Gaya Hidup

Surabaya Mbois, Wisata Antimainstream

Surabaya (beritajatim.com) -Ratusan Orang Menjelajah Kampung Kapasan Jalan Kaki
Kampung pecinan terakhir di Surabaya, didatangi dalam acara Plesiran Gerakan Suroboyo Mbois rally II “Kapasan Esplorek” pada Sabtu (31/3/2019) pagi.

Setidaknya 200 orang antusias mengikuti wisata antimainstream Surabaya yang mengambil titik kumpul dari SMA Muhammadiyah 1 Surabaya, Jl Kapasan.

Para peserta ini datang dari bermacam latar belakang. Mulai peserta mahasiswa dari Unesa dan Unair, beberapa siswa SMA negeri dan swasta. Bahkan ada rombongan peserta yang datang dari kota Malang. Yang unik adalah rombongan peserta satu kampung dari Kedung Klinter yang datang dipimpin tokoh masyarakatnya, Siswandi.

“Saya suka kegiatan seperti ini, biar warga-warga kampung saya semakin tahu kampung lain, sekaligus paham Surabaya punya banyak cerita yang membanggakan,” tegas Siswandi.

Di luar itu tampak peserta yang datang berkelompok dengan keluarganya. Salah satunya Johan, Dosen Universitas Ciputra, bersama anak-anaknya.

“Kalau ada kegiatan seperti ini lagi, mohon dikabari. Saya ingin mengajak rekan-rekan dosen Ciputra,” harap Johan.

Menurut, penggagas Gerakan Suroboyo Mbois, Kuncarsono Prasetyo, kegiatan ini adalah rangkaian besar agenda gerakan kolaborasi kreatif yang sudah dimulai sejak dua pekan lalu di Kampung Peneleh.

Menurutnya, ada beberapa agenda yang sudah dirancang ke depan. Dua minggu lagi akan dilakukan kompetisi fotografi on the spot. Acara ini juga diawali dengan workshop fotografi yang menghadirkan profesional
Menurutnya, Gerakan ini berupaya mengajak sebanyak-banyaknya keterlibatan partisipasi publik.

Nyatanya ide itu bersambut. Dua kali dilakukan, kegiatan ini tidak mengeluarkan uang sama sekali. Semua pengeluaran dilakukan patungan. Jika di acara sebelumnya, Kuncarsono dan timnya mengelola teknis acara, kali ini pelaksaan ditangani mandiro lleh puluhan siswa SMAM 1.

Warga setempat juga terlibat menjadi pemandu lapangan. Antara lain, tampak Donny Jung, tokoh pendekar Kungfu Kampung Kapasan. Juga pengurus Klenteng Boen Bio, Liem Tiong Yang. Bahkan ketika mendatangi kantor Kapolsek Simokerto, diterima Kapolseknya sendiri, Kompol Masdawati Saragih, SH. Di beberapa rumah, penghuni rumahnya sendiri yang menerangkan sejarah lingkungannya.

Berangkat pukul 08.00 WIB, ratusan peserta jalan kaki menyusuri jalan Kapasan masuk ke Klenteng Boen Bio. Sebuah klenteng Khonghu Chu satu-satunya di Indonesia. Kemudian berjalan ke bekas markas Polisi Seksi 5 yang sekarang menjadi Mapolsek Simokerto.

“Ini adalah bangunan cagar budaya. Berdiri sejak 1920. Menjadi pos Belanda mengawasi warga Tionghoa Kapasan yang dikenal pemberani,” terang Kompol Masdawati

Peserta juga menengok Mansion alias istana milik saudagar Tionghoa terkaya abad 18 yang sekarang menjadi hotel Ganefo. Melihat rumah besar tahun 1878 milik raja rokok, Leim Seng Tee, Kemudian menyusuri kampung padat penduduk hingga tembus di lapangan tengah kampungan Kapasan.

“Jaman Belanda, orang luar menyebut warga Kapasan sebagai Buaya Kapasan. Iki karena penduduk etnis Tionghoa di sini dikenal pemberani anti Belanda,” tegas Donny Jung.

Dia menunjukkan saksi bisu perlawanan anti kolonial. Antara lain, bangunan gudang kayu berusia 200 tahun yang memiliki bunker di dalamnya.

“Jaman perang 10 November ini adalah rumah sakit darurat korban perang,” tegas Jung.

Di depannya ada Balai RW yang waktu itu menjadi dapur umum. Gedung ini berada di depan lapangan yang sempat menjadi tempat konsolidasi dan latihan perang. Laga ini juga menjadi latihan kunghu dan barongsai hingga sekarang. Saat orde beru learang baronggsai ditampilkan, di lapangan ini, kesenian Tiongkok itu tetap dijalankan.

“Kisahnya heriok. Ternyata etnis Tionghoa juga punya peran besar untuk Indonesia merdeka,” kagum Wahyu, salah satu peserta.

Di sisi utara terdapat sekolah TK yang di bangunan bergaya Tionghoa. Pada 1920, ini menjadi sekolah Tiong Hoa Hwee Kwan. Lembaga pendidikan perkumpulan Tionghoa yang digagas para aktifis Kapasan dan Klenteng Boen Bio untuk menghadang kristenisasi oleh Belanda melalui pendidikan. “Pada perang 45, di sini basis tentara berani matiwarga Surabaya etnis Tionghoa dalam Laskar Chungking,” jelas Wildan Maxel, ketua kegiatan.

Apa Reaksi Anda?

Komentar