Senin, 18 Desember 2017

Soal Tembakau dan Cukai Rokok, Anas: Perlu Duduk Bersama

Jum'at, 17 Nopember 2017 14:32:05 WIB
Reporter : Ainur Rohim
Soal Tembakau dan Cukai Rokok, Anas: Perlu Duduk Bersama
Cawagub Abdullah Azwar Anas saat pertemuan dengan pers di Kota Surabaya. [Foto: air/bj.com]

Surabaya (beritajatim.com)--Calon wakil gubernur (Cawagub) Jatim, Abdullah Azwar Anas, menggelar pertemuan dengan sejumlah pimpinan media massa Jatim di Kota Surabaya, Jumat (17/11/2017). Ada sejumlah pertanyaan dan pandangan mengemuka dalam pertemuan tersebut, satu di antaranya tentang masa depan komoditas tembakau dan produk turunannya di Jatim.

Anas mengemukakan, sektor pertembakauan itu perlu dibicarakan secara lebih mendalam, tenang, dan komprehensif dengan banyak stakeholder. "Kita mesti duduk bersama," ujarnya singkat.

Sektor pertembakauan yang nyaris menghadapi hantaman dan tonjokan setiap tahun membutuhkan formula baru yang memuaskan banyak kalangan yang terlibat langsung maupun tak langsung dalam komoditas ini.

Jatim adalah produsen terbakau cukup besar dan di provinsi berpenduduk 38 juta jiwa ini juga beroperasi banyak pabrikan rokok skala besar, sedang, kecil, dan mikro.

Dari cukai rokok pada tahun 2017 ini, diperkirakan kas negara bakal memperoleh pemasukan sekitar Rp 141,3 triliun. Pemerintah membidik target penerimaan cukai rokok senilai Rp 148,2triliun di dalam RAPBN 2018. Angka itu melonjak 4,8% dibanding target penerimaan cukai hasil tembakau pada APBN-P 2017 senilai Rp 141,3 triliun.

Data tahun 2016 menunjukkan, total nilai cukai yang dibayarkan dari industri hasil tembakau mencapai Rp 138,69 triliun atau 96,65 persen dari total cukai nasional. Sedang serapan tenaga kerjanya mencapai 5,98 juta orang, yang terbagi di sektor manufaktur dan distribusi sebanyak 4,28 juta orang, serta di sektor perkebunan tembakau sebanyak 1,7 juta orang.

Sebagian besar sumbangsih cukai rokok tersebut diberikan pabrikan rokok yang beroperasi di Jatim. Komoditas tembakau dengan industri manufaktur rokok di dalamnya menampung ribuan tenaga kerja. Sehingga multiplier effect industri ini terhadap masyarakat sekitarnya dan dinamika ekonomi lokal pengaruhnya besar. "Makanya kita harus duduk bersama," tegas Anas.

Di sisi lain, kebutuhan tembakau untuk seluruh pabrikan rokok di Indonesia diperkirakan mencapai 100.000 ton per tahun. Sebagian besar kebutuhan tembakau itu dipasok dari dalam negeri, yang dihasilkan petani di sejumlah wilayah sentra produksi, seperti Jember, Pamekasan, dan Sumenep (Jatim) dan Temanggung (Jateng).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tembakau Indonesia pada Januari hingga Juli 2017 mencapai USD 318,49 juta. Jumlah tersebut naik dibanding periode sama tahun lalu senilai USD 274,30 juta.

Anas di Pilgub Jatim 2018 berpasangan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Pasangan ini diusung PKB dan PDIP. Anas mengakui telah belajar dan ingin tahu lebih dalam dan komprehensif tentang komoditas tembakaudi Jatim maupun hilirisasi produk turunannya.

Komoditas pertanian ini juga menyangkut nasib ribuan petani di Jatim, khususnya di daerah-daerah sentra penghasil tembakau, seperti Kabupaten Jember, Probolinggo, Situbondo, Pamekasan, Sumenep, Bojonegoro, dan lainnya. "Saya akan berbicara dengan semua pihak terkait masalah ini," tandasnya. [air]

Tag : tembakau

Komentar

?>