Gaya Hidup

Santri Diharap Lebih Peduli Lingkungan

Bojonegoro (beritajatim.com) – Pengasuh Pondok Pesantren Al Rasyid, Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro Alamul Huda berharap dengan pendidikan di pesantren, santri bisa lebih peduli. Peduli terhadap sesama maupun lingkungan sekitar.

Salah satunya yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah produksi sampah. Sampah di Indonesia saat ini kondisinya sudah memprihatinkan dan menjadi perhatian khusus pemerintah untuk menanganinya. “Santri memiliki komitmen menjadi masyarakat yang sadar terhadap lingkungan,” ujarnya, Selasa (26/2/2019).

Dari komitmen untuk menjaga lingkungan dari pencemaran sampah tersebut, Pondok Pesantren Al Rosyid mendapat bantuan fasilitas rekayasa sampah plastik (Resik) yang bisa digunakan mengelola sampah menjadi energi baru yang lebih bermanfaat.

Fasilitas pengelolaan sampah tersebut merupakan hasil dari penggunaan CSR dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) sebagai operator lapangan minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip, Blok Cepu. Pengelolaan sampah tersebut diharapkan bisa meningkatkan kesadaran sanitasi dan praktik hidup bersih dan sehat Warga Pondok.

“Adanya pengolahan sampah yang inovatif dengan harapan menghasilkan produk baru hasil pengolahan sampah yang inovatif,” ujar Direktur Institute Development of Society (IDFoS) Indonesia, Joko Hadi Purnomo yang mendampingi program tersebut.

Dengan adanya program pengelolaan sampah secara inovatif itu sehingga target 95 persen sampah dari pondok terkelola dengan baik. Produksi sampah yang ada di Pondok Pesantren Al Rasyid sendiri perhari bisa mencapai 3 meter kubik.

Sesuai dengan data survei Badan Pusat Statistik tahun 2014 menyebut perilaku bakar sampah dilakukan oleh 51,8 persen orang kota. Lalu 88,5 persen penduduk desa juga melakukan aktivitas ini.

Dari sisi kesehatan, asap bakaran sampah plastik dapat membahayakan. Jika dibakar, sampah tersebut akan menghasilkan asap beracun berbahaya yang terurai di udara sebagai dioksin. Asap dari pembakaran plastik sangat berbahaya jika tercium, antara lain dapat memicu penyakit kanker, hepatitis, pembengkakan hati hingga infeksi saluran napas.

Sementara bagi ibu hamil, terkena asap bakaran plastik dalam jangka waktu tertentu bisa memengaruhi pertumbuhan janin. “Bahaya mengelola sampah secara tidak tepat dapat menjadi ancaman,” ungkapnya. [lus/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar