Gaya Hidup

Jilbab Brokat dan Bulu, Trend Jilbab Lebaran di Mojokerto

Mojokerto (beritajatim.com) – Jelang hari Raya Idul Fitri, permintaan jilbab di Mojokerto meningkat 100 persen. Jilbab instan model brokat dan bulu menjadi trend jilbab yang paling diminati masyarakat untuk merayakan lebaran bersama keluarga.

Salah satu produsen jilbab di Dusun Kedungpring, Desa Jampirogo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Ressisti Ningrum (31) mengaku, usaha pembuatan jilbab instan dimulai dari awal kulakan hingga akhirnya menjadi produsen jilbab instan.

“Awalnya kulakan tapi sejak 5 tahun lalu, saya mulai produsen jilbab. Saya memanfaatkan media sosial untuk berjualan, awalnya Facebook kemudian ke Instagram. Jadi pelanggan dari luar kota banyak,” ungkapnya, Kamis (23/5/2019).

Masih kata istri dari Ervin (32), seperti sejumlah kota di Jawa Timur. Surabaya, Malang, Banyuwangi, Nganjuk, Kediri dan luar pulau seperti Balikpapan, Kalimantan Timur dan Jambi, Sumatera. Sistem penjualannya ada tiga jenis.

“Sistem distributor partai yakni harus ada stok, agen yakni stok tidak banyak dan reseller bisa ecer. Rata-rata konsumen di saya reseller. Saya dibantu lima karyawan, setiap karyawan bisa menjahit 20 jilbab model yang bisa tiap hari,” katanya.

Namun untuk model yang rumit, satu karyawan hanya bisa menjahit 15 jilbab per hari. Jelang lebaran, permintaan jilbab meningkat hingga 100 persen dibanding hari biasa. Menurutnya, hari biasa masih ada stok namun jelang lebaran tidak ada stok.

“Peningkatannya, satu bulan sebelum puasa banyak agen yang stok. Omzet rata-rata Rp700 ribu hingga Rp1 juta, untuk bahan mulai brokat, bubble crepe, raimon crepe, model bulu dan jersey. Kalau model, banyak hingga ratusan karena hampir tiap hari ada model baru,” tuturnya.

Menurutnya, model jilbab instan referensi di media sosial (medsos). Namun dikombinasi dengan model dan bahan lain sehingga membuat tampilan jilbab miliknya berbeda. Untuk bahan sendiri, ibu dua anak ini mendatangkan dari Surabaya.

“Bahan tidak ada kesulitan, sudah ada langganan di Surabaya. Kalau di Mojokerto ada tapi seri warna kurang komplit. Model bisa dipesan tapi harus grosir. Untuk jilbab bahan jersey lebih banyak diminati untuk oleh-oleh haji, pengajian,” jelasnya.

Di tempatnya, ia membuat jilbab khusus instan, mulai bayi sampai dewasa ada. Sementara jelang hari Raya Idul Fitri, jilbab instan brokat dan bulu banyak dicari karena terkesan mewah dan lagi trend. Namun harga lebih mahal karena bahan baku sudah mahal.

“Untuk warna, warna netral, seperti hitam, mocca, marun, navy, maroon yang paling dicari. Jilbab couple ibu dan anak juga banyak dicari. Harga ditentukan oleh bahan dan model, harga disini mulai Rp45 ribu sampai Rp200 ribu. Yang paling mahal brokat,” urainya.

Untuk mudik lebaran, iapun berbagi tips agar memakai jilbab namun nyaman. Yakni dengan memakai jenis bahan jersey karena tekstur adem ,menyerap keringat, elastis sehingga dipakai lama nyaman. Untuk melihat koleksinya cukup kunjungi Facebook (FB), Ressisti Annisa hijab dan Instagram (IG), Annisahijab_katalog.[tin/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar