Rabu, 22 Nopember 2017

Nelayan Banyuwangi Kirim Kepala Sapi ke Selat Bali

Rabu, 15 Nopember 2017 14:56:51 WIB
Reporter : Rindi Suwito
Nelayan Banyuwangi Kirim Kepala Sapi ke Selat Bali

Banyuwangi (beritajatim.com) - Sejak pagi, puluhan nelayan asal pantai cemara, Lingkungan Pakis Rowo, Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi menyiapkan perlengkapan sesaji. Sesembahan itu diletakan di atas tandu berukuran 1 x 2 Meter.

Sesaji itu berisi, buah-buahan, poro bungkil, kembang setaman, ayam hidup, beras, jenang dan sebuah kepala sapi berukuran besar. Komposisi itu harus lengkap sebagai persembahan dalam ritual wujud syukur nelayan di tengah Selat Bali.

"Semua itu kudu jangkep (lengkap) kalau kurang ya kurang syukurnya. Seperti jenang itu ada jenang merah, putih. Terus beras merah, kuning, dan hitam. Ada juga telur dan aneka makanan kemudian diletakkan dalam wadah takir di atas ancak," kata Mbah Ahmat sang Tetua nelayan setempat, Rabu (15/11/2017).

Ritual dimulai dengan iring-itingan sesaji diikuti oleh sholawat dan musik rebana. Sesampainya di pesisir Pantai Cemara, sesaji pun mulai diberi do'a.

Mbah Ahmat yang telah 7 kali didapuk sebagai pemanjat do'a tak canggung bibirnya berkomat-kamit membaca mantra. Bau asap kemenyan yang ditabur di atas bara api sontak terbang merasuk ke indera.

"Bacaanya ya Bismillah, dan Alfatihah. Dan doa syukur agar sesembahan ini dapat diterima yang bahu rekso (Tuhan)," ujarnya.

Setelah perahu jukung siap berjajar rapi, sesajipun mulai diangkat menuju ke laut. Puluhan nelayan yang telah ditunjuk menjadi panitia, beranjak untuk melakukan ritual selanjutnya yakni larung sesaji.

"Proses pelarungan itu sebenarnya kalau istilah yang positif kita itu memberi makan dan memberi rumah bagi ikan agar datang. Tapi ada artian lain ya itu sebagai ungkapan sukur kita kepada yang kuasa agar diberikan rejeki laut yang melimpah," kata Muhamad Muhyi, ketua Panitia Syukuran Laut Pantai Cemara.

Bedanya dengan ritual di tempat lain, kata Muhyi, adalah tanggal penyelenggaraannya. Pasalnya, di tempat ini biasa digelat saat bulan Safar di penanggalan Jawa, atau biasa pula di sebut ritual Safar-Safaran.

"Intinya sama, kita bersyukur. Tapi bedanya sama di Muncar atau tempat lain itu acaranya digelar pas bulan Syuro," ucapnya.

Selain itu saat ritual, nelayan setempat juga memiliki persembahan khusus yaitu menggelar jenang Safar. Jenang tersebut merupakan komposisi beras ketan yang dibentuk bulat manis dan berkuah gurih khas santan kelapa.

"Di sini itu ada namanya jenang Sapar. Tujuannya, agar rejekinya melekat dan kekeluargaan makin erat seperti jenang itu," ungkap Muhyi.

Tak lupa usai larung sesaji usai, para keluarga nelayan ini melakukan ritual lain. Yakni, mandi di laut dengan tujuan menghilangkan penyakit dan terhindar dari tulak balak. (rin/kun)

Komentar

?>