Rabu, 22 Nopember 2017

Dari 'Bincang Kopi Robusta Fiesta' PWI, BI, PTPN XII, GPP, dan Universitas Jember

Bank Indonesia: Kopi Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Minggu, 12 Nopember 2017 18:29:31 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Bank Indonesia: Kopi Bisa Jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Penjabat Deputi Pimpinan Kantor Bank Indonesia Jember Gde Agus Dwijaya

Jember (beritajatim.com) - Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jember ikut memprakarsai pengembangan komoditas kopi arabika di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, pada 2011. Sementara di Kabupaten Jember, mereka membina petani kopi robusta di Desa Sidomulyo, Kecamatan Silo.

"Kami menginginkan kopi menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Siapa sih yang tidak minum kopi hari ini," kata Penjabat Deputi Pimpinan Kantor Bank Indonesia Jember Gde Agus Dwijaya, acara Robusta Fiesta yang diselenggarakan selama Jumat dan Sabtu, 10-11 November 2017, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Robusta Fiesta adalah kegiatan sinergi lima lembaga, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Bank Indonesia, PT Perkebunan Nusantara XII, Gabungan Perusahaan Perkebunan, dan Universitas Jember.

Sebagian besar ekspor kopi dari Indonesia, 65 ribu ton, diarahkan ke Amerika Serikat. "Namun kita juga mengimpor dari Vietnam sekitar 7.582 ton pada 2015. Namun secara prinsip, kopi nasional luar biasa," kata Gde Agus. Khusus robusta, 80 persen produksi perusahaan perkebunan negara dikirim ke luar negeri dan hanya 20 persen yang dijual di lokal.

Produksi kopi Jember dan Bondowoso dinilai Gde Agus sudah bagus. Namun sesekali muncul kendala berupa persoalan ekonomi pribadi yang membutuhkan uang cepat, sehingga petani memilih memetik kopi dalam keadaan kurang masak. "Padahal petani tahu biji kopi harus dipetik dalam kondisi merah. Kami sendiri tidak memasakan. Kalau tidak bisa petik dalam kondisi kopi berwarna merah, tidak apa-apa dipetik saat berwarna hijau. Tapi pasarnya kita cari, walau pun rugi. Ada beberapa buyer yang mau membeli walau warna kopi hijau. Tapi jangan banyak-banyak," katanya.

Jadi, lanjut Gde Agus, petani perlu dibina dan diarahkan pelan-pelan. "Tidak bisa memang langsung diubah," jelasnya.

Menurut Gde Agus, kopi jenis robusta dan arabika sebenarnya dari aspek ekonomi sama-sama seksi. "Kalau Jember mau mengembangkan robusta, musuhnya banyak. Tapi taste dan karakteristik Jember beda, sehingga segmentasinya bisa dicari," katanya.

Petani kopi juga menjadