Gaya Hidup

Hari Pers Nasional

Wartawan Baca Puisi: Otokritik dan Kegelisahan Maraknya Hoaks

Surabaya (beritajatim.com) – Masih dalam semangat Hari Pers Nasional yang jatuh pada tanggal 9 Februari lalu, Bengkel Muda Surabaya (BMS) bersama wartawan penyair mengadakan acara Wartawan Penyair Baca Puisi, Selasa (19/2/2019) di Balai Pemuda Surabaya.

Hadir banyak wartawan yang juga aktif menulis sastra khususnya puisi membacakan puisinya diacara tersebut, antara lain Amang Mawardi (Surabaya), Sirikit Syah (Surabaya), Toto Sonata (Surabaya), Leres Budi Santoso (Sidoarjo), R. Giryadi (Sidoarjo), Rusdi Zaki (Sidoarjo), Lukman Hakim A.G (Sumenep), Samsudin Adlawi (Banyuwangi), F. Aziz Manna (Sidoarjo), Dyah Ayu Setyorini (Sidoarjo), Ibnu Hajar (Yogyakarta), Widodo Basuki (Sidoarjo), Jil P. Kalaran (Solo), Ribut Wijoto (Sidoarjo).

Keempat belas wartawan penyair tersebut pun menghimpun puisi-puisinya dalam buku kumpulan puisi Namaku Hoaks; Sekumpulan Puisi Wartawan. Buku yang desain sampulnya dikerjakan oleh Amir Kiah tersebut setebal 104 halaman, diterbitkan atas kerjasama BMS dan Pagan Pers, dengan pengantar substansi oleh Sirikit Syah.

Dalam kumpulan puisi yang dibacakan pada malam ini, tidak hanya puisi-puisi bertema kritik sosial melainkan juga merupakan puisi-puisi Liris yang sifatnya personal dari ekspresi, pemikiran dan perenungan pencipta puisi.

Selain itu ada pula puisi sketsa-sketsa pendek yang mungkin ditulis sepuluh menit dari duduk di warung kopi.

Salah satu puisi yang bertema kritik sosial adalah Namaku Hoaks, karya Samsudin Adlawi pria asli Banyuwangi dan berkerja sebagai jurnalis Radar Banyuwangi.

Puisi ini menyajikan gambaran keresahan di aku lirik (tokoh dalam puisi) terhadap  kebohongan atau Hoaks yang melanda negerinya.

/Namaku Hoaks/
/Pendek tapi menohok/
/Karenaku orang kepikiran/
/Karenaku derita jadi panjang/

Pada bait /karenaku derita jadi panjang/ menggambarkan aku lirik tidak hanya gelisah, tapi juga mencoba melepaskan atau berusaha tidak terjerembab dalam masalah yang mungkin muncul karena Hoaks.

Selain itu juga ada puisi dari Ribut Wijoto, editor sekaligus jurnalis senior di beritajatim.com yang berjudul Orang-orang Balai Pemuda. Pada puisi ini memang tidak menyangkut pautkan kepentingan politik yang sedang ramai diperdebatkan tetapi cukup mewakili kritik atas eksistensi Balai Pemuda yang menjadi salah satu rujukan dan rumah para seniman yang dirasa mati suri karena diabaikan birokrasi.

Puisi yang cukup lugas meneriakkan keluh kesah seniman Surabaya ini pun mewakili memoir dan nostalgia kejayaan kesenian dan sastra yang terus memudar.

/”Kami muntah dan berak di sini, tapi tolong, panggil kami seniman”/

Eksistensi kami pada aku lirik puisi Ribut Wijoto jelas pada ambang kefanaan. Terlebih lagi ketidak mampuan kami atau seniman disini adalah bentuk ketidak berdayaan Adi luhungnya seni yang sia sia.

Seni dihadirkan Ribut tidak mampu lagi menjadi ruang dan bahkan pencarian yang merefleksikan kualitas diri yang kemudian seperti dikatakan Prof. Jacob Sumardjo menjadi Lembaga Kebenaran.

Hanya karena seniman bergelut pada dirinya tanpa tahu dimana pijakan akal berada dan digunakan karena sistem birokrasi negara yang tidak memihak pada seni, sastra dan seniman.

/Kami di luar waktu, kami diabaikan birokrasi./

Begitu banyak harapan dan kegelisahan yang ditulis wartawan penyair dalam puisi-puisinya, setidaknya wartawan juga ingin tidak selalu tegas dalam tulisan dan kata-kata baku yang selalu dilakukan nya dan malam ini melalui sebuah buku dan lirik yang dibaca, wartawan sekali lagi membuktikan pemikiran dan tulisannya juga membawa perasaan lembut dan keindahan.[adg/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar