Gaya Hidup

Melihat dari Dekat ‘Last Village’ Kampung Lorong Buangkok Singapura

Rumah Kampung Lorong Buangkok yang masih terbuat kayu dan beratap seng diapit gedung bertingkat

Singapura (beritajatim.com) – Terik matahari sangat menyengat di jalan tidak beraspal selebar 7 meter. Di tiap sudut jalan terlihat beberapa tanaman tebu, bunga matahari, dan mangga yang daunnya bergoyang diterpa angin. Tanaman itu berada di depan rumah yang terbuat dari kayu. Itulah nama Kampung Lorong Buangkok. Satu-satunya desa terakhir (The Last Village) di negara Singapura. Namanya memang mirip dengan ibukota Thailand.

Menurut catatan, sejarah desa tersebut ada sejak 1956 atau 63 tahun lebih tua dari Kemerdekaan Singapura yang baru berusia 56 tahun. Menuju ke Kampung Lorong Buangkok tidak terlalu sulit karena tinggal mencari jalan Ameng Kiong Hong Avenue. Setelah menelusuri jalan tersebut, kurang lebih 5 kilometer.

Di sebelah kiri jalan atau arah timur jalan itu, ada jalan beraspal yang masuk menuju Kampung Lorong Buangkok. Dulunya, kampung atau desa di negara Singapura merupakan daerah yang kerap kali kebanjiran. Tidak heran, orang Singapura pernah menjulukinya ‘Kampung Selak’ (Kampung Kebanjiran). Sebab, saat banjir banyak orang mengangkat kain celananya setinggi orang dewasa.

Kampung itu memiliki lahan kurang lebih dua hektar. Hingga kini, bangunan rumahnya masih tetap asli. Meski masih diapit gedung pencakar langit serta apartemen yang cuma berjarak tidak lebih dari 500 meter. Kendati diapit beberapa bangunan modern, namun hal itu tidak mengganggu suasana Kampung Lorong Buangkok yang masih dilestarikan oleh pemerintah Singapura.

Berkunjung ke Kampung Lorong Buangkok, seolah-olah diajak ke masa lampau. Sehingga, tidak ada hingar bingar musik modern maupun lalu lalang orang seperti di pusat perbelanjaan Orchard Road, dan Syed Alwi Road (Mustafa Centre). Yang ada hanya sejumlah rumah masih dihiasi lampion berwarna merah. Serta hiasan kain dengan warna yang sama dengan tulisan beraksara China. Tanda rumah itu, bercerita tentang latar belakang sang penghuni.

Saat berjalan lagi kurang lebih 25 meter. Ada bangunan surau Al- Firdaus seperti layaknya rumah adat betawi. Dimana, di depan surau tersebut masih dipagari dengan kayu. Surau tersebut masih asli karena ada petunjuk dari kayu dengan arah panah bertuliskan ‘Surau Kampung Lorong Buangkok’.

Sampai di lorong yang sepi dan bernuansa abad lampau. Terlihat deretan rumah kayu beratapkan seng dan suasana perkampungan yang membuat daerah tersebut sebagai destinasi wisata utamanya asal Indonesia. Anehnya, walaupun ada puluhan rumah. Tapi, tidak satupun dijumpai orang berlalu-lalang. Yang ada cuma pintu rumah tertutup rapat.

Usai mengunjungi surau Kampung Lorong Buangkok. Berjalan agak ke timur juga ada rumah tua di selang-seling oleh kebun dengan pepohonan yang lebat. Tentu saja, itu membuat warga yang berkunjung di tempat ini serasa seperti memasuki masa lalu. Hal ini karena Kampung Lorong Buangkok merupakan daerah berbagai suku. Tidak hanya suku melayu dan China. Hal ini dibuktikan di rumah paling pojok tempat terakhir kampung tersebut di halamannya dihiasi dengan patung dewa-dewi dan asap dupa.

Menurut guide Singapore Tourism Board Promotion (STPB), Suhaimi Bin Zaidi (58), penghuni Kampung Lorong Buangkok merupakan warga campuran yang masih bertahan hingga sekarang. Warga yang masih tinggal itu rata-rata berusia 60 hingga 70 tahun ke atas. Pasalnya, anak-anak yang berasal dari kampung itu sudah enggan berkumpul dengan orang tuanya. Mereka lebih memilih tinggal di apartemen.

“Umumnya masih tinggal orang tuanya. Sementara anak-anaknya lebih memilih tinggal ke kota daripada berkumpul dengan orang tuanya,” tutur Suhaimi, Minggu (24/2/2019).

Surau Al Firdaus di Kampung Lorong Buangkok

Kendati tinggal di kota atau apartemen, lanjut Suhaimi, saat hari besar agama sebagian besar dari mereka pulang kampung untuk merayakan hari besar keagamaan. Tidak heran, jika saat Lebaran bagi warga yang beragama Islam serta perayaan Gong Xi Fa Chai bagi yang Tionghoa, terlihat berjejer-jejer mobil mewah seperti Audi, Mazda terbaru serta Jaguar diparkir. Kendaraan-kendaraan itu diparkir di pinggir halaman rumah.

“Biasanya mereka datang ke kampung halamannya bersama keluarga besar, lalu makan-makan bersama. Sehingga, kampung ini ramai. Setelah perayaan agama selesai mereka kembali ke kota lagi, dan Kampung Lorong Buangkok kembali sepi,” ungkapnya.

Setelah menyusuri selama satu jam lebih. Menikmati suasana perkampungan ini, sejenak dibawa ke abad dua puluhan. Kampung Lorong Buangkok merupakan destinasi wisata yang terus digencarkan oleh pemerintah Singapura. Melalui departemen pariwisatanya STPB. Tempat wisata tersebut selalu menjadi kunjungan para turis luar yang berkunjung ke Singapura.

Salah satu wisatawan asal Gresik, Jawa Timur Sholahuddin mengatakan, konon di kampung tersebut juga pernah tinggal masyarakat asal Pulau Bawean yang hidup berdampingan. Ini bukti bahwa masyarakat tersebut dikenal sebagai perantauan. “Masyarakat Bawean memang pernah tinggal di Kampung Lorong Buangkok sejak puluhan tahun lalu,” tandasnya.  [dny/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar