Senin, 23 Juli 2018

Aparat Diminta Bijak Pilah Pelaku dan Korban Investasi Ponzi

Jum'at, 23 Februari 2018 21:05:57 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Aparat Diminta Bijak Pilah Pelaku dan Korban Investasi Ponzi
Foto ilustrasi

Jember (beritajatim.com) - Aparat penegak hukum diminta bijak dalam memilah antara pelaku dan korban investasi bodong. Masyarakat pun diminta lebih kritis melihat tawaran investasi.

Komisioner Otoritas Jasa Keuangan RI Ahmad Hidayat mengatakan, investasi bodong biasanya menggunakan skema ponzi. "Uang investasi anggota yang (bergabung) terakhir digunakan untuk membayar kewajiban kepada investor sebelumnya," katanya, sebelum acara diskusi publik nasional tentang pengelolaan investasi keuangan yang legal dan logis, yang digelar Unit Kajian Islam STIE Mandala Jember dan OJK, di Hotel Panorama, Jumat (23/2/2018).

Anggota II Badan Pemeriksa Keuangan RI Agus Joko Pramono menyebut bisnis investasi dengan skema ponzi lucu. "Tekanan investor awal jadi problem. Sebenarnya investor ini korban. Tapi agar uangnya kembali, dia menambah korban baru, mengajak yang lain. Saya minta aparat bijaksana dalam memilah pelaku dan korban. Kadang kalau dia di level berapa, kita pikir dia pelaku. Padahal dia bagian dari korban," katanya.

Sebenarnya, mengenal investasi bodong cukup mudah. "Kalau return terlalu tinggi dan hampir tidak masuk akal, ini patut dipertanyakan. Masyarakat perlu ekstra hati-hati dan mempertanyakan bagaimana dia (lembaga jasa investasi) memutar uang untuk membayar kita (investor) dengan tingkat bunga tinggi," kata Hidayat.

Hidayat juga meminta agar masyarakat tidak mudah percaya dengan orang yang agresif menawarkan janji investasi. "Saya sarankan menginvestasikan uang di lembaga jasa keuangan yang sah," katanya.

Agus memahami jika tawaran berinvestasi sulit ditolak jika yang menawarkan adalah teman sejawat atau tokoh masyarakat yang bahkan berani menjaminkan diri mereka. "Kalau ada jaminan pribadi, ya silakan saja pakai tertulis," katanya.

Investasi bodong sudah menyebabkan kerugian di atas Rp 100 triliun. Hidayat berharap investasi bodong ini bisa ditekan melalui edukasi terhadap masyarakat secara terus-menerus. "Menurut survei kami, di Indonesia meski tingkat inklusi (keuangan) tinggi sekitar 68 persen, masyarakat sudah banyak bertransanksi dengan lembaga jasa keuangan, tapi tingkat literasinya masih rendah, sekitar 27 persen," katanya. Satgas Waspada Investasi di daerah menjadi kunci untuk mencegah merebaknya investasi bodong. [wir/but]

Tag : investasi

Komentar

?>