Jum'at, 24 Nopember 2017

Puasa, Bukan Sekedar Lapar dan Dahaga

Sabtu, 20 Juni 2015 21:59:38 WIB
Reporter : Samsul Arifin

Pamekasan (beritajatim.com) - Puasa bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, sebab jika hanya menahan lapar dan dahaga saja. Pastinya kita terjebak pada dimensi fisik semata, sementara puasa lebih condong pada dimensi kejiwaan atau lebih tepat lagi mamadukan dimensi fisik dan dimensi kejiwaan.

Dalam berbagai penelitian tentang puasa, memang disepakati bahwa puasa merupakan aktivitas yang melibatkan dimensi fisik, jiwa dan spiritual sekaligus. Dalam bahasa sederhana, puasa merupakan aktivitas bersifat 'lahir dan batin'. Sehingga dengan puasa itu, seseorang harus menjalani aktivitas mulai dari niatan yang bersifat spiritual.

Dengan kata lain, puasa merupakan aktivitas dengan menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu yang membatalkan puasa, termasuk makan dan minum dan hal lain yang mengakibatkan puasa batal. Serta memperbanyak 'komunikasi' dengan Tuhan.

Lantas apa sebenarnya yang menjadi tujuan puasa? Aktivitas puasa awalnya memang merupakan sebagai aktivitas keagamaan, karena untuk memahami tujuan puasa kita mesti mendengarkan informasi dari agama yang memerintahkan.

Sehingga secara umum, tujuan puasa dari berbagai penelitian bisa ditangkap sebagai sebuah aktivitas untuk menyeimbangkan kembali kondisi badan seseorang. Dalam skala lahiriah maupun batiniah, sehat lahir maupun sehat batin.

Berdasar berbagai penelitian yang semakin marak dilakukan di berbagai negara-negara maju, dimensi kejiwaan dalam berpuasa memberikan efek yang lebih mendalam dibandingkan sekedar fisik. Fisik sebagian dari aktivitas berpuasa, sebab faktor jiwa ternyata memegang peranan penting dalam berpuasa. Penekanannya bukan puasa fisik, melainkan lebih pada pengendalian yang bertumpu pada keikhlasan.

Jiwa memiliki pengaruh sangat besar terhadap fisik. Bahkan, pengaruh jiwa justru lebih dominan di bandingkan pengaruh fisik. Segala aktivitas fisik bersumber dari jiwa, baik yang dikehendaki secara sadar maupun yang berada di luar kesadaran alias alam bawah sadar. Sebab jiwa merupakan softwere kehidupan.

Dari itu, terdapat beberapa hal yang menjadi menarik terkait puasa. Seperti sabda Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa Sallam, bahwa banyak di antara kita yang berpuasa secara sia-sia, yakni tidak memperoleh makna dan manfaat puasa yang sesungguhnya. Kecuali hanya mendapatkan lapar dan dahaga semata, lalu untuk apa kita berpuasa jika semua itu sia-sia.

Selain itu, pengesan Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firmannya, seperti tertuang dalam QS Al-Baqarah (2): 184. Pada ayat tersebut menyiratkan kita, betapa banyaknya manusia 'tidak mengetahui' bahwa puasa sesungguhnya lebih baik dan lebih bermanfaat.

Mungkin seharusnya, sebagai seorang hamba yang saat ini sedang menjalankan ibadah puasa pada bulan punuh barokah, Ramadan 1436 Hijriyah. Kita mesti mengetahui rahasia ini, agar kita menjadi lebih tahu terkait dibalik perintah puasa. Sehingga kita tidak termasuk seorang yang disabdakan Nabi, ".... Begitu banyak orang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan haus belaka..". [pin/kun]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>