Jum'at, 14 Desember 2018
Dibutuhkan Wartawan untuk wilayah Nganjuk Syarat: 1.Pendidikan S1 (semua jurusan) 2. Usia Maksimal 28 Tahun 3. Memiliki SIM C 4. Punya Pengalaman Jurnalistik 5. Punya Pengalaman Organisasi Kirim Lamaran dan CV ke beritajatim@gmail.com

Hutang menggunung, APBN Berdarah-darah

Sabtu, 17 Maret 2018 20:00:59 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Hutang menggunung, APBN Berdarah-darah
Ekonom UI Jakarta, Faisal Basri.

Jakarta--Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Faisal Basri menilai, pemerintah mampu membayar utangnya yang mencapai Rp4.034,8 triliun. Hanya saja, APBN bisa bleeding alias berdarah-darah.

Faisal bilang, bunga atau imbal hasil (return) dari surat utang negara yang ditawarkan kepada investor, tergolong lumayan tinggi.

Walhasil, beban bunga yang harus ditanggung pemerintah juga besar. "Kita masih mampu bayar nggak? Masih mampu tapi persentase APBN yang dialokasikan untuk bayar utang makin naik, karena kita semakin banyak berutang, menawarkan lebih banyak (surat utang), orang akan ambil surat utang kita, kalau bunga tinggi kan maka beban pembayaran bunga dari waktu ke waktu naik," kata Faisal di Jakarta, Sabtu (17/3/2018).

Faisal lantas membandingkan utang Indonesia dengan Jepang dan Amerika Serikat (AS). Memang, kata Faisal, jika patokannya rasio utang terhadap PDB (Produk Domestik Bruto), Indonesia tergolong rendah. Yakni berada di kisaran 28%-29%.

Namun, lanjut Faisal, baik Jepang maupun AS memiliki beban bunga yang relatif rendah ketimbang Indonesia. Apalagi jika nilai tukar rupiah terhadap US$ terus merosot, semakin berat beban keuangan negara.

"Indonesia utangnya itu net PDB rasio masih 30% beda sama Jepang yang sudah 200%, tapi beban bunga di Jepang utangnya secara persentase jauh lebih rendah dari kita. AS juga 100%, tapi beban utangnya lebih rendah dari kita," kata Faisal.

Jika beban bunga utang terus meningkat ini, lanjut Faisal, tentunya berdampak kepada APBN. Ibarat tubuh, APBN bisa mengalami bleeding atau berdarah-darah.

Lantaran harus membayar cicilan dan bunga utang yang besar."Jadi betul pemerintah masih punya keleluasaan untuk bayar cicilan dan bunga, tapi memang makin membebani (APBN)," katanya.

Akibatnya, porsi anggaran dalam APBN bisa saja makin lama makin kecil, semisal porsi anggaran kesehatan bisa dipotong lantaran untuk membayar cicilan dan bunga utang yang sudah jatuh tempo.

Apalagi dengan saat ini kondisi anggaran APBN yang boleh dibilang terbatas. "Kalau cicilan dan bunga itu naik, maka uang anggaran untuk kesehatan makin turun, pendidikan juga makin turun, kesehatan dan pendidikan bisa diundur, cicilan dan bunga utang harus dibayar tepat waktu. Maka utang akan semakin membebani," tegas Faisal. [air]

Sumber : Inilah.com
Tag : hutang

Komentar

?>