Gaya Hidup

Meja Bundar Jadi Saksi Bisu Kebesaran Jiwa Edhi Setiawan

Edhi Setiawan (sebelah kanan berkaca mata) menemui tamu dari Perancis di 'meja bundar'

Sumenep (beritajatim.com) – Wafatnya seniman, budayawan, sekaligus fotografer handal Sumenep, Edhi Setiawan, meninggalkan duka mendalam bagi banyak kalangan.

Salah satunya, jurnalis senior Sumenep, Moh. Rifai. Wartawan koran harian ini mengaku rutin bertemu dengan Edhi Setiawan, berdiskusi dan berbincang santai tentang banyak hal di kediamannya.

“Rumah Om Edhi di bagian depan ini kan rumah makan. Nah, kalau siang, biasanya kami bertemu untuk makan siang sekaligus ngobrol-ngobrol. Tidak di bagian depan atau di rumah makannya, tetapi kami masuk ke dalam, ke ruang paling ujung, seperti ruang keluarga,” kata Rifai, Kamis (17/10/2019).

Bagi banyak kalangan, bagian belakang rumah Edhi Setiawan menjadi tempat strategis untuk bertukar cerita. Orang menyebutnya dengan meja bundar. Karena di ruangan itu ditempatkan sebuah meja berbentuk bundar, dikelilingi kursi-kursi. Disitulah cerita-cerita mengalir dari setiap pengunjung meja bundar.

“Di meja bundar itu, sastrawan, budayawan, wartawan, dan beberapa kalangan lain ngumpul, diskusi, guyon-guyon, hingga belajar bersama. Lengkap pokoknya di meja bundar itu,” ujar Rifai.

Bagi mantan Ketua PWI ini, sosok Edhi Setiawan bak kamus berjalan, terutama tentang budaya Madura. Referensinya sangat lengkap. “Gagasan-gagasan om Edhi untuk membumikan budaya Madura. Mangkanya beliau sampai membawa topeng dalang ke Eropa dan Jepang. Om Edhi ini ibaratnya seperti kamus berjalan,” ucap Rifai.

Edhi Setiawan, lahir di Sumenep, 13 Januari 1946. Ia merupakan salah satu figur yang konsen mengamati dan merawat seni dan tradisi budaya Madura. Nyaris di sepanjang hidupnya, dia abdikan pada jalan kesenian, kebudayaan dan sosial pada tanah Madura. [tem/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar