Rabu, 22 Agustus 2018

Sujiwo Tejo: Perokok Itu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Selasa, 07 Agustus 2018 23:41:51 WIB
Reporter : Renni Susilawati
Sujiwo Tejo: Perokok Itu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Surabaya (beritajatim.com) - Tarif cukai rokok setiap tahun selalu naik serta adanya kebijakan simplifikasi tarif membuat Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Jatim memohon kepada pemerintah untuk tidak "memaksa" penerapannya 2019 mendatang.

Pasalnya, kondisi industri saat ini terus merosot dan simplifikasi ini justru akan semakin membuat pengusaha rokok mikro hingga kecil akan gulung tikar.

Menurut Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Surabaya, Sulami Bahar, simplifikasi ini nantinya akan menyamakan tarif cukai rokok sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) pada 2020. Dan tak ada lagi golongan 1-B yang biasanya untuk industri mikro, dan penggantinya akan naik jadi 1-A.

"Kalau kenaikan tarif dan penyederhanaan layer dilakukan, maka sama saja industri mikro mengalami kenaikan tarif ganda. Sudah grade layernya naik, tarif cukainya juga naik. Jelas industri rokok mikro tidak akan sanggup," jelasnya dalam seminar Prospek dan Tantangan Dalam Pertembakauan: Kebijakan Cukai Hasil Tembakau (domestik dan internasional) Dan Dampak Ekonomi Tenaga Kerja" yang digelar oleh Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair), Selasa (7/8/2018).

Dikatakan, saat ini produksi rokok terus merosot jika tahun 2016 lalu produksi rokok di Jatim sekitar 210,9 miliar batang dengan 382 pabrik di tahun 2017 produksinya menurun menjadi 204 miliar batang dan pabriknya tinggal 330 perusahaan mulai dari mikro hingga besar.

"Semuanya tak terlepas dari biaya cukai yang besar hingga tekanan dari dunia internasional melalui WHO yang menginginkan pembatasan rokok. Padahal jika masyarakat tahu, kalau industri rokok maju maka yang untung negara, sebab 65 persen dari harga rokok saat ini adalah biaya untuk cukai rokok. Sisanya 35 persen baru untuk proses produksi produk rokok," beber Sulami.

Hal yang sama juga diamini oleh Sujiwo Tejo, budayawan tanah air yang ikut jadi panelis dalam seminar yang digelar di FEB Unair. Menurut Tejo, perokok yang ada saat ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Sebab mereka berjasa memperbesar pendapatan negara melalui cukai tetapi tidak meminta pamrih apapun apalagi pengembalian uang dari cukai.

"Sekarang guru sudah ada tanda jasanya lewat sertifikasi. Nah perokok Khan tidak. Menurut saya jika pemerintah terus mempersulit industri rokok, ya jangan nikmati juga hasil cukainya yang besar dari rokok," kritik budayawan nyentrik itu. [rea/suf]

Tag : tembakau

Komentar

?>