Jum'at, 22 September 2017

Bongko Kopyor dan Bonggolan Hidangan yang Cuma Ada di Bulan Ramadhan

Minggu, 21 Juni 2015 17:47:42 WIB
Reporter : Deni Ali Setiono
Bongko Kopyor dan Bonggolan Hidangan yang Cuma Ada di Bulan Ramadhan

Gresik (beritajatim.com) - Bagi warga Gresik nama menu bongko kopyor, dan bonggolan sudah tidak asing lagi. Dua tersebut menjadi hidangan favorit di Bulan Ramadhan.

Bongko kopyor yang terbuat dari bahan-bahan seperti mutiara, pisang, nangka, dan kolang kaling dicampur dengan santan lalu dibungkus pakai daun pisang. Menu ini bisa ditemukan di kawasan Perumahan Gresik Kota Baru (GKB), pada saat Bulan Ramadhan khususnya mendekati buka puasa.

Salah satu pedagang bongko kopyor Fasikhul (35), asal Desa Mengare, Kecamatan Bungah, Gresik menuturkan, menu jajanan ini memang tidak dijual di bulan lain. Bahkan, dirinya dan pedagang (pembuat) bongko kopyor lainnya tidak berjualan kecuali hanya di Bulan Ramadhan.

Menu bongko kopyor yang mirip kolak itu, banyak diserbu pembeli sebagai hidangan takjil dan banyak ditemukan di pasar dadakan di Perum GKB Gresik.
"Saya membawa 100 bongko kopyor biasanya sehari laku 80 bungkus dan kalau ramai langsung ludes terjual," ujar Fasikhul, Minggu (21/6/2015).

Diakui Fasikhul, bongko kopyor yang dijualnya dihargai Rp 6 ribu per bungkus. Menu ini merupakan resep nenek moyang yang sudah turun-temurun menjadi makanan pembuka puasa. "Bongko Kopyor tidak dijual di tempat lain kecuali Gresik," tutur Fasikhul.

Selain menjajakan bongkor kopyor. Fasikhul juga menjajakan bonggolan. Menu yang mirip kue lemper dan empek-empek itu bahannya terbuat dari tepung kaji, ikan, bumbu bawang putih, dan lombok merah. Perbedaan bonggolan dan kue lemper terletak pada panjangnya. Jajanan khas bonggolan memiliki panjang 50 cm dan dibungkus daun pisang. Harganya pun sama dijual ke pembeli dengan harga Rp 6 ribu

Salah satu pembeli, Indah Rahmawati (30) warga Perum GKB mengatakan, dirinya suka bongko kopyor dan bonggolan selain harganya terjangkau rasanya yang manis sangat tepat disantap saat berbuka puasa.

"Kalau bongko kopyor rasanya manis dan segar. Beda halnya dengan bonggolan rasanya seperti empek-empek dan cocok untuk hidangan takjil," paparnya.

Hadirnya dua menu tradisional itu bisa jadi turut mewarnai kuliner Indonesia, di tengah maraknya menu cepat saji (Junk Food). Dua menut tersebut, terbukti tidak tersisih dan masih diserbu oleh pembeli.

Bongko kopyor dan bonggolan masih mempunyai tempat di hati pembeli pada saat Bulan Ramadhan. Dua menu itu merupakan warisan nenek moyang yang harus tetap dilestarikan di tengah maraknya makanan western maupun makanan impor lainnya. [dny/kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>