Jum'at, 20 Juli 2018

Ada 35 Jenis Olahan dari Pabrik Cokelat Mandiri Milik Mulyono

Selasa, 10 Juli 2018 09:25:01 WIB
Reporter : Misti P.
Ada 35 Jenis Olahan dari Pabrik Cokelat Mandiri Milik Mulyono

Mojokerto (beritajatim.com) - Ada 35 jenis cokelat olahan dari pabrik pengolahan kakao mandiri milik Mulyono (52) warga Desa Desa Randu Genengan, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto. Cokelat olahan dengan nama Cokelat Mojopahit tersebut menjadi oleh-oleh Wisata Desa BMJ.

Meski mesin di pabrik miliknya hanya berkapasitas 2 kuintal, namun dari pabrik yang berada di satu komplek dengan Wisata Desa BMJ Mojopahit ini menghasilkan 35 jenis cokelat olahan. Para pengunjung Wisata Desa BMJ juga dapat melihat langsung prosesnya melalui pabrik yang didesain menggunakan kaca.

"Ini termasuk hasil produk akhir dari galeri cokelat. Ini proses terakhirnya program tanam, perawatan dan produksi. Ada kelompok tani Mulyojati embrio kakao 20 poktan dan punya anggota sebanyak 1.337 petani kakao mulai kecil sampai hektaran dengan luas lahan 450 hektar," ungkapnya, Selasa (10/7/2018).

Pabrik cokelat mandiri miliknya didirikan untuk mendukung program pemerintah hulu hilir dari Dinas Perkebunan. Perhari pabriknya memproduksi 2 kuintal kakao karena kapasitas mesin yang kurang. Sementara dari luas lahan tersebut menghasilkan 34 ton kakao per bulan.

"Pengolahan cokelat di pabrik mandiri dengan menggunakan kakao yang sudah difermentasi sebelumnya. Yakni pasca dipanen, tanaman kakao yang sudah dipisah didiamkan selama dua hari untuk menghasilkan kakao fermentasi. Produk kakao fermentasi dari diolah menjadi cokelat kualitas terbaik bermerek cokelat Mojopahit," ujarnya.

Nama Cokelat Mojopahit, lanjut Mulyono, karena pabrik pengolahan ada di bumi Majapahit. Dengan hasil olahan, ada yang serbuk dan coklat siap makan untuk oleh-oleh. Untuk harga mulai Rp5 ribu hingga Rp35 ribu per batang.

Tak hanya coklat batangan, ada 35 jenis coklat olahan lainnya. "Pemasaran melayani obyek kunjungan wisata, hotel, cafe dan sekolah di wilayah Mojokerto karena masih terbatasnya mesin penggolahan kakao. Sehingga hanya melayani Mojokerto saja," tuturnya.

Untuk prosesnya, pasca panen, kakao fermentasi masuk pabrik untuk disangrai, digiling dan memisahkan bubuk dan minyak hingga menghasilkan bubuk cokelat. Sementara minyak coklat digunakan untuk campuran pembuatan cokelat milk. Hasilnya cukup berpengaruh karena lebih awet dan tidak meninggalkan sisa.

"Biasanya pakai minyak nabati, hasilnya mudah tengik dan keras, beda kalau menggunakan minyak cokelat. Dari 20 kg biji coklat diproses hilang kulit 4 kg dan menghasilkan 16 kg cokelat murni. Yang masuk pabrik sini, kakao dari Mojokerto 90 persen, 10 persen dari Jombang," jelasnya.

Mulyonopun memberikan pembinaan kepada kelompok tani agar menghasilkan kakao dengan kualitas terbaik. Mulyono berharap bisa menambah mesin pengolahan karena banyaknya pasokan kakao. Karena pabrik miliknya baru dua bulan uji coba, respon masyarakat cukup bagus.

"Kemampuan pabrik cuma 2 kuintal, padahal sebulan ada 34 ton kakao dari petani binaan kita. Solusi ya pabrik harus besar, ini baru uji coba dua bulan respon masyarakat cukup bagus. Setiap produk laris karena pengunjung ke WD selalu cari oleh-oleh disini, nantinya kita harapkan di tiap kecamatan ada galeri Cokelat Mojopahit," harapnya. [tin/suf]

Tag : kakao

Komentar

?>