Senin, 24 September 2018
Dibutuhakn Wartawan Kriminal untuk ditempatkan di Surabaya Kirim Lamaran ke beritajatim@gmail.com

Cara Petani Banyuwangi Bikin Cabai Rawit Makin Pedas

Minggu, 18 Maret 2018 18:23:11 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Cara Petani Banyuwangi Bikin Cabai Rawit Makin Pedas

‎Banyuwangi (beritajatim.com) - Para petani cabai di Kecamatan Glenmore memiliki cara agar mendapat hasil yang memuaskan. Mereka tahu bagaimana agar tak sekedar hanya menanam cabai laykanya petani lainnya.

Bahkan, hingga hasil yang didapat mampu meraup laba cukup besar. Caranya, cukup mudah hanya berkat manajemen waktu tanam yang baik. Sehingga, petani menuai untung dari peningkatan harga cabai yang berkisar Rp60.000 per kilogram.

Imam Badrus, Ketua Kelompok Tani Ketileng Makmur, Sumbergondo, Kecamatan Glenmore, mengatakan, biaya produksi mulai pupuk hingga perawatan, per pohon ‎menghabiskan Rp 5.000. 

Satu pohon bisa menghasilkan 5-6 ons atau setengah kilogram cabai. "Satu hektare lahan di desa ini 18.000 pohon cabai. Beda dengan desa sentra cabai lainnya di Banyuwangi, seperti Wongsorejo, yang mungkin lebih banyak karena jarak antar pohon lebih rapat," kata Badrus, Minggu (18/3/2018)

Badrus menyebut, biaya produksi satu hektare lahan cabai rata-rata Rp 90 juta. Dengan harga jual petani Rp 50.000 per kilogram, satu pohon cabai bisa menghasilkan Rp 25.000. "Apabila 18.000 pohon cabai bisa menghasilkan Rp 450 juta," ujarnya.

Jika dihitung, keuntungan pemilik lahan cabai berlipat-lipat. Apabila dipotong biaya produksi, keuntungannya bisa mencapai Rp 360 juta per hektare. "Kalau soal keuntungan, ya banyak banget. Alhamdulilah," ungkapnya. 

Badrus mengatakan, bersama Dinas Pertanian Banyuwangi, kelompoknya mencari celah saat menanam cabai. Panen bulan ini merupakan hasil tanam pada September hingga Oktober tahun lalu. 

"Kami atur waktu perkiraan panennya agar dapat harga terbaik. Misalnya yang panen sekarang ini, adalah hasil kami tanam Agustus-Oktober 2017. Alhamdulillah sesuai perkiraan harga sekarang sangat baik. Intinya, petani jangan latah, tapi harus tahu di mana celah waktunya," tambah Badrus. 

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas meminta agar manajemen penanaman tersebut dijaga. Siklus harga cabai sudah diketahui, sehingga saat menanam bisa diperkirakan masa panen saat harga mahal. "Saya rasa manajemen di kelompok tani sudah bagus," kata Anas. 

Anas mengatakan masa panen di Banyuwangi sudah sepanjang tahun. Karena banyak daerah di Banyuwangi merupakan penghasil cabai, terutama Wongsorejo yang merupakan daerah sentra cabai Banyuwangi sekaligus nasional.

"Hanya saja karakteristik tiap daerah berbeda. Di Wongsorejo bisa panen sepanjang tahun, berbeda dengan di sini. Jadi kita harus benar-benar atur," kata Anas. 

Kepala Dinas Pertanian Banyuwangi, Arief Setiawan, mengatakan, cabai merupakan salah satu komoditas penyumbang inflasi. 

"Pemerintah daerah telah menandatangani kerja sama dengan kelompok tani, salah satunya di kawasan selatan Banyuwangi untuk turut mengendalikan inflasi," kata Arief.

Bentuk kerja samanya, lanjut Arief, pemerintah daerah memberikan bantuan pertanian, lalu petani diminta menjual sebagian hasil panennya pada pemerintah untuk keperluan cadangan operasi pasar dengan harga yang telah disepakati bersama. Kesepakatan harga tersebut ditandatangai kedua belah pihak sebelum masa tanam dimulai.

“Tentunya harga yang kami tawarkan tidak akan merugikan petani, sudah menguntungkan petani. Jadi petani tetap untung, harga pasar juga tetap bisa dikendalikan,” terang Arief. (rin/ted)

Tag : banyuwangi

Komentar

?>