Selasa, 26 September 2017

Renungan Ramadan

Puasa Membangun Kesalehan Seksual

Minggu, 21 Juni 2015 15:51:56 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatin.com) - Ibadah puasa Ramadan adalah bagian dari ikhtiar membangun kesalehan seksual.

"Berkah puasa, orang akan punya kemauan dan kemampuan mengendalikan diri, sehingga untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, tak sembarangan, asal orang dan 'lubang', sampai menabrak aturan hukum dan agama," kata Moch. Eksan, aktivis muda NU Jember yang juga pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam II.

"Dengan self control yang baik, orang akan memilih menyalurkan nafsu birahinya dengan dengan cara yang aman dan nyaman, tanpa melanggar hukum dan agama. Pernikahan merupakan institusi yang paling aman dan nyaman tersebut," kata Eksan.


Seks merupakan kebutuhan biologis manusia. Seks dalam pernikahan adalah perkara halal dan sunnah Rasul SAW, demi keberlangsung nasab manusia di muka bumi.

"Dalam praktiknya, proses pemenuhan kebutuhan biologis ini, terkadang menghalalkan segala cara demi kepuasan nafsu birahi sesaat, hatta sampai melakukan tindakan melawan hukum," kata Eksan.

Kasus pemerkosaan, pencabulan dan kekerasan seks atas anak menyesaki media. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan Indonesia dalam kondisi darurat kekerasan anak. Jumlah kasus dari tahun ke tahun semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif.

Di kawasan Jabodetabek misalnya, pada 2010 mencapai 2.046 kasus. Laporan kekerasan pada anak tahun 2011 naik menjadi 2.462 kasus. Pada 2012 naik lagi menjadi 2.626 kasus dan pada 2013 melonjak menjadi 3.339 kasus.

"Yang paling mengerikan pernyataan Arist Merdeka Sirait, mantan Ketua KPAI, bahwa kekerasan anak didominasi oleh kasus kekerasan seksual. Rata-rata 42-62 persen," kata Eksan, geleng-geleng kepala.

"Yang paling tragis, pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah orang dekat korban, mulai saudara laki, ayah, sepupu, paman, guru, pengasuh, teman, sopir, sampai tetangga. Ini berarti, anak Indonesia sangat rawan menjadi korban kekerasan seksual," tambah alumnus Himpunan Mahasiswa Islam ini.

Eksan cemas, tak ada tempat yang aman bagi anak bebas dari kekerasan seksual. "Rumah, sekolah, tempat bermain, dan lain sebagainya, justru tempat yang paling sering digunakan pelaku kejahatan seksual untuk melakukan tindakan cabul terhadap anak," katanya.

"Indonesia berpuasa mengingatkan seluruh anak bangsa, bahwa kekerasan seksual terhadap anak mutlak harus diakhiri," kata Eksan. Pria yang juga anggota Komisi E DPRD Jawa Timur ini mengingatkan, anak adalah masa depan bangsa. [wir/kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>