Rabu, 22 Nopember 2017

Dari 'Bincang Kopi Robusta Fiesta' PWI, BI, PTPN XII, GPP, dan Universitas Jember

Idealisme Kedai Kopi di Sekitar Universitas Jember Hanya Bertahan 4 Bulan

Minggu, 12 Nopember 2017 19:43:00 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Idealisme Kedai Kopi di Sekitar Universitas Jember Hanya Bertahan 4 Bulan

Jember (beritajatim.com) - Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jember, Jawa Timur, pernah meneliti bisnis kedai kopi di sekitar Universitas Jember. Hasilnya: idealisme kedai kopi tak bertahan lama.

Hal ini dikemukakan Penjabat Deputi Pimpinan Kantor Bank Indonesia Jember Gde Agus Dwijaya, dalam acara Robusta Fiesta yang diselenggarakan selama Jumat dan Sabtu, 10-11 November 2017, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Robusta Fiesta adalah kegiatan sinergi lima lembaga, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Bank Indonesia, PT Perkebunan Nusantara XII, Gabungan Perusahaan Perkebunan, dan Universitas Jember.

"Kami pernah survei, bisnis kopi bertahan empat bulan sebelum berubah menjadi bisnis lain. Kalau kita tidak bisa menyegmentasi pasar untuk jualan kopi, pasti susah. Jualan kopi tidak akan bisa bikin kita kaya. Yang bikin kaya bisnis sampingannya kopi. Kalau mau kaya, idealisme kopinya dikurangi. Yang bisa bikin kaya adalah ekspor kopi. Kalau mau kaya, jadilah artisan kopi (yang menilai kopi sebagai seni)," kata Gde Agus.

Gde Agus secara bisnis sudah menghitung. Dia sendiri punya kafe dan bergerak sebagai artisan. "Empat bulan saya tutup, karena sudah balik modal. Jualan yang lebih banyak di side business-nya," katanya.

Sementara itu, Tutus, salah satu pengusaha mikro bisnis kopi di Jember, menyebut bergesernya idealisme pebisnis kedai kopi dikarenakan tak berjalannya literasi. "Warung kopi sudah bergeser menjadi warung internet yang menyediakan kopi. Bukan lagi warung kopi yang menyediakan ruang publik bagi mahasiswa untuk berekspresi. Arahnya sekarang adalah warnet berbentuk kafe yang menyediakan kopi. Kopi hadir hanya sebagai simbol formalitas," katanya.    

Ini yang bikin Tutus prihatin. Selama tiga tahun, ia dan kawan-kawannya mengembangkan literasi untuk mendidik publik dan menciptakan usaha mikro kafe yang beromset hanya Rp 10 juta per bulan. "Saya menemukan, problem utama (ekonomi kopi) adalah kurang dikelolanya masalah sosial budaya. Kita selalu berkutat pada hulu, budidaya, ekspor, varietas, dan seterusnya. Saya berharap ke depan, perlu diwacanakan literasi sosial budaya, karena daya serap masyarakat untuk ngopi alias minum kopi cenderung kurang bergairah, karena kopi masih dianggap tradisi menyamkbut tamu dan levelnya rumah. Universitas Jember sebagai sentral akademisi di tapal kuda kurang membantu literasi soal kopi,": katanya.

"Kalau menggarap suatu produk, daya serap lokalnya dulu dikelola. Paling simpel mulai dari rumah dan yang nongkrong di warung kopi. Pasar Universitas Jember ini sangat menarik untuk buka usaha kopi. Tapi mahasiswa tidak memberi feedback secara pengetahuan. Itu yang membuat banyak teman yang gulung tikar dan bergeser bisnisnya," tambah Tutus.

Gde Agus mengatakan, literasi kopi harus melihat segmen. "Yang dimainkan adalah segmen anak muda atau 'kids zaman now'. Kalau pukul rata seluruh masyarakat mau diliterasi tidak akan bisa," katanya.

Peneliti Universitas Jember Sonny Sisbudi Harsono menolak anggapan jika akademisi tidak terlibat dalam literasi kopi. Pihaknya sudah melakukan riset soal kopi dalam beragam aspek mulai dari sosial budaya hingga kesehatan. "Kami menemukan fakta bahwa kopi itu sehat untuk menghilangkan lemak-lemak di pembuluh darah. Dua cangkir kopi asli tanpa gula sehari bisa menghilangkan lemak-lemak, sehingga mengurangi sakit stroke," katanya. [wir/suf]

Tag : kopi

Komentar

?>