Gaya Hidup

Betro Tempo Doeloe, Makanan hingga Dandanan Jadul Ada di Sini

Salah satu stand yang menjual makanan dan minuman jadul. Foto: misti/beritajatim

Mojokerto (beritajatim.com) – Warga Desa Betro, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto uri-uri budaya Jawa dengan menggelar Betro Tempo Doeloe, Jumat (30/8/2019). Acara yang digelar di lapangan desa setempat ini, juga untuk memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 74.

Setiap RT yang ada diwajibkan untuk menampilkan stand yang berjualan makanan dan minuman jaman dulu alias jadul. Seperti nasi jagung, sayur lompong, bubur struntul, jajanan gempo dan lain sebagainya. Tak hanya makanan jadul, dandanan yang digunakan juga jaman dulu.

Baik penjual maupun masyarakat yang beli dalam Betro Toempo Doloe yang dikemas dalam pasar tradisional tersebut juga memakai pakaian jaman dulu. Seperti kebaya untuk emak-emak dan baju dalang (surjan lurik lengkap dengan blangkon) untuk para bapak. Tak hanya emak-emak dan bapak saja, namun juga anak-anak.

Selain itu, stand yang didirikan untuk menjual makanan dan minuman tersebut juga dibuat dari bambu dengan atap dari rumput alang-alang yang dikeringkan. Stand yang ditampilkan pun menggunakan asesoris penunjang jaman dulu. Seperti penggunaan lampu minyak tanah maupun lampu obor.

Tak lupa penggunaan daun pisang untuk menjual makanan juga bisa ditemui dalam pasar tradisional lengkap dengan asesoris peralatan dari bahan tembikar. Untuk memikat tim juru, tak jarang warga juga menggunakan asesoris lainnya. Seperti sepeda ontel dan lainnya karena kegiatan tradisional juga dilombakan.

Ketua Panitia, Purnomo mengatakan, ada 18 stand yang ada dalam Betro Toempo Doeloe. “Selain menjual makanan dan minuman, juga ada mainan anak tempo dulu. Seperti, enggran dan angkluk. Juga ada pertunjukan Reog Ponorogo,” ungkapnya.

Masih kata Purnomo, kegiatan yang digelar kali kedua ini juga sebelumnya ditampilkan senam bersama warga Desa Betro di lapangan desa setempat. Sebelum digelar pasar tradisional, arak-arakan tumpeng berisi hasil bumi diiringi musik patrol diarak keliling desa.

“Mulai pagi senam dengan menampilkan lagu ciptaan warga sendiri. Untuk senam, setiap dua minggu sekali digelar dengan lokasi giliran per RT, ada doorprize. Peminat cukup banyak, sudah ada sejak enam bulan lebih. Tapi untuk pasar tradisional, baru kali kedua ini,” katanya.

Stand yang ditampilkan warga tersebut juga dilombakan dengan penilaian tampilan warung jadul, pakaian yang dikenakan, makanan yang dijual dan asesoris yang dipakai. Tak hanya itu, warga juga bisa mendapatkan doorprize berupa dua ekor kambing dan furniture berupa meja.

“Warga bisa memberi kupon dengan harga Rp2.500 per kupon, nantinya kupon tersebut akan diundi untuk mendapatkan doorprize. Tujuannya tidak lain memberikan kerukunan dan ke gotongroyong antar warga. Sehingga kita bersyukur dengan keadaan kita sekarang dibanding yang terjadi di masa lampau,” tuturnya.

Purnomo menambahkan, diharapkan masyarakat Desa Betro mengisi kemerdekaan RI dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi diri sendiri, sekitar dan Indonesia. Sehingga menjadi Indonesia berdaulat, bersatu dan merdeka dengan diaplikasikan dengan membuat warung, jualan makanan dan pakaian tempo dulu.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Betro, Sutrikno menambahkan, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka HUT RI dengan uri-uri budaya Jawa. “Karena masyarakat saat ini, dengan budaya hampir lupa dengan kejawaannya. Sehingga kegiatan ini untuk mengingat sejarah,” tegasnya.

Tujuan penting lainnya tidak lain untuk membina ke gotongroyong masyarakat Desa Betro karena nantinya akan menjadikan agenda tahunan warga Desa Betro. Dan semua yang ditampilkan murni tradisional dan makanan bebas dari bahan kimia karena, penggunaan bahan kimia dinilai sangat sulit saat ini. [tin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar