Gaya Hidup

Tabuh Lesung, Budaya Adiluhung Warga Kampung

Bojonegoro (beritajatim.com) – Jauh hari sebelum pertunjukan dalam rangka ulang tahun kelompok seni tradisional Lesung Merana Jaya, warga bergotongroyong menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari menyiapkan bumbu masak untuk hajatan, panggung, bambu, jerami, lampu dan segala kebutuhan pertunjukan.

Warga Gang Tambangan Satu, Desa Jetak, Kabupaten Bojonegoro itu saling membahu menyiapkan segala keperluan. Sehingga, tercipta suasana kampung yang ramah. Peristiwa Asung Donga Lesung sebagai tema kegiatan tersebut diharapkan agar kesenian tradisional, khususnya kesenian lesung tetap lestari serta kehidupan antarsesama yang guyub rukun.

Kelompok Lesung Merana Jaya sendiri terbentuk pada tahun 2016 lalu. Saat itu, sejumlah ibu-ibu di kampung memiliki kegelisahan untuk ikut berpartisipasi dalam pawai budaya yang digelar secara tahunan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Tema agraris dan tradisi klothekan (nabuh) lesung mendapat juara. Dari situ mereka kemudian terus berlatih.

Hingga, suatu hari kelompok ibu-ibu pemain lesung itu bermain diberbagai event budaya yang dilakukan sejumlah komunitas. “Harapannya dengan bermain lesung sesama warga bisa guyub rukun dan kesenian tradisional bisa tetap ada,” ujar salah seorang pemain lesung, Djamiati, Sabtu (30/3/2019).

Kerukunan warga dan semangat melestarikan kesenian di kampung ini terasa dengan kegiatan aktif masyarakat sekitar. Selain kesenian Lesung, di Gang Satu itu masyarakatnya juga memiliki kelompok seni Hadrah, kelompok musik kontemporer, kelompok Jetak Suka Banjir maupun seni bela diri.

Biasanya, kelompok-kelompok seni tersebut bermain dalam satu panggung saat gelaran tujuh belasan. Bisa dibilang, puncaknya kemarin. Gelaran seni kejadian yang digelar dari sore hingga larut malam. Antusiasme masyarakat cukup kuat dan bertahan hingga layar pertunjukan ditutup.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat selayaknya keluarga antarsatu dengan yang lain. Selain dalam kehidupan keluarga, masyarakat memiliki kebiasaan berkumpul di halaman rumah saat sore bersama tetangga, memancing di sungai Bengawan Solo, dan gotong royong jika salah satu warga ada yang memiliki hajad.

Lesung bukan hanya menjadi sebuah alat yang dulu digunakan sebagai menumbuk padi dan menciptakan bunyi-bunyian sebagai hiburan masyarakat agraris setelah panen. Lebih dari itu, lesung menjadi budaya masyarakat yang menjunjung nilai-nilai budaya adiluhung yang mempererat hubungan sosial masyarakat.

“Setiap kali main lesung bisa lebih lepas dari beban pikiran, bisa guyub dan berkumpul bersama, gotong royong. Harapannya, masyarakat seperti itu terus ,” tambah salah seorang pemain Lesung, Mbak Mamik. [lus/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar