Gaya Hidup

Bangun Gapura Berbahan Ramah Lingkungan dan Daur Ulang dari Hasil Jimpitan Receh

Sidoarjo (beritajatim.com) – Setiap bulan Agustus dipastikan sebagian gapura di Indonesia akan terlihat semarak oleh berbagai hiasan dan dekorasinya, namun ada penampilan yang berbeda pada gapura yang berada di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Gambaran fisik gapura tersebut terlihat unik dan menarik, pasalnya gapura itu berbalut bahan yang ramah lingkungan serta menggunakan asesoris dan ornamen yang berasal dari bahan daur ulang. Gapura itu merupakan salah satu peserta Festival Gapura Cinta Negeri yang tepatnya berada di RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo Jatim.

Edi Priyanto, Ketua RT.23 RW.07 Kelurahan Sekardangan, Sidoarjo membenarkan bahwa wilayahnya pada tahun ini mengikuti Festival Gapura Cinta Negeri. “Ini kali kedua mengikuti festival gapura setelah sebelumnya pada tahun 2018 lalu kami telah berhasil menjadi wakil Provinsi Jawa Timur dalam kompetisi Gapura Asian Games hingga tingkat nasional” kata Edi.

“Gapura ini kami dedikasikan untuk 74 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, dengan konsep dibuat menggunakan bahan daur ulang dan ramah lingkungan, sebagaimana semangat dan cita-cita kami sebagai Kampung Edukasi Sampah dalam rangka mendukung dan mewujudkan program “Zero Waste”, ujar Edi yang juga merupakan inisiator Kampung Edukasi Sampah Sidoarjo.

Edi lebih lanjut menjelaskan bahwa pengerjaan gapura tersebut tak lepas dari keterlibatan seluruh warga, hal ini menunjukkan adanya kebersamaan, kepedulian, dedikasi warga untuk ikut mengapresiasi perjuangan pahlawan yang telah mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia. “Gapura tersebut mengandung 3 unsur utama yaitu Lambang Negara “Garuda Pancasila”, Sang saka “Merah Putih” serta logo 74 tahun Kemerdekaan RI bertemakan SDM Unggul Indonesia Maju yang juga ditunjukkan dengan beberapa asesoris dan ornamen yang menggambarkan upaya pengembangan SDM unggul Indonesia”, rinci Edi.

Bahan yang digunakan mayoritas menggunakan bahan ramah lingkungan seperti : tikar pandan, anyaman bambu, kertas dan kayu, juga pemanfatan bahan bekas seperti : botol kosong, koran bekas dan plastik bekas. Konten lokal wisdom juga ditampilkan, diantaranya lukisan bandeng dan udang yang merupakan khas Kabupaten Sidoarjo, juga adanya topeng malangan, kuda lumping, kenthongan serta batik.

Dari mana sumber pendanaan pembuatan gapura tujuh belasan tersebut ? “Kami sebagai Pengurus RT tidak pernah memusingkan soal dana ketika menyelenggarakan kegiatan, karena kami telah memiliki berbagai sumber pendapatan sehingga tidak selalu menggantungkan bantuan dari pihak lain” ungkap Edi. Edi menjelaskan bahwa pendapatan itu diantaranya bersumber dari jimpitan receh, budidaya hidroponik dan pengelolaan sampah seperti penjualan pupuk organik (padat dan cair), penjualan komposter aerob bermotif dan manajemen Bank Sampah. Bahkan saat ini warga sudah tidak lagi membayar iuran dengan uang namun cukup hanya menyetorkan sampah terpilahnya melalui Bank Sampah.

Biaya yang digunakan untuk menghias gapura tersebut terbilang unik dan patut diacungi jempol, karena sama sekali tanpa menarik iuran sepeserpun dari warga. Edi menyebutkan dirinya tidak perlu lagi menarik dana ataupun iuran dari warga, karena pihaknya telah memiliki pundi-pundi dana yang berasal dari jimpitan receh, bahkan setiap bulannya berhasil mengumpulkan jimpitan receh dengan dana terkumpul antara delapan ratus ribu rupiah hingga satu juta rupiah.

“Program jimpitan receh ini telah berjalan sejak dua tahun lalu, mekanismenya uang recehan/pecahan logam dari setiap rumah warga dikumpulkan dalam sebuah toples yang telah kami sediakan dan pengambilan dilakukan setiap Jumat malam oleh warga sambil melakukan ronda keliling saat jaga malam poskamling,” jelasnya.

Pengerjaan gapura cinta negeri sendiri tidak dilakukan dalam waktu yang singkat, namun dilakukan secara bertahap dan pengerjaannyapun secara bersama-sama oleh warga dengan memanfaatkan bahan daur ulang dan ramah lingkungan, tak hanya Bapak-bapak yang terlibat, namun juga ikut serta ibu-ibu, karang taruna hingga anak-anak.

“Pada awalnya kami kerjakan asesoris dan ornamennya terlebih dahulu, setelah selesai selanjutnya baru mengerjakan bangunan utama gapura dan mengingat sebagian besar warga melakukan aktifitas kerja pada siang hari, sehingga kerja bakti pembuatan gapura tersebut dilakukan malam hari,” pungkas Edi.[rea]

Apa Reaksi Anda?

Komentar