Gaya Hidup

Angka Kasus Perceraian di Kabupaten Jember Tergolong Tinggi

Usai Lebaran, Pengajuan Cerai Justru Meningkat

Jember (beritajatim.com) – Angka kasus perceraian di Kabupaten Jember 6 bulan terakhir ini meningkat. Terhitung dari bulan Januari sampai dengan bulan Juni kemarin, angka perceraian umumya berada sekitar 500 kasus.

Bila dijumlahkan, sejak awal tahun 2019 hingga akhir bulan lalu, kasus perceraian yang masuk di pangkalan data milik Pengadilan Agama (PA) Jember berjumlah 4056 kasus. Nominal yang paling tinggi terdapat di bulan Januari, yakni sebanyak 820 kasus. Sementara di bulan-bulan berikutnya hanya berkisar antara 400 sampai 700 kasus perceraian.

Jika dilihat dari tingginya angka perceraian di bulan Januari yang berjumlah 820 kasus. Maka dapat disimpulkan bahwa dalam satu hari saja ada sekitar 51 kasus perceraian di Jember. Sementara angka kasus perceraian yang tertinggi terjadi pasca lebaran Idul Fitri kemarin, yakni 72 kasus dalam 1 hari.

“Yang paling banyak itu kemarin, satu hari habis Lebaran, gugatan cerai yang dibawa ke PA sebanyak 72 kasus” tutur Drs. Anwar, S.H. selaku Humas (Hubungan Masyarakat) Pengadilan Agama Jember, Selasa (16/07/2019).

Tingginya angka kasus perceraian di Kabupaten Jember dilatar-belakangi oleh beberapa faktor. Contohnya faktor ekonomi, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, salah satu pihak meninggalkan pihak lainnya, zina, judi, poligami, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) hingga Murtad.

Rata-rata orang bercerai di Jember berkisar antara usia 20 sampe 30. Notabenenya mereka adalah pasangan muda yang belum mapan secara ekonomi. [ihs/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar