Sabtu, 17 Nopember 2018

Agar Sorgum Tak Hanya Jadi Cerita di Meja Makan

Jum'at, 07 September 2018 00:00:56 WIB
Reporter : Yusuf Wibisono
Agar Sorgum Tak Hanya Jadi Cerita di Meja Makan

Jombang (beritajatim.com) - Matahari sedang terik-teriknya di persawahan Desa/Kecamatan Tembelang, Jombang. Tanaman sorgum berderet menghijau di lahan itu. Sesekali tanaman setinggi 1,5 meter tersebut meliuk-meliuk dihempas angin.

Ujung tanaman itu mulai membungkuk pertanda bulir sorgum semakin berisi. Bulir-bulir sorgum sudah mulai tua dan siap untuk dipanen. Ramadlan (43), pemilik lahan, memandang deretan tanaman itu dengan senyum terpulas. Jerih payah selama tiga bulan terbayar sudah.

Tangan kanan pria berkumis ini memegang sabit. Dia kemudian memotong tangkai sorgum berbulir yang sudah menjuntai. Satu per satu secara bergantian, kemudian dimasukkan ke dalam karung. Itulah yang dilakukan Ramadlan setiap hari ketika sorgum siap dituai.

Mengapa? Karena jika hal itu tidak dilakukan, petani asal Kecamatan Tembelang ini bisa gigit jari. Betapa tidak, butiran sorgum yang sudah tua akan jadi santapan empuk kawanan burung pipit. "Alhamdulillah, panen musim ini hasilnya cukup bagus. Satu hektar bisa menghasilkan 5,5 ton," katanya sembari memamerkan sorgum miliknya, Kamis (6/9/2018).

Ramadlan lantas berkisah awal mula dirinya 'jatuh hati' untuk menanam sorgum. Semua berawal dari keprihatinan atas semakin langkanya tanaman tersebut. Sangat jarang petani yang melirik sorgum. Padahal, saat dirinya masih kecil, sorgum cukup akrab di masyarakat. Sorgum dimasak untuk makanan pendamping.

Oleh karena itu, Ramadlan mengansumsikan, sorgum adalah tanaman baru tapi berwajah lama. "Mengapa saya sebut tanaman baru tapi berwajah lama? Karena tanaman ini sudah ada sejak nenek moyang kita. Ada yang menyebut 'jagung canthel' ada juga yang menanaminya 'jagung cakul'," katanya merinci.

Ramadlan mengakui, saat ini jarang sekali petani yang melirik sorgum untuk ditanam sebagai komoditi. Maka tak heran, ketika dirinya nekat menanam 'jagung canthel', banyak yang kaget dan menyebutnya tanaman baru. "Apalagi generasi muda saat ini, tentu tidak tahu tanaman kaya gizi tersebut," ujarnya.

Sorgum hanya jadi cerita di meja makan. Cerita orangtua kepada anak-anaknya. Generasi muda hanya mendengar nama tanaman tersebut, tapi tidak tahu bentuk fisiknya. "Karena itulah akhirnya saya menanam sorgum. Biar generasi kita mengenal sorgum secara nyata," ujar alumni UINSA (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel) Surabaya ini.

Awalnya, warga Desa/Kecamatan Tembelang ini hanya menanam sorgum di beberapa petak sawah. Seiring laju waktu, luasan lahan semakin berkembang. Karena Ramadlan juga mengajak teman-temannya untuk menanam komoditas tersebut. Akan tetapi tidak semua ajakan itu berbuah manis. Kadang juga bertepuk sebelah tangan.

"Di Kecamatan Tembelang, sudah ada lahan sorgum seluas satu hektar. Sebelumnya, tidak ada sama sekali," kata petani yang gemar berorganisasi itu.

Manfaatkan Lahan Nonproduktif

Matahari mulai tergelincir ke arah barat ketika Ramadlan mengemasi barang-barangnya di sawah. Sorgum yang baru saja dipanen ia masukkan ke dalam karung plastik berukuran besar. Hasil panen itu kemudian dinaikkan ke atas jok motor untuk dibawa pulang.

