Gaya Hidup

Mengenal 7 Titik Destinasi Wisata di Tanoker Jember

Jember (beritajatim.com) – Tanoker merupakan kelompok masyarakat di Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, Jawa Timur yang memberikan perhatian kepada anak buruh migran setempat dengan berbagai kegiatan seni, budaya, dan ekonomi lokal.

Kelompok ini awalnya digagas pasangan suami-istri Suporahardjo dan Farha Ciciek yang kemudian menjadi motor gerakan sosial di sana. Mereka belakangan mengembangkan apa yang disebut tujuh titik destinasi wisata perdamaian.

Tujuh titik itu adalah Tanoker, Elisa Rainbow, Ḍâpor Bhâṭèk Kho-Kho, Sekolah Yang-eyang, Sekolah Bok-ebok dan Sekolah Pak-bapak, Pesantren Kopi At-Tanwir dan Pasar Lumpur.

Apa saja titik itu? Berikut gambarannya sebagaimana dilansir Humas Tanoker.

1. Tanoker
Ini merupakan komunitas belajar dan bermain yang bersama berbagai pihak secara terpadu mengembangkan berbagai praktek baik dan nilai luhur kehidupan yang dimulai dengan egrang sebagai media utamanya.

2. Elisa Rainbow
Ini usaha aksesoris manik-manik yang dirintis oleh seorang purna pekerja migran bernama Elisa. Elisa bersama ratusan masyarakat yang mayoritas perempuan di Desa Sumber Lesung telah mengekspor karya ini ke 17 wilayah di dunia. Usaha bersama ini menjadi “pemikat” terus kreatif berkarya untuk menjemput berkah dari desa. Di Elisa Rainbow ini, Sahabat Ledokombo bisa belajar nilai berdaya dan memberdayakan.

3. Ḍâpor Bhâṭèk Kho-Kho
Dengan nilai kemandirian, destinasi wisata ini merupakan upaya inovatif yang dirintis oleh seorang pemuda Dusun Kopang, Desa Slateng bernama Muhammad Khotib. Ia memutuskan untuk pulang kampung dan bercita-cita membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Khotib bersama para perempuan menjadi wirausaha sosial dengan mengembangkan usaha “Batik Egrang” yang terinspirasi dari Tarian Egrang karya anak-anak Ledokombo. Lansia pun digandenganya untuk membuat kemasan kain batik tanpa plasti yang berupa brungso’ terbuat dari anyaman bambu terinspirasi dari penutup mulut sapi pembajak sawah.

Kini, Batik Egrang telah dikukuhkan menjadi motif batik khas Ledokombo dan pengrajinnya dipercaya menjadi wakil kecamatan dan kabupaten untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pameran hingga tingkat nasional. Batik Egrang menjadi pintu masuk terbukanya ruang-ruang dialog.

4. Sekolah Bok-ebok dan Sekolah Pak-bapak di Dusun Paluombo, Desa Sumbersalak.
Kelompok ini dimotori oleh Siti Latifah dan Mohammad Ali yang dilakukan sebagai respon atas sering terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan berbagai permasalahan yang terjadi pada anak-anak, termasuk anak pekerja migran asal wilayah ini. Beberapa persoalan iantaranya pernikahan usia dini, adiktif gadget, obat-obatan terlarang dan konsumsi makanan dan minuman tidak sehat (instan dan junk food).

Sekolah ini bertujuan untuk melakukan pengasuhan gotong-royong dengan mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak melalui pendekatan sosial budaya, dimana masyarakat juga pemerintah menjadi orang tua semua anak, “anakku, anakmu, anak kita bersama”.

Sekolah ini merupakan upaya untuk tumbuh kembang anak terfasilitasi secara optimal dan terjaga dari penjerumusan terhadap perbuatan yang mematikan masa depan anak itu sendiri. Satu bentuk ujung tombak gerakan Pengasuhan Gotong Royong adalah pendidikan bagi para orang tua melalui Sekolah Bok-ebok dan Pak-bapak.

Kini, di wilayah ini terdapat 11 kelompok Sekolah Bok-ebok dengan jumlah partisipan 380 orang dan 1 kelompok Sekolah Pak-bapak dengan jumlah partisipan 25 orang.

5. Sekolah Yang-eyang
Sekolah ini dengan nilai energik dan semangat-menyemangati, sekelompok lansia perempuan tengah mewujudkan keistimewaan cahaya senja di dunia keseharian mereka dari sebuah desa harapan, Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Jember.

Sekolah ini diberi nama SE SEGAR (Sekolah Eyang Sehat Bugar). Mereka belajar ilmu kehidupan yang beragam guna memperbaiki diri, anak-cucu, lingkungan sekitar dan berbakti kepada nusa bangsa. Mereka bergerak merangkai tiga kegiatan: olahraga, olah rasa dan jiwa serta olah pikir dan logika dalam situasi bahagia.

SE SEGAR hadir dari semangat bersama menjadi lansia produktif berkualitas yang melahirkan generasi emas dengan prinsip “cucuku, cucumu, cucu kita bersama”

6. Pesantren Kopi At-Tanwir
Pesantren terwujud dari keberanian, kerja cerdas, kepedulian yang dirintis secara mandiri oleh pasangan suami istri, Kiai Danil dan Ibu Nur Hasanah bersama masyarakat Dusun Sumber Gadung, Desa Slateng.

Sebagai salah satu wilayah penghasil kopi di kaki Gunung Raung, pesantren yang sebagian besar santrinya adalah anak pekerja migran ini secara kreatif mengembangkan berbagai aktivitas sosial budaya dan wirausaha berbasis kopi. Seperti harumnya kopi, pesantren ini semakin harum kiprahnya hingga berbagai kalangan hadir untuk belajar bersama juga kerjasama. Melalui destinasi wisata ini, dapat Sahabat Ledokombo dapat belajar bersama keluarga besar Pesantren Kopi At-Tanwir mengenai nilai keberanian dan kepedulian.

7. Pasar Lumpur
Ini merupakan arena gelar karya dan kreativitas yang berada di tengah persawahan yang dikelilingi dengan sungai dan air terjun dengan mengusung nilai cinta tanah air. Pasar lumpur dihadiri oleh berbagai partisipan dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda dan saling menguatkan untuk berbagi kebahagiaan, mengembangkan solidaritas dan optimisme.

Aneka kuliner sehat, enak, unik dan indah serta kerajinan tangan dapat dinikmati disini. Di arena ini juga tersedia berbagai outbond, dengan khasnya permainan polo lumpur (bermain bola tangan di sepetak sawah berlumpur) dan lain sebagainya. Lumpur merupakan perpaduan tanah dan air. Dari ituah wahana ini dengan segala aktivitasnya dapat menjadi sarana untuk memupuk kecintaan pada tanah air. Melalui pasar lumpur bersama-sama berproses mengelola ruang perjumpaan bahagia-membahagiakan dengan menanamkan kepedulian terhadap lingkungan. [wir/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar