Gaya Hidup

Warung Wader Berjejer, Trowulan Dikenal Sebagai Kampung Wader

Mojokerto (beritajatim.com) – Banyaknya warung wader yang ada di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto membuat Ibukota Kerajaan Majapahit ini mendapat julukan sebagai Kampung Wader. Ada 19 warung wader di Desa Trowulan yang terdaftar di Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur.

Julukan Trowulan sebagai Kampung Wader sendiri diberikan oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur untuk mendukung Pemkab Mojokerto dalam kegiatan Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan). Bahkan tahun 2017, Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur memberikan bantuan peralatan bagi pemilik warung wader di Desa Trowulan.

Hal ini juga tak lepas dari peran pihak Desa Trowulan yang memperjuangkan dengan mengajukan bantuan untuk pemilik warung wader ke Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Respon cepat ditunjukan Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur dengan memberikan bantuan senilai Rp10 juta.

Bantuan senilai Rp10 juta dalam bentuk peralatan tersebut diberikan kepada 19 warung wader yang ada di Desa Trowulan. “Pengajuan bantuan sudah sesuai dengan jumlah warung wader yang ada, tapi bantuannya berupa barang,” ungkap Kepala Desa (Kades) Trowulan, Zainul Anwar, Rabu (14/3/2019).

Masih kata Anwar, sebanyak 19 warung wader tersebut menerima bantuan berupa peralatan untuk menunjang pemilik warung berjualan. Diantaranya, meja kursi, magic com, freezer dan tabung LPG 12 kg dengan total senilai Rp10 juta. Pemilik warung wader juga mendapatkan pembinaan.

“Karena warung wader cukup banyak sehingga dibagi dua kelompok, mereka juga mendapatkan pembinaan dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. seperti penyajian, manajemen keuangan termasuk juga pemasaran. Tapi dari Pemkab Mojokerto belum ada respon dengan potensi ini,” ujarnya.

Pihaknya berharap, Pemkab Mojokerto melalui instansi terkait memperhatikan Desa Trowulan khususnya untuk membantu para pemilik warung wader. Karena menurutnya, dukungan dari pemda setempat sangat dibutuhkan karena pemilik warung wader masih membutuhkan dukungan.

“Kami berharap Pemkab Mojokerto memberikan suport seperti provinsi karena masih banyak peralatan yang dibutuhkan pedagang untuk menunjang agar Trowulan semakin dikenal sebagai Kampung Wader. Karena kami baru mendapat dukungan dari provinsi saja,” tegasnya.

Salah satu pemilik warung wader, Rukiyatin (60) mengaku, berjualan nasi wader sejak tahun 1990. “Saya yang pertama jualan disini dan sekarang sudah banyak yang jualan. Cukup senang karena Trowulan sekarang dikenal sebagai Kampung Wader,” tutur warga Dusun Unggahan, Desa Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini.

Menu yang disajikan dalam nasi wader yakni sambal mentah yang diracik di atas cobek tanah liat, terdiri dari campuran cabai merah, tomat, gula, garam, jeruk nipis dan trasi. Dalam penyajiannya ditambah daun kemangi dan mentimun.

Namun dalam perkembangannya, para pedagang kemudian menambahkan menu-menu lain. Seperti sambal ikan belut, mujair, lele, udang dan aneka botok.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar