Sabtu, 24 Februari 2018

Luncurkan Dua Produk Baru

Standart Chartered Genjot Pertumbuhan 20 Persen

Rabu, 14 Februari 2018 08:11:41 WIB
Reporter : Wahyu Hestiningdiah
Standart Chartered Genjot Pertumbuhan 20 Persen

Surabaya (beritajatim.com) - Untuk mendorong ekonomi lebih tinggi di 2018, Chief Economist Standard Chartered Bank Indonesia, Aldian Taloputra mengatakan, ada tiga katalis yang bisa menjadi pendorong yaitu konsumsi swasta yang akan membaik, investasi yang meningkat, serta dukungan pasar global yang tumbuh.

"Konsumsi swasta yang membaik didukung dengan usaha pemerintah yang mampu mengendalikan inflasi. Seperti anggaran subsidi yang tetap tidak turun, dan tidak adanya rencana kenaikan tarif listrik maupun bahan bakar minyak di tengah kecenderungan harga minyak global yang naik," kata Aldian, disela kegiatan seminar Standard Chartered Wealth on Wealth di Surabaya, Rabu (14/2/2018).

Maka adanya tiga katalis itu, Aldian optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2018 akan lebih tinggi dibanding 2017. Bila 2017 tercatat 5,1 persen, di tahun ini diprediksi menjadi 5,2 persen (year on year). Bahkan pada 2019 diprediksi bisa meningkat lagi 5,4 persen.

Indikator lainnya, meliputi belanja negara yang ekspansi dengan meningkatnya anggaran belanja 2018 meningkat terutama untuk perlindungan sosial. Dari Rp 1.343,1 triliun naik menjadi Rp 1,454,5 triliun. Anggaran perlindungan sosial dari Rp 228,3 triliun di tahun 2017 menjadi Rp 283,8 triliun di tahun ini.

Bagi Standard Chatered Bank Indonesia, kondisi ini membuat pihaknya juga agresif dalam memasarkan produknya. Di 2018, ada dua produk yang diluncurkan untuk meningkatnya jumlah nasabah maupun pertumbuhan bisnis wealth management dari Standard Chatered.

Bambang Simarno, Executive Director & Head Wealth Management Standard Chartered Bank Indonesia, mengatakan pihaknya menyiapkan dua produk baru wealth management yang dikenalkan dalam kegiatan seminar di beberapa kota. "Seperti dalam seminar di Surabaya ini, kami ada dua produk baru. Pertama Bahana Dana Ekuitas Prima (DEP) dan produk unit link asuransi perlindungan jiwa dan investasi," jelas Bambang.

Untuk DEP merupakan reksa dana saham dengan strategi indeks yang menawarkan nilai kompetitif dan diversifikasi optimal. DEP memberikan kesempatan kepada nasabah dengan profil resiko investasi agresif untuk berinvestasi pada 30 saham anggota IDX 30. "Yaitu 30 saham selektif yang dipilih dari LQ45 dengan kriteria likuiditas tinggi dan kinerja terbaik," jelas Bambang.

Bank meluncurkan reksa dana strategi indeks karena faktanya dalam lima tahun terakhir (Per Desember 2017), Reksadana saham pada umumnya, sulit untuk mengalahkan indeks acuannya sendiri Dari berbagai indeks yang sering dijadikan acuan, IDX30 memberikan imbal hasil yang lebih optimum dibanding indeks lainnya.

Produk kedua adalah Standard Chartered Bank bekerjasama dengan Prudential Indonesia menghadirkan dua dana investasi dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Yaitu PRUlink US Dollar Global Low Volatilitas Equity Fund (DGLV) dan PRUlink US Dollar Global Emerging Market Equity Fund (DGEM) yang melekat pada produk unit link VERSAlink investor account (premi tunggal) dan VERSAlink Maxima Account (premi reguler).

"Tiap tahun kami ada dua hingga tiga produk baru reksana atau produk wealth management lainnya. Targetnya di tahu ini, pertumbuhan bisnis wealth management kami bisa meningkat hingga 20 persen," tambah Rino. [way/suf]

Tag : bank

Komentar

?>