Gaya Hidup

Bateeq Hadir Di TP 6 Dengan Desain Terbaru

Surabaya (beritajatim.com) – Sukses mengembangkan brand Bateeq hingga kini memiliki 95  gerai di seluruh Indonesia. Kini Bateeq kembali memperbanyak gerainya dengan membuka gerai baru di Tunjungan Plaza 6 lantai 2. Targetnya Bateeq bisa dimintai banyak kalangan.

“Dan di Surabaya serta Malang penjualan kami cukup tinggi. Sehingga kami membuka gerai baru lagi disini,” ujar Michelle Tjokrosaputro, CEO dan Creative Director Bateeq.

Tak hanya menggelar private viewing untuk para undangan, dalam pembukaan gerai kali ini Bateeq juga menghadirkan koleksi terbaru Fall Winter 2019/2020 dengan tema “Arung”.

Tema koleksi musim ini terinspirasi dari sejarah perdagangan komersial Indonesia yang pada awalnya dilakukan melalui aktifitas maritim para
pelaut pada zaman dahulu. Seiring bertumbuhnya kebutuhan komoditas pada saat itu mengawali terjadinya perdagangan antar benua. Letak kepulauan Indonesia pada jalur persilangan lalu lintas perdagangan dunia membuat posisinya menjadi strategis dalam perdagangan global dan memperkuat jalur perdagangan maritim di kawasan Asia Tenggara. ‘Arung’ secara harfiah bisa diterjemahkan menjadi “untuk menyeberang” atau “untuk berlayar melalui” yang juga mempunyai gagasan berpindah dari satu tempat ke tempat lain atau menjelajahi laut dalam upaya untuk menemukan daratan baru.

Bateeq menawarkan tiga motif yakni Gatharish, Shindu dan Swarnadwipa . Gatharish berasal dari kata ‘Gata’ dan ‘Harish’. Gata berarti “telah pergi” dan Harish berarti “jalan menuju kebebasan, kebahagiaan, dan ketenangan”.

‘Penggabungan dari keduanya memiliki makna meninggalkan kehidupan yang lama menuju kehidupan baru dengan tujuan yang lebih baik. Motif batik lain yang tergabung didalamnya adalah Kawung Picis dan Mega Mendung,” jelasnya.

Filosofi di balik Gatharish adalah bahwa manusia dapat tumbuh dan berkembang di tempat-tempat baru tanpa melupakan dari mana mereka berasal, serta mampu mengendalikan diri agar peradabannya tetap terjaga. Sindhu memiliki arti lahir dari sungai, pada awalnya peradaban manusia lahir disepanjang hulu sungai namun telah berubah seiring waktu.

“Design Sindhu terinspirasi dari batu-batuan dan pepohonan yang disusun secara abstrak pada bidang desain, sebagai penggambaran dari susunan alam yang saat ini dibuat oleh manusia,” tandasnya.[rea]

Apa Reaksi Anda?

Komentar