Gaya Hidup

Ramadan Hari ke 27

Warga Gili Probolinggo Rayakan ‘Tradisi Toron Petolekoran’

Warga Gili Ketapang turun dari kapal kapal penumpang pada perayaan "Toron Petolekoran"

Pobolinggo (beritajatim.com) – Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, dimanfaatkan banyak orang untuk berbelanja. Setelah satu bulan lamanya berpuasa di bulan Ramadan, wajar bila semua orang ingin tampil beda dan rapi saat Lebaran.

Selain identik dengan ketupat, opor, dan makanan khas lainnya, Lebaran juga identik dengan yang baru.

Pun bagi warga Pulau Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo. Kebiasaan belanja mengahadapi hari raya Idulfitri ini, bahkan mereka jadikan tradisi adat.

Turun temurun, penduduk pulau kecil di utara lepas pantai Pelabuhan Tanjung Tembaga, Kota Probolinggo, itu menyebutnya sebagai tradisi “toron petolekoran”.

Dalam tradisi ini, warga Gili, harus menempuh perjalanan laut sejauh 3 mil, menuju Kota Probolinggo, guna belanja kebutuhan Lebaran.

Sedangkan lamanya waktu meninggalkan pulau Gili, harus sehari penuh. “Tradisi ini pasti berlangsung setiap hari ke 27 Ramadhan. Ribuan jumlah penduduk Gili, harus berbelanja kebutuhan Lebaran” ujar H Usman,¬† warga Gili, yang dijumpai disalah satu dept store di Kota Probolinggo, Sabtu (1/6/2019) sore.

Tak hanya soal baju dan bahan pokok, tambah H Usaman, penduduk Gili, juga datang ke diler-diler motor untuk membeli kendaraan baru. “Pokoknya hari ini belanja semua kebutuhan yang mampu mereka beli,” katanya.

Senada disampaikan Yuli, juga warga Gili. Menurutnya, meski cuaca buruk di laut, tradisi “toron petolekoran” tetap dijalankan. “Walau tak ada akibat jika tidak ikut tradisi toron, namun warga gili sudah sepakat tradisi ini harus terus dilakoni” katanya.

Pantauan di lapangan, terutama JL. DR. Sutomo, Kota Probolinggo, nyaris macet  penuh sesak oleh warga Gili. Deretan toko busana dan elektronik ramai dikunjungi. Sementara di JL. Niaga, meski lalu lintas lancar, namun aksi borong bahan jajanan dan makanan oleh warga Gili, nampak jelas.

Anggota Satlantas Polres Probolinggo Kota, Aiptu Suyanto, menyatakan tak ada rekayasa jalan akibat tradisi dimaksud. Meski demikian warga pengguna jalan disarankan menghindari jalur-jalur kawasan toko busana dan elektronik. “Ini kan hanya sehari saja. Nanti malam sudah kembali lancar,” katanya. (eko/ted)

Apa Reaksi Anda?

Komentar