Selasa, 21 Nopember 2017

Puasa, Upaya dari Beriman Menjadi Bertakwa

Minggu, 21 Juni 2015 20:10:34 WIB
Reporter : Samsul Arifin

Pamekasan (beritajatim.com) - Dalam ajaran Islam, proses keagamaan terdiri dari tiga tingkatan kualitas. Masing-masing beriman atau memperoleh keyakinan, bertakwa atau memperbanyak amalan, serta berislam yakni berserah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Hal itu tertuang dalam firman-Nya, QS Ali Imron (3): 102, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (berserah diri),".

Beriman merupakan tingkatan terendah dalam proses keagamaan, dan tingkatan ini menggambarkan sebuah proses 'pencarian' yang dilanjutkan dengan pemahaman yang diakhiri dengan keyakinan. Maka pada tingkatan ini, seorang muslim akan banyak berkutat dengan 'pergulatan pemikiran' yang sangat intens.

Seseorang yang tidak pernah mengalami proses pergulatan pemikiran di dalamnya, maka hampir bisa dipastikan kualitas imannya tidak akan cukup tangguh. Hal itu terjadi seperti yang di alami para nabi dan rasul, mulai nabi Adam 'Ahaihi al Salam hingga Muhammad Sallallahu 'alaihi wa Sallam.

Bertakwa merupakan tingkatan aplikasi atau amalan, keyakinan yang sudah diperoleh harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukanlah hal mudah menjalankan keyakinan secara konsisten, itulah yang dimaksud dengan kalimat 'ittaqullaha haqqatuqatihi' atau bertakkwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa.

Konsistensi butuh perjuangan keras untuk menegakkannya, orang yang tidak berusaha keras dalam menegakkan ketakawaannya akan tergoda dan cenderung tergelincir dari petunjuk Allah. Maka dengan konsisten, kita harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri.

Sementara berislam merupakan tingkatan dari sebuah perjuangan yang sangat panjang disertai dengan sikap konsisten. Orang yang dapat dengan mudah dan penuh keikhlasan dalam menjalankan agamanya, nantinya mereka yang akan mati dengan keadaan muthmainnah, sebagaimana digambarkan dalam QS Al-Fajr (89): 27-30.

Yang artinya: "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu, dengan hati yang puas lagi di ridhainya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surga-Ku,".

Berkaitan dengan hal itu, Puasa merupakan tata cara ibadah yang bertujuan untuk menjadikan pelakunya menjadi orang yang bertakwa, yakni tingkatan kedua dalam proses keagamaan. Seperti disebutkan dalam firman-Nya, QS Al-Baqaroh (2): 183, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu. Agar kamu bertakwa".

Ayat tersebut sangat gamblang menggambarkan kepada kita bahwa puasa merupakan proses untuk meningkatkan kualitas iman menjadi takwa. Karena itu, yang dipanggil untuk memenuhi kewajiban puasa adalah orang-orang yang beriman.

Kenapa hanya bagi mereka yang beriman yang dipanggil untuk melaksanakan puasa? Sebab orang-orang yang beriman merupakan orang yang sudah memiliki keyakinan atas dasar pencarian dan kefahaman. Bukan orang yang sekedar ikut-ikutan semata.

Inilah kunci utama yang menggiring keberhasilan kita menjalankan puasa, dalam arti sesungguhnya. Orang-orang yang tidak masuk dalam kategori beriman, akan mengalami 'kegagalan' dalam menjalani puasanya.

Dengan kata lain, sebanarnya kita bisa mengatakan bahwa orang-orang muslim berpuasa dengan kefahaman bukan karena ikut-ikutan atau asal menjalankan saja. Jika hanya sekedar ikut-ikutan, maka prediksi nabi bahwa puasa kita hanya memperoleh lapar dan dahaga semata, akan terjadi pada kita. [pin/kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>