Gaya Hidup

Desa Wisata Penglipuran Bali Tak Terpengaruh Virus Corona

Suasana Desa Wisata Penglipuran

Surabaya (beritajatim.com) – Rombongan Pokja Wartawan Pemprov Jatim sebanyak 50 orang melakukan kunjungan di Bali pada 27-29 Januari 2020. Salah satu destinasi yang menarik perhatian wartawan adalah Desa Wisata Penglipuran Bali yang terletak di Kabupaten Bangli, Bali.

Pantauan beritajatim.com di lokasi, ratusan wisatawan domestik (wisdom) dan wisatawan mancanegara (wisman) terlihat sedang menikmati kesejukan udara dan keindahan alam di Desa Wisata Penglipuran Bali ini. Merebaknya Virus Corona yang sudah menelan ratusan korban jiwa dan menjangkiti ribuan orang di berbagai belahan dunia tak mempengaruhi tingkat kunjungan wisatawan di Desa Wisata Penglipuran Bali ini.

“Banyak teman-teman media telpon ke saya dan menanyakan apakah Penglipuran terpengaruh Virus Corona, saya berani pastikan tidak terpengaruh. Buktinya, di sini tetap ramai. Per hari bisa mencapai 800 orang pengunjung. Jika hari libur bisa sampai 4.000 orang,” tegas salah seorang Sesepuh Desa Wisata Penglipuran, I Nengah Moneng kepada beritajatim.com.

Sesepuh Desa Wisata Penglipuran Bali, I Nengah Moneng Saat Diwawancarai Wartawan

Wisman maupun wisdom terlihat asyik menikmati jalan-jalan dan berbelanja oleh-oleh khas Desa Penglipuran, seperti minuman Loh Cemcem. Mereka juga tidak menggunakan masker penutup hidung seperti halnya orang yang takut terpapar Virus Corona.

Desa Wisata Panglipuran adalah desa yang memiliki ciri khas tersendiri. Lokasi masih asri serta terjaga dengan keelokan rumah adat yang masih harus ada dan wajib dilestarikan oleh warga yang menempati. Sehingga tak heran atap rumah di sana masih menggunakan anyaman. Serta dinding tembok yang tidak menggunakan beton.

Selain itu, menurut Moneng, kelebihan Desa Penglipuran mampu melestarikan dan mengonservasi budaya. Contoh budaya yang dimiliki arsitektur, tata ruang dan lay out berdasarkan Filosofi Tri Mandala. “Di desa lain mungkin sudah tidak. Tapi tetap Tri Mandala itu dijadikan sebagai landasan mereka,” ujarnya.

Beritajatim.com berfoto bareng Turis asal Kanada.

Ditanya tentang masalah privasi warga, Moneng menjelaskan ada toleransi dari warganya. “Walau pengorbanan yang kami berikan dalam tanda kutip. Bukan sampai menganggu secara prinsip. Artinya, warga kami welcome, sepanjang yang datang tidak mengganggu kenyamanan kami,” tuturnya.

Jumlah pekarangan atau rumah di Penglipuran sendiri mencapai 77 buah. Di setiap pekarangan rumah memiliki dua bangunan tradisional, yang ada di dapur dan balai. “Ditambah pintu gerbang pintu masuk ini. Dan, juga memiliki tempat suci namanya sanggah,” jelasnya.

Selain itu, yang dilarang keras di Panglipuran adalah adanya pernikahan poligami. Jika sampai ada warga yang ketahuan berpoligami, maka harus siap mendapatkan hukuman adat berupa pengasingan di Sarang Memandu. “Desa Wisata Penglipuran sendiri memiliki penduduk sekitar 1.038 jiwa. Sementara jumlah kepala keluarga ada 230 KK. Setiap tahunnya Desa Wisata Penglipuran bisa meraup pendapatan sampai Rp 40 miliar lebih,” pungkasnya. (tok/kun)

Apa Reaksi Anda?

Komentar