Gaya Hidup

HUT Pemkot Mojokerto

Komunitas Rajut Mojokerto Kebanjiran Pesanan Sepatu Rajut

Mojokerto (beritajatim.com) – Komunitas rajut di Kota Mojokerto kebanjiran pesanan sepatu rajut. Sebanyak 300 sepatu dipesan Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto untuk dijadikan souvenir saat Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Mojokerto, 20 Juni mendatang.

Koordinasi rajut Mojokerto, Kristina Puspita (38) mengatakan, ada sebanyak 17 perajut yang diterjunkan untuk menyelesaikan pesanan Pemkot Mojokerto tersebut. “Tidak hanya perajut di Kota Mojokerto saja yang kita libatkan, namun juga dari luar Kota Mojokerto,” ungkapnya, Senin (17/6/2019).

Masih kata Kristina, pasalnya tidak semua perajut di Kota Mojokerto bisa merajut sepatu sehingga ia harus mendatangkan para perajut dari luar Kota Mojokerto. Seperti perajut dari Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Pasuruan.

“Kita bukan satu komunitas karena tidak semua perajut bisa buat rajut sepatu. Sehingga kita harus cari perajut untuk menyelesaikan pesanan, kita cari dari media sosial. Dari sini kita seleksinya, kita cari perjut yang sudah bisa membuat sepatu cover,” katanya.

Pasalnya, lanjut Kristina, jika bisa membuat sepata cover makan dipastikan bisa merajut sepatu. Selain membutuhkan banyak perajut, mereka juga diberikan waktu cukup mepet. Satu minggu sebelum lebaran hingga, Senin (17/6/2019) sore ini.

“Ini kan buat souvenir HUT Pemkot Mojokerto tanggal 20 Juni besok, jadi hari ini harus selesai. Ada 300 pasang sepatu yang dikerjakan, sehingga masing-masing ditarget bisa menyelesaikan satu kodi atau 20 pasang sepatu,” katanya.

Kristina menjelaskan, semakin banyak menghasilkan pesanan sepatu rajut makan para perajut akan mendapatkan lebih banyak penghasilan. Pasalnya, penghasilan para perajut dihitung setiap satu pasang sepatu sehingga saat tidak sesuai target maka dipastikan mendapatkan penghasilan sedikit.

“Memang targetnya, satu perajut satu kodi tapi kalau tidak sesuai atau melebihi tidak ada masalah. Kan fee-nya per satu pasang sepatu. Kalau bahan, baik benang maupun sok tidak ada masalah karena di Mojokerto ada, untuk pengerjaannya bisa dilakukan di rumah masing-masing,” jelasnya.

Setiap Sabtu dan Minggu, mereka akan berkumpul di salah satu rumah perajut yakni di Perumahan Magersari Indah, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Dipilihnya rumah di Jalan Apel tersebut dengan alasan rumah anggota berada di tengah rumah para perajut lainnya.

“Mereka tinggal merajut karena benang dan sol sudah kita belikan. Kesulitan kita karena waktu yang mepet. Satu hari bisa dapat satu sepatu sudah bagus karena biasanya satu sepatu bisa satu minggu. Ditambah lagi, mendekati lebaran banyak pesanan rajut lainnya. Seperti tas,” ujarnya.

Sehingga jika tidak ingin kehilangan pesanan lainnya, mereka harus segera menyelesaikan pesanan sepatu rajut dari Pemkot Mojokerto tersebut. Karena para perajut tersebut memiliki konsumen sendiri. Untuk mengejar waktu, mereka memilih motif Single Crochet.

“Ada banyak motif untuk rajut sepatu tapi kita pilih motif single crochet marena lebih cepat selesai dan hemat benang. Satu gulung benang, untuk ukuran sepatu 36 bisa satu pasang sepatu dan masih ada sisa tapi kalau ukuran lebih panjang bisa lebih dari satu gulung benang,” tuturnya.

Kristina menambahkan, sebelumnya Pemkot Mojokerto memesan 1.000 pasang sepatu rajut. Namun karena waktu dan jumlah perajut yang kurang untuk menyelesaikan pesanan tersebut, sehingga ditolak dan akhirnya Pemkot Mojokerto memesan 300 pasang sepatu.

“Awalnya, 1.000 tapi karena waktu mepet sehingga kita tolak dan akhirnya hanya 300 pasang sepatu. Ini sudah dibagi dengan sepatu kombinasi batik goni. Untuk warna, minta yang netral dan ukuran seri 36-40. Sore ini harus dikumpulkan, kita hanya bisa menyelesaikan 230 pasang sepatu rajut.

Perajut lain, Febri Martha (31) menambahkan, waktu yang mepet membuat para perajut harus berpacu dengan waktu. “Ke mana-mana bisa bawa rajutan untuk menyelesaikan pesanan. Tidur kalau bisa, kita merajut juga,” tambahnya.[tin/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar