang telah lama terpendam.

Meski lulusan IKIP Surabaya jurusan Bahasa Indonesia, namun ia juga mengambil jurusan minor Seni Rupa. Darah seni yang sudah mengalir tersebut rupanya lama terpendam, meskipun suaminya Mas Shayroni merupakan pelukis sehingga pada tahun 2015 lalu dengan modal Rp 500 ribu dari suaminya iapun membeli cat tekstil dan saya memilih media kain.

"Saya coba tuangkan lewat media jilbab, awalnya memang belum sempurna. Apalagi soal percampuran dan gradasi warna tapi tak lama kemudian saya menemukan pola. Awalnya memang tak langsung dijual, saya berikan ke anak dan saudara untuk dipakai. Tapi ternyata banyak teman-teman anak dan saudara saya yang bertanya dan minta agar dibuatkan," katanya.

Berangsur-angsurpun pesanan datang, kendati belum massal, Indah mengaku bersyukur. Lantaran, dia sendiri memang belum bisa melayani pesanan dalam jumlah besar karena untuk mengerjakan satu motif dalam jumlah besar, tidak bisa dilakukan. Indah mengaku menuangkan idenya tanpa pola, namun langsung ia tuangkan ide dalam pikiran ke media, begitu juga dengan warnanya.

"Ya tidak langsung bagus, kadang juga salah tapi harus langsung cepat-cepat dihapus dengan tisu. Kalau sekarang saya lebih suka menggunakan warna-warna yang tidak terlalu mencolok, biasanya saya konsultasi suami dan temannya sesama produsen kriya asal Surabaya. Tidak hanya kain berbahan halus seperti sifon atau linen saja tapi semua jenis kain bisa karena catnya cat tekstil," ujarnya.

Sedangkan, lukisan yang dianut Indah beraliran naturalis. Ia sering melukis bunga dengan julur-julur dan dedaunan serta mengisi ruang kosong pada baju dan jilbab dengan komposisi bebungaan seperti tulip, mawar hingga anggrek. Soal harga, Indah mengaku, tak mematok. Hanya saja, karena produk yang dihasilkan lebih otentik dan bersifat personal, menjadikan ongkos lukis bisa lebih mahal dari harga bahan jilbab atau baju itu sendiri.

"Kalau jilbab bisa Rp150 ribu dengan bahan jilbab seharga Rp50 ribu. Karena produk handmade sehingga masih jarang diminati, hanya teman-teman dan saudara saja. Saya juga tak tertarik memasarkan ke media online karena saya mengerjakan sendiri, jika banyak pesanan tentunya tidak bisa memenuhinya. Tapi saya ingin mengembangkan lebih jauh untuk mengeksplorasi kemampuan melukis saya," jelasnya.

Tak hanya di media jilbab dan baju, bahkan ia berencana masuk ke media kanvas. Produk jilbab lukisnya juga ingin dikembangkan dengan mengikuti pameran. Dia bersama temannya yang bergerak di bidang serupa juga berhasrat menularkannya ke khalayak ramai.[tin/ted]

Tag : seni lukis

Komentar

?>