Rabu, 22 Nopember 2017

Dari 'Bincang Kopi Robusta Fiesta' PWI, BI, PTPN XII, GPP, dan Universitas Jember

Masuk Kafe, Tanya Password Wi-fi, Minum Air Mineral

Senin, 13 Nopember 2017 22:28:04 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Masuk Kafe, Tanya Password Wi-fi, Minum Air Mineral

Jember (beritajatim.com) - Nongkrong di kedai kopi atau kafe sebagai gaya hidup masih bertahan. Namun kultur tersebut saat ini tak berbanding lurus dengan kultur menikmati minuman kopi berkualitas di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Hal ini dikatakan Kepala Bagian Teknik dan Pengolahan PT Perkebunan Nusantara XII Dudiek Polii, dalam acara Robusta Fiesta yang diselenggarakan selama Jumat dan Sabtu, 10-11 November 2017, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Robusta Fiesta adalah kegiatan sinergi lima lembaga, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Bank Indonesia, PT Perkebunan Nusantara XII, Gabungan Perusahaan Perkebunan, dan Universitas Jember.

"Orang kini masuk ke kafe, duduk di pojok, yang ditanya pasti: Mas, di sini password wi-fi apa? Minumnya cuma air mineral, bukan kopi. Saya setuju, jika kemudian kita perlu meningkatkan (budaya minum) kopi di kafe, termasuk yang di pinggir jalan," kata Dudiek.

Kultur ini berbeda dengan di luar negeri. Dudiek menyebut salah satu gerai kopi waralaba internasional. "Minimal orang duduk di kafe selama dua jam. Begitu dua jam, si barista tahu kalau si pelanggan mau keluar. Barista itu kemudian memberikan sesuatu yang gratis, supaya si pelanggan tidak keburu keluar," katanya.

Dudiek berharap tahun depan sudah bermunculan kopi produksi petani Jember yang dijual di kafe-kafe dengan kemasan yang bagus. "Jadi saya bisa tanya, mana kopi dari Kemuning, mana kopi dari Silo. Itu suatu 'brand' yang akan melekat pada wisata dan melekat pada benak turis yang datang ke sini. Kalau bicara kopi sekarang sudah bicara entertainment dan pariwisata," katanya.

Sementara itu, Tutus, salah satu pengusaha mikro bisnis kopi di Jember, menyebut bergesernya idealisme pebisnis kedai kopi dikarenakan tak berjalannya literasi. "Warung kopi sudah bergeser menjadi warung internet yang menyediakan kopi. Bukan lagi warung kopi yang menyediakan ruang publik bagi mahasiswa untuk berekspresi. Arahnya sekarang adalah warnet berbentuk kafe yang menyediakan kopi. Kopi hadir hanya sebagai simbol formalitas," katanya.

Manajer Kebun Kalisanen PTPN XII Yualianto mengatakan, edukasi kepada masyarakat bukanlah sesuatu yang murah. "Mahal sekali biayanya. Perlu waktu dan ketelatenan. Semua bisa teratasi, bila pemegang kuasa peduli. Di Jember, even banyak sekali. Kalau memang pemerintah peduli, setiap even harus ada edukasi mengenai kopi, apapun evennya, bekerjasama dengan Universitas Jember. Saya kira lambat laun masyarakat bisa teredukasi bukan hanya peminum kopi, tapi penikmat kopi," katanya. [wir/suf]

Tag : kopi

Komentar

?>