Senin, 25 September 2017

Pentas Teater Awu SMK Negeri 2 Bojonegoro

Rasa Peperangan Para 'Tentara' Awu

Jum'at, 24 Juni 2016 05:48:49 WIB
Reporter : Tulus Adarrma
Rasa Peperangan Para 'Tentara' Awu

Bojonegoro (beritajatim.com) - Empat orang perempuan berkostum daster membentuk barisan. Membacakan ikrar sebagai tentara. Lalu, berlahan mereka menyopot baju yang dipakai dan berganti kostum tentara. Para tentara yang kesemuanya perempuan, berdiri membentuk barisan satu komando.

Mereka mengikuti suara komando dari balik panggung. Pembacaan ikrar tentara yang berperang tanpa senjata. Perang melawan dirinya sendiri. Melawan hawa nafsu manusia. Tentara, adalah profesi yang kuat, profesi yang menjaga. Menjaga diri sendiri dari hawa nafsu.

Lampu merah menyala, mereka mulai mengatur strategi perang. Bercerita tentang beratnya peperangan yang dihadapinya. Ada ketakutan, rasa jenuh, malas, lalu diserang dan melawan.

"Kita semua adalah tentara. Tak peduli berseragam atau tidak. Meski tidak berseragam, meski bersenjata atau tidak. Kita semua adalah tentara yang selalu diserang kapanpun juga," lalu gaduh, perang melawan dirinya sendiri.

Naskah karya Alm Masnoen, Seniman dari Bojonegoro berjudul "Tentara" digarap apik oleh Oky Dwi Cahyo bersama dengan Komunitas Teater pelajar SMK Negeri 2 Bojonegoro, Teater Awu, mampu memukau penonton, Kamis (23/6/2016). Naskah itu dipentaskan di lapangan takrau SMK Negeri 2 Bojonegoro.

Oky Dwi Cahyo mengungkapkan, proses penggarapan naskah Tentara ini hanya berjalan sekitar 2,5 minggu. Sehingga secara teknis pementasan masih banyak kekurangan. Namun, proses Tentara ini rencananya akan digarap ulang yang lebih maksimal.

"Secara penggarapan memang masih kurang. Sebenarnya pentas malam ini pntas laboratorium bagi anggota baru yang bergabung dengan Teater Awu," jelasnya, usai pementasan kemarin.

Naskah tersebut ditulis oleh Masnoen saat masih mahasiswa di ISI Jogjakarta. Naskah tersebut juga pernah menyabet juara pada Pekan Seni Mahasiswa Tingkat Nasional di Jogjakarta. Meskipun naskah tersebut ditulis sejak 1996, namun masih relevan dengan kondisi ssaat ini.

"Naskah ini juga pernah menjadi juara dalam Feksiminas," ujar Agus Sigro yang juga merupakan guru kesenian di SMK Negeri 2 Bojonegoro.

Agus mengungkapkan, secara bentuk naskah berjudul Tentara ini merupakan naskah surealis yang mengangkat simbol-simbol dalam setiap konflik yang dibawa. Tentara, kata dia, merupakan profesi yang kuat untuk melindungi. Dalam naskah itu, tentara menjadi sifat manusia untuk menjaga hawa nafsu.

"Seperti dalam cerita, manusia pada titik lemahnya adalah saat diserang hawa nafsu (birahi,red)," terangnya.

Dalam ending cerita lima tentara itu akhirnya klepek-klepek, lemas lalu gelap, saat hawa nafsu birahinya diserang. Sebelumnya mereka juga diserang dari segala hal hawa nafsu yang menjadi sifat manusia. Semua disampaikan dalam sebuah simbol-simbol. [uuk/but]

Tag : teater

Komentar

?>