Gaya Hidup

Serunya Pacuan Kuda Tradisional di Gunung Bromo

Probolinggo (beritajatim.com) – “Kudaku lari gagah berani.. Ayo lari.. Ayo kudaku lari.. Kudaku lari gagah berani.. Ayo lari.. Ayo kudaku lari..” Sepenggal lagu ‘kudaku lari’ yang hits tahun 60-an ini sedikit bisa menggambarkan kegiatan pacuan kuda tradisional di Lautan Pasir, Gunung Bromo, Minggu (30/6/2019) pagi.

Ya, sedikitnya 500 ekor kuda tunggang milik warga Bromo, di kawasan Desa Tengger, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, ini ikut dalam event pacuan kuda tradisional, Kapolres Probolinggo Cup yang pertama.

Kapolres Probolinggo, AKBP Eddwi Kurnianto mengatakan, pacuan kuda tradisional diselenggarakan dalam rangka peringatan HUT Bhayangkara ke 73. Menurutnya, pacuan kuda dibagi dalam tiga kelas. Masing-masing kelas didasarkan tinggi badan kuda.

Kelas A, kuda dengan tinggi badan 139-142 cm, kelas B, tinggi kuda 135-136 cm, dan kelas C, tinggi kuda tak lebih dari 127-134,5 cm. “Ada uang pembinaan untuk para pemenang. Mereka merebutkan juara umum dan trofi Kapolres Cup yang pertama,” ujar Eddwi, disela acara.

Kuda yang sehari-hari disewakan untuk mengangkut wisatawan menuju puncak itu, kini harus beradu ketangkasan dan kecepatan mencapai garis finish. Pun pemilik kuda. Dalam event unik ini, dituntut lihai mengendalikanhewan yang tak pernah dilatih balapan.

Praktis, pacuan kuda kali ini juga melengkapi pesona wisata alam yang ditawarkan Gunung Bromo. Sebab beberapa hari belakangan, Bromo, kembali ramai dikunjungi wisatawan karena turunnya upas atau embun berbentuk bunga es.

Rustam, salah satu peserta mengaku senang bisa ikut dalam ajang pacuan tradisional. Bahkan ia berharap, acara serupa rutin diselenggarakan. “Baru pertama ikut. Senang bisa berkumpul dengan sasama peng-ojek kuda. Saya berharap event seperti ini rutin diadakan setiap tahun,” katanya.

Rustam, juga tak mempersoalkan resiko terjadi kecelakaan dalam pacuan tersebut, seperti terjatuh hingga mengakibatkan patah tulang. Menurutnya, peserta dan warga setempat menganggap hal itu biasa terjadi. Bagi mereka, yang terpenting adalah bisa ikut berlaga dan menjadi pemenang dalam lomba pacuan kuda tradisional.

Sedangkan, Suti, seorang wisatawan lokal, menyatakan terhibur menyaksikan pacu kuda tradisional. “Itu kan bukan kuda-kuda terlatih di arena balap. Bagus dan menghibur. Puas kali ke Bromo (berwisata red),” katanya.

Masih kata Suti, kendati kuda dan jokinya bukan pembalap profesional dan lintasan relatif sederhana sejauh 500 meter, namun gaya kendali para joki dan sepak terjang kuda dalam setiap kelompok tanding, nyaris tak jauh beda dengan balapan kuda profesional. Malahan menurutnya, dalam balapan kuda tradisional itu banyak hal lebih menarik dan menghibur bagi para penontonnya. [eko/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar