Sabtu, 16 Desember 2017

Pemerintah: Tidak Ada Penurunan Daya Beli di Masyarakat, Hati-hati dalam Analisis Data

Rabu, 22 Nopember 2017 00:17:32 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatim.com) - Sekretaris Tim Pengendali Inflasi Pusat Iskandar Simorangkir menegaskan, tidak ada penurunan daya beli masyarakat Indonesia. Dia berharap agar semua pihak hati-hati dalam menyajikan dan menganalisis data.

"Sederhana saja. Pertumbuhan ekonomi kita dalam tiga triwulan terakhir meningkat. Triwulan keempat tahun 2016, 4,94 persen. Triwulan satu 5,01 persen. Triwulan kedua 5,01 persen. Triwulan ketiga 2017 5,06 persen," kata Simorangkir, dalam acara Pelatihan Wartawan Daerah yang diselenggarakan Bank Indonesia, di Hotel Grand Sahid, Jakarta, 20-21 November 2017.

Simorangkir kemudian menunjuk tingkat konsumsi. "Kalau kita lihat, tetap 4,93 persen. Itu kan gabungan semua individu di masyarakat. Kalau tetap 4,93 persen, berarti tidak ada penurunan. Memang ada pola switching dari belanja offline ke online. Ketika kami tanya dua perusahaan besar online, (transaksinya) lebih dari enam persen (dari ritel konvensional). Maka itu harus hati-hati membaca data, karena ada yang tidak tertangkap," katanya.

Simorangkir mengatakan, pedagang dalam jaringan (online) bisa membeli dan menjual barang dari impor. Sekitar 93 persen barang yang diperdagangkan berasal dari impor. "Jelas 93 persen ini yang menikmati (hasilnya) adalah perusahaan luar negeri," katanya.

Pemerintah mencatat, pertumbuhan belanja barang yang menyenangkan dengan didasarkan gaya hidup dan lebih pada aktualisasi diri (leisure) mengalami pertumbuhan 9,21 persen. "Sementara pertumbuhan non leisure 4,67 persen. Memang ada perubahan pola konsumsi. Semakin tinggi pendapatan seseorang, semakin mengonsumsi barang yang lebih pada aktualisasi diri. Salah satunya leisure tadi," kata Simorangkir. Ini menjawab fenomena terhadap terpukulnya perdagangan ritel konvensional (offline). [wir/suf]

Tag : inflasi

Komentar

?>