Dari kejauhan kawanan burung bibit terlihat terbang merendah menyambar bulir sorgum yang belum sempat dipanen. Burung-burung itu seolah berpesta pora karena sang pemilik lahan kembali ke rumah. "Memang, selain tikus, hama tanaman sorgum adalah burung," kata Ramadlan.

Disinggung lahan yang cocok ditanami sorgum, Ramadlan menjelaskan, lahan pertanian berkarakter kering sangat cocok untuk tanaman tersebut. Pasalnya, sorgum dalam pertumbuhannya tidak membutuhkan banyak air. Walhasil, di sekitar desanya, Ramadlan menemukan lahan berkarakter seperti itu.

Namun demikian, sorgum hanya digunakan untuk tanaman selingan. Artinya, dalam satu tahun biasanya petani melakukan tiga kali tanam. Yakni, padi sebanyak dua kali musim, kemudian jagung atau kedelai satu kali. 

Nah, musim ketiga atau saat kemarau itulah yang dimanfaatkan Ramadlan menanam sorgum. Walhasil, di sekitar jembatan Sungai Konto Tembelang terdapat lahan yang biasanya libur tanam selama satu musim. Karena lahan tersebut cukup kering. Nah, lahan itulah yang ia manfaatkan.

Ramadlan kemudian merinci, sorgum seluas satu hektar membutuhkan biaya sekitar Rp 11 juta. Perhitungan tersebut mulai proses pengolahan tanah, tanam, hingga panen. Biaya tersebut sudah mencakup bibit, pupuk, upah buruh, hingga sewa lahan. Sementara, satu hektar lahan tersebut membutuhkan bibit sorgum sebanyak 7 hingga 8 kilogram. 

"Tanamannya tidak manja. Juga tidak rakus air. Setelah tanam, kita hanya melakukan pemupukan dua sampai tiga kali. Diselingi dangir (membalik tanah). Setelah itu kita biarkan hingga panen atau tiga bulan," katanya.

Ramadlan melanjutkan, lahan seluas satu hektar bisa menghasilkan tujuh ton sorgum saat panen. Namun untuk bisa dikonsumsi, sorgum yang baru dipanen tersebut harus dibersihkan dulu kulitnya, yakni diselep.

"Harga di pasaran Rp 4 ribu per kilogram. Itu untuk sorgum yang belum diselep atau belum digiling menggunakan huller. Sedangkan sorgum yang siap konsumsi atau sudah diproses dan siap masak harganya Rp 20 ribu per kilogram," ujar Ramadlan sembari menunjukkan sorgum yang dimaksud.

Terbentur Kendala

Meski budidaya sorgum cukup menjanjikan, namun Ramadlan mengakui hal itu bukan tanpa kendala. Dia mencatat ada dua persoalan mesti dihadapi. Pertama, masalah pasca-panen atau penjualan, kedua soal peralatan atau teknologi.

Ramadlan mengungkapkan, selama ini dirinya hanya mengandalkan penjualan secara eceran. Dalam arti, hanya menunggu pesanan dari konsumen. Itu pun jumlahnya sangat kecil. "Penjualannya masih manual. Belum ada kerjasama dengan pihak ketiga atau pembelian dengan jumlah besar," lanjutnya.

Bagaimana soal peralatan? Menurut Ramadlan, sebenarnya petani sorgum membutuhkan mesin giling. Yakni, mesin untuk mengupas kulit sorgum. Selama ini petani masih menggunakan mesin giling yang biasa digunakan untuk menyelep gabah/padi. Tentu saja, hasilnya tak bisa maksimal. Justru sebaliknya, butiran sorgum banyak yang remuk.

"Sementara dua itu kendala yang kita hadapi. Kita masih menggunakan mesin giling padi. Sehingga (berasnya) sorgum banyak yang remuk. Kedua soal penjualan hasil panen. Ini yang sedang kita carikan solusinya," kata warga Tembelang ini.

Ketika matahari kembali ke peraduannya, Ramadlan sudah berada di rumah. Diantara rasa lelah setelah seharian di sawah, dia tetap berpikir agar sorgum (kembali) menjadi primadona bagi petani. Dengan begitu, bahan pangan alternatif tersebut tidak sekedar menjadi cerita usang di atas meja makan. [suf]

Komentar

?>