Gaya Hidup

Tunaikan Nazar, Amir Jalan Kaki dari Medan ke Banyuwangi

Amiruddin saat beristirahat di Jombang

Jombang (beritajatim.com) – Hujan jatuh cukup deras dari gendongan langit. Amiruddin (44) buru-buru melangkahkan kakinya. Punggungnya memanggul ransel, sementara di kepalanya bertengger sebuah topi. Pria yang akrab disapa Amir itu membawa beban, tapi langkah kakinya terasa ringan.

Amir terus menyusuri tepian jalan raya. Dia tidak sendiri, sejumlah relawan membuntuti. Para relawan itu berasal dari komunitas netizen. Mereka sengaja menyambut kedatangan Amir ketika memasuki tapal batas Kabupaten Jombang.

Hari mulai gelap, namun belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Para relawan akhirnya mengantarkan Amir ke rumah warga yang ada di tepi Jalan Raya Dusun Plosorejo, Desa/Kecamatan Bandar Kedungmulyo. Gayung pun bersambut. Tuan rumah menerima kedatangan Amir dengan hangat. Malam itu, Kamis (17/1/2019), dia menginap di rumah tersebut.

Amir hanyalah orang biasa, namun dia memiliki semangat luar biasa. Betapa tidak, jalan kaki yang dia lakoni ribuan kilometer. Yakni, dimulai dari Medan, Sumatera Utara (Sumut). Rencananya, Amir hendak menuju Banyuwangi untuk sungkem kepada sang ibunda. Sebuah perjalanan dengan jarak 2.961 km.

Alhamdulillah, saya mendapat sambutan hangat di Kabupaten Jombang. Banyak relawan yang menjemput di gerbang masuk Jombang. Mereka menemani saya,” kata Amir dengan suara lirih.

Lumpuh Ketika Subuh
Amiruddin lahir di Banyuwangi pada 11 November 1975. Namun selama ini Amir merantau di Kampung Mandailing, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut. Di tempat itulah dia mengalami kejadian aneh. Suatu hari saat Subuh di 2018, Amir terjaga dari tidurnya. Pria yang masih membujang ini hendak menunaikan salat Subuh.

Akan tetapi sesuatu yang ganjil terjadi. Sepasang kaki yang biasanya perkasa, tiba-tiba tak bertenaga. Amir menjadi lumpuh. Padahal saat itu, dia baru satu minggu tinggal di rumah kakak perempuannya, yakni di Serdang Begadai, Sumatera Utara.

Sejak itu hari-hari Amir diliputi kegelisahan. Dengan dibantu sang kakak, Amir mencari kesembuhan, mulai dari medis hingga non medis. Hanya saja, upaya itu bertepuk sebelah tangan. Kesembuhan belum juga menghampiri pria 44 tahun ini.

“Saya lumpuh selama tujuh bulan. Menurut analisa dokter, saya terserang gejala tulang keropos. Selama tujuh bulan itu pula, saya tidak bisa beraktifitas. Hanya menggantungkan hidup kepada kakak dan tetangga,” kata Amir berkisah, Jumat (18/1/2019).

Di tengah keputus-asaan, Amir tak lupa berdoa. Bahkan dia sering menunaikan salat malam. Nah, saat meneggelamkan diri dalam doa itulah Amir bernazar (berjanji). Jika sembuh, dirinya akan berjalan kaki dari Sumut menuju Ketapang, Banyuwangi untuk sungkem kepada ibunya, Nur Asiyah.

Seiring laju waktu, mukjizat pun datang. Suatu hari, tiba-tiba Amir bisa mengangkat kakinya. Dia girang bukan kepalang. “Akhirnya saya bisa berjalan dengan normal seperti sekarang ini. Alhamdulillah. Ini mukjizah dari Allah,” ujarnya.

Tekad sudah bulat. Nazar yang sudah diucapkan pantang dibatalkan. Maka pada 20 November 2018, tepat peringatan Maulid Nabi, Amir berangkat dari tempat tinggalnya di Desa Mandailing, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Begadai, Sumatera Utara.

Amir hanya bermodal tekad. Dia tak membawa uang sepeserpun ketika memulai perjalanan panjangnya. Bahkan baju yang dibawa hanya dua pasang. Satu dipakai, satu lagi digunakan sebagai ganti.

Selama berada di perjalanan, Amir hampir selalu menginap di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang dilintasi. “Saya hanya sekali menginap di luar SPBU, yakni di teras warung yang sudah tutup, di Lampung,” katanya.

Namun demikian, bukan berarti perjalanan pria yang awet membujang ini tanpa rintangan. Selain cuaca yang tidak bersahabat, Amir juga pernah mendapat gangguan dari preman jalanan. Dia masih ingat, mendapatkan masalah di Bandar Lampung dua kali dan di Jawa Barat sekali, yakni daerah Cirebon.

Para preman tersebut meminta uang ke Amir. Karena kalah jumlah, Amir menuruti permintaan tersebut, yakni memberi uang Rp 50 ribu. Beruntung ada polisi yang mengetahui kejadian itu. “Saya dibantu polisi. Uang tersebut akhirnya dikembalikan,” urainya mengenang.

Amir tak menyadari perjalanannya antar-pulau tersebut ternyata menjadi viral di media sosial. Amir baru mengetahui ketika memasuki Kabupaten Salatiga, Jawa Tengah. Begitu memasuki kawasan tersebut, dia disambut para netizen.

Begitu seterusnya di setiap kota, hingga sampai di Jombang Jawa Timur. Dari para relawan itu pula Amir mendapatkan banyak bantuan. Mulai bekal makanan, pengecekan kesehatan, hingga berupa uang. “Seperti di Kertosono kemarin, saya dibawa ke rumah sakit oleh teman-teman relawan untuk cek kesehatan,” sambungnya.

Sesuai rencana, Sabtu (19/1/2019) pagi, pria berkumis ini hendak melanjutkan perjalanan menuju ujung Jawa Timur, yakni Banyuwangi. Ya, perjalanan yang ditempuh Amir semakin dekat, kerinduannya untuk bertemu dengan sang ibunda juga semakin hebat. “Sabtu pagi saya meninggalkan Jombang, meneruskan perjalanan menuju Banyuwangi,” pungkas Amir. [suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar