Senin, 22 Oktober 2018

Satwa Liar di Gunung Tumpang Pitu Hasil Jepretan Karyawan BSI

Rabu, 23 Mei 2018 03:53:58 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Satwa Liar di Gunung Tumpang Pitu Hasil Jepretan Karyawan BSI

Banyuwangi (beritajatim.com)--Gunung Tumpang Pitu tidak hanya kaya mineral emas, perak maupun tembaga. Ternyata, lokasi yang kini menjadi daerah tambang terletak di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, masih menyimpan satwa yang dilindungi.

Keberadaan fauna tersebut terekam mata lensa karyawan Divisi Lingkungan, Superintendent Departemen Environmental, perusahaan tambang emas PT Bumi Suksesindo (BSI).

Tercatat ada 149 jenis satwa yang menghuni Pegunungan Tumpang Pitu. Jumlah itu yang terjepret sepanjang tahun 2017 – 2018. Fauna seperti rusa, babi hutan, elang dan kuntul terdapat di pegunungan yang dekat dengan Pantai Pulau Merah, salah satu destinasi wisata unggulan di Banyuwangi selatan itu.

Adalah Iwa Muliawan dan Setiawan merupakan dua karyawan PT BSI sebagai pelopornya. Mereka terlibat langsung dan rutin melakukan monitoring pengamatan terhadap keberadaan satwa.

Setiawan menjelaskan, pengamatan yang dilakukan sekaligus monitoring pemantauan lingkungan yang ada di dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perusahaan tersebut.

Periode pengamatan dilakukan tiap bulan hingga triwulan. Temuan itu kemudian dibukukan dan sedang dalam proses cetak.

“Data dan foto yang terhimpun kami bukukan agar dapat dinikmati kalangan pelajar maupun masyarakat umum. Semoga itu bermanfaat bagi tambahan buku panduan di kalangan pendidikan,” ujar Setiawan saat peluncuran dan bedah buku bertajuk Satwa Liar Dioperasi Tujuh Bukit PT BSI, Selasa (22/5/2018).

Menurut Setiawan, dalam proses pengamatan yang dijalankan memang tak berjalan mudah. Saat pengamatan berlangsung, hewan yang ditemui di dalam hutan difoto dan didata. Data tersebut menjadi tambahan catatan jumlah satwa yang menghuni hutan di sekitar wilayah pertambangan mineral PT BSI.

“Pernah ada satwa yang kita temui sedang sakit. Hewan itu langsung kita lakukan upaya pengobatan di rumah sakit yang ditunjuk,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Teknik Tambang PT BSI, Ismed Siregar mengaku pengamatan satwa menjadi langkah bijak yang dilakukan oleh divisi lingkungan.

"Saat pertama kali mereka mengajukan ini untuk menjadi buku kami memberikan lampu hijau. Kami berpikir dalam mengelola pertambangan ini susah kalau tidak melakukan dengan baik dan harus mengetahui dampak lingkungan. Saya rasa aneka ragam satwa di Tumpang Pitu juga menjadi bagian dari catatan kami. Buku ini edisi pertama dan kami berharap ada edisi berikutnya," katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuwangi, Husnul Chotimah, memberikan apresiasi mengenai inisiasi yang dilakukan PT BSI.

Perusahaan tambang yang dikelola oleh perusahaan dalam negeri ini ternyata melakukan pengembangan program dengan melakukan pengamatan serta perlindungan terhadap satwa.

“Ini menarik. Kami sudah biasa disuguhi paparan tentang sistem penambangan. Dan PT BSI tidak hanya berkutat dengan urusan CSR (Coorporate Social Responshibility). Perusahaan ini ternyata konsen juga dengan urusan lingkungan hidup,” katanya.

Husnul mengaku penasaran fauna apa saja yang berhasil terekam mata lensa karyawan PT BSI yang kemudian dibukukan. Dia bahkan berharap agar program ini terus dikembangkan sehingga lebih banyak menemukan flora maupun fauna yang ada di Tumpang Pitu.

“Sekarang mungkin baru fauna. Barangkali ke depan bisa dikembangkan ke pengamatan floranya. Kami juga ingin tahu vegetasi tumbuhan yang ada di sana,” ujarnya.

Tahap awal, buku karya Iwa dan Wawan (panggilan Iwa Muliawan dan Setiawan) akan dicetak 500 eksemplar. Ratusan buku itu akan didonasikan PT BSI ke sejumlah sekolah di semua jenjang pendidikan sebagai tambahan khasanah bacaan para siswa.

Acara bedah buku ini, diikuti oleh sejumlah dosen, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Banyuwangi serta komunitas pecinta hewan di Bumi Blambangan. [rin/air]

Tag : bsi

Komentar

?>