Gaya Hidup

KOMPI: Orang Tua Perlu Ajarkan Etika Komunikasi pada Anak

Surabaya (beritajatim.com) – Kondisi kehidupan sosial akhir-akhir ini sering menjadi bahasan menarik. Terlebih lagi terkait topik millenials yang sering disebut hanya ingin hal instan saja.

Wakil Ketua KOMPI Dedy Mahendra mengatakan jika saat ini memang terlalu banyak orang yang menginginkan hal instan. Kondisi itu, menurutnya, mengkhawatirkan jika tidak dipahami secara utuh.

“Zaman ini kan kebanyakan orang mau segalanya serba instan. Iya inilah semangat zaman kita, dan kita perlu sadar akan hal itu, lalu berupaya menjaga agar semangat zaman ini tidak menggerus kemampuan kita berinteraksi sosial,” katanya.

“Pengaruh sosial media yang cukup santer cenderung generasi zaman ini lebih enjoy dengan gawai atau gadget-nya daripada orang di sekitarnya. Kita para orang tua harus lebih memperhatikan pengajaran etika komunikasi dan bergaul kepada putra-putri kita. Jangan sampai kecanduan gawai,” pungkasnya.

Sebelumnya, aktivis Lias Istifhama juga berpendapat serupa. Bahkan, Ia menyebut Indonesia kini mengalami darurat kepekaan sosial. Menurut Lia, kepekaan sosial di era saat ini sangatlah penting. Krisis kepekaan sosial yang terjadi, menurutnya, dapat berujung pada konflik.

“Kenapa? Karena krisis kepekaan sosial bisa menyebabkan mudahnya provokasi muncul dan dapat berujung konflik,” kata wanita yang akrab disapa Ning Lia ini.

Lebih lanjut, aktivis Ning Ceria ini menyebutkan bahwa indikasi krisis kepekaan sosial adalah merajelelanya perundungan atau bullying.

“Tanpa kita memahami perasaan yang dibully, kadang kita tanpa sadar melakukan. Makanya kepekaan sosial ini penting,” ujar keponakan Gubernur Jawa Timur, Khofifah ini.

Lantas bagaimana solusinya, menurut Lia salah satunya yang nyata adalah melalui keluarga. “Kenapa? Kunci pertama membangun modal sosial dan kepekaan sosial adalah keluarga. Bagaimanapun juga hubungan orang tua-anak merupakan kunci,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama, dalam diskusi bertajuk ‘Generasi Millenials Bermodal Sosial’ ini, praktisi sosial Peter J. Manoppo sepakat dengan pendapat Lia. Ia pun memiliki langkah sederhana untuk bisa mengembangkan modal sosial serta kepekaan sosial.

“Kepekaan sosial bisa diawali salam dan senyum dengan di siapapun yang ada di sekitar kita,” katanya.

Di sisi lain, rendahnya kepekaan sosial menurut Peter diawali dengan rendahnya toleransi. “Sekarang ini banyak orang yang menginginkan orang lain untuk menjadi apa yang dia mau. Nggak bisa itu begitu,” pungkasnya.

Sebagai informasi, Komunitas Milenial Peduli Indonesia (KOMPI) Surabaya merupakan organisasi yang menaungi kalangan millenials. Dalam kesempatan berbeda mereka telah melakukan riset terkait bursa Pilwali Surabaya.

Beberapa nama masuk dalam penjaringan. Diantaranya adalah Whisnu Sakti Buana (Wakil Wali Kota Surabaya), Dhimas Anugrah (politisi muda Partai Solidaritas Indonesia), dan Gus Hans (Sekjen Jaringan Kiai Santri Nasional), Eri Cahyadi (Kepala Bappeko Surabaya, dan Lia Istifhama (aktifis). [ifw/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar