Senin, 18 Desember 2017

Kampanyekan Cinta Rupiah, BI Sambangi Kampus ITS

Kamis, 23 Nopember 2017 07:03:54 WIB
Reporter : Fahrizal Tito
Kampanyekan Cinta Rupiah, BI Sambangi Kampus ITS

Surabaya (beritajatim.com) - Untuk lebih menumbuhkan kecintaan anak muda terhadap rupiah atau mata uang Republik Indonesia (RI), Bank Indonesia (BI) menghelat kegiatan BI Goes to Campus di Graha Sepuluh Nopember Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Rabu (22/11/2017). Kegiatan ini merupakan bagian dari roadshow di berbagai kota di Indonesia.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Jawa Timur, Difi Ahmad Johansyah, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan Gerakan Cinta Rupiah yang saat ini sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Ia mengingatkan bahwa gambar yang ada di dalam uang rupiah adalah para pahlawan dan ini merepresentasikan semangat bela negara, termasuk semangat 10 November. "Jadi kalau kalian ingin fotonya dicetak pada mata uang, tirulah perjuangan pahlawan. Tapi anda juga harus meninggal dulu," ungkap Difi Ahmad.

Pesan yang ingin disampaikan oleh Difi adalah penggunaan foto pahlawan pada simbol uang rupiah adalah untuk menghormati perjuangan para pahlawan yang rela gugur demi kemerdekaan bangsa. "Setelah tahu fakta ini, semoga kita semua bisa lebih mencintai rupiah dibanding mata uang lainnya," tutur Difi.

Tak hanya itu, lanjutnya, masyarakat juga diharapkan bisa lebih memahami bahwa BI sebagai bank sentral Indonesia memiliki tugas di antaranya mengendalikan stabilitas sistem keuangan dan mengendalikan kebijakan makro ekonomi Indonesia.

Difi menceritakan, di Thailand orang yang mencoret-coret uang akan langsung diberikan sanksi tindak pidana karena dianggap melecehkan para pahlawan mereka. "Meskipun hukum negara kita belum setegas itu, mari belajar menghargai rupiah sebagaimana kita menghargai jasa para pahlawan," imbuh Difi Ahmad.

Menurut Difi, mencintai rupiah adalah wujud bela negara tanpa senjata. Ia juga mengaku sangat mendukung kegiatan semacam ini. "Semoga ke depannya bisa diperluas dan dikembangkan lagi," ujar Difi.

Dikatakan Difi, acara BI Goes to Campus ini juga merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sebagai salah satu modal penting pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia menuju masa depan bangsa.

Kegiatan ini, lanjut Difi, juga bertujuan untuk menyosialisasikan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Terkait peningkatan teknologi dalam mendorong ekonomi, BI mendorong program pembayaran nontunai. "Penggunaan nontunai akan mendorong dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam ekonomi," papar Difi.

Selain itu, imbuhnya, juga akan mendorong keuangan inklusif, mengingat saat ini masih banyak masyarakat yang belum tersentuh layanan jasa keuangan. Peningkatan transaksi nontunai sebesar 10 persen akan meningkatkan transaksi ekonomi sebesar 0,5 persen.

Sementara itu, menurut anggota Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, kegiatan ini dapat menghapuskan gap antara Bank Indonesia dengan dunia kampus. "Hari ini saya melihat BI masuk ke lingkungan para pemilik otak-otak cerdas," tutur Mukhamad Misbakhun.

Misbakhun kemudian memutar balik pujiannya itu kepada para mahasiswa yang hadir dengan pertanyaan yang cukup menohok. "Kalian generasi milenial memang cerdas, saya akui itu. Namun, yang saya tanyakan adalah seberapa loyal anda terhadap negara?" tanya Misbakhun.

Kemudian ia bercerita tentang kondisi di Bali ketika belum ada regulasi tentang kewajiban menggunakan rupiah. "Mereka itu, banyak yang masih transaksi pakai dollar. Bahkan hotel bisa dibayar pakai dollar. Untungnya fenomena ini sedikit berkurang setelah terbit ketentuan pidananya,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti ini.

Lulusan SMAN 1 Pasuruan ini mengatakan bahwa perjuangan pahlawan adalah harga yang mahal untuk membayar kedaulatan bangsa. Oleh karena itulah kedaulatan tersebut harus selalu dijaga. “Dalam menjaga kedaulatan tersebut ada simbol-simbol yang harus hadir, salah satunya adalah mata uang. Inilah yang harus disadari oleh generasi milenial," tutur Misbakhun.

Kepada para mahasiswa, Misbakhun berpesan untuk tidak menganggap rupiah sebagai sekedar mata uang, namun juga sebagai simbol kedaulatan dan kemerdekaan yang diperoleh dari perjuangan para pahlawan. "Ketika bertransaksi dengan rupiah, seharusnya kita akan ingat bahwa tidak mungkin transaksi tersebut dapat terjadi tanpa adanya andil dari perjuangan para pahlawan," pungkas Misbakhun.

Dalam kegiatan ini, Direktur Kemahasiswaan ITS, Dr Darmaji SSi MT, menyambut baik inisiatif dari BI dalam menyelenggarakan kegiatan ini. "Selamat datang di ITS, kampus perjuangan. Kampus yang terinspirasi dari semangat para pahlawan, sama seperti simbol rupiah yang ditujukan untuk menghormati para pahlawan," tutur Darmaji.

Selanjutnya Darmaji mengatakan bahwa program ini sangat penting dan bermanfaat untuk memberikan pemahaman dan pengertian pada segenap stakeholders, khususnya mahasiswa. Melalui edukasi dan sosialisasi diharapkan berbagai kebijakan dan program BI bisa dipahami dan mudah dijalankan.

Kepada para mahasiswa, penikmat musik rebana ini berpesan untuk memanfaatkan kegiatan ini dengan sebaik mungkin. Terutama terkait kompetisi Video dan Blogger yang juga digelar BI. “Mencari ilmu tidak harus di ruang kelas. Ilmu itu bisa didapatkan dari mana saja, termasuk dengan berpartisipasi pada kegiatan semacam ini,” pungkas Darmaji. [ito/suf]

Komentar

?>