Gaya Hidup

Wisata Sumber Wuluh Mojokerto Didaftarkan ke Google Maps

Wisata Sumber Wuluh di Dusun Sidorejo, Desa Wonosari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto. [Foto: misti/beritajatim]

Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto mendorong pengembangan potensi wisata di setiap desa. Seperti halnya wisata Sumber Wuluh di Dusun Sidorejo, Desa Wonosari, Kecamatan Ngoro.

Ketua Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Sumber Lestari, Buwono mengatakan, Sumber Wuluh memiliki luas 1,2 hektar dan sudah ada sejak zaman dulu menjadi wisata Dusun Sidorejo, Desa Wonosari. “Wisata ini resmi dikelola Bumdes Sumber Lestari sejak pertengahan 2019,” ungkapnya, Minggu (20/10/2019).

Wisata kolam mini berisi banyak ikan hias warna-warni itu dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB. Pengunjung bisa memberi makan ikan dengan membeli pakan sebesar Rp10 ribu. Sedangkan parkir sepeda motor Rp3 ribu dan roda empat Rp5 ribu.

“Anggaran pengembangan wisata ini dialokasikan dari ADD, dana desa yang terserap untuk pembuatan sekat pembatas air sebesar Rp100 juta. Kedepan akan kami bangun musala dan melebarkan sisi utara untuk wahana permainan air. Saat ini, kita mulai gencar mempromosikan wisata Sumber Wuluh,” katanya.

Sementara itu, pengelola Wisata Sumber Wuluh, Kaiyan menambahkan, untuk mempromosikan wisata tersebut pihaknya sudah mendaftarkannya ke Google Maps. “Kita juga selalu mengunggah foto dan video tentang agenda atau moment wisata melalui medsos,” tambahnya.

Masih kata Kaiyan, selama ini tanggapan dari pengunjung sudah bagus. Tak jarang, para pengunjung yang usai berkunjung ke wisata tersebut selalu mengunggah ke media sosial (medsos) masing-masing. Seperti foto selfi maupun video yang diambil di Sumber Wuluh.

“Karena kita juga menyediakan fasilitas wifi gratis bagi para generasi milenial yang ingin memposting foto selfi atau video di medsos. Disini kita juga punya tradisi rutin setiap tahunnya yang melibatkan berbagai media dan aparat pemerintahan kecamatan, yakni Bedah Sumber,” ujarnya.

Tradisi ini tanpa dikenakan biaya, pengunjung bisa menangkap ikan nila, tombro, mujahir, patin, lele dari dalam kolam. Bedah Sumber Wuluh digelar setiap tahun dengan cara warga berlomba-lomba mengambil ikan yang ada di kolam tanapa alat atau hanya menggunakan tangan.

“Tentu saja, air kolam dikuras terlebih dahulu sebelum ratusan masyarakat berlomba-lomba mengambil ikan yang ada di dalamnya. Masyarakat setempat sudah memiliki kesadaran untuk merawat wisata, masyarakat sekitar juga terlibat dalam paguyuban pedagang. Saat ini anggotanya ada 25 orang,” tegasnya. [tin/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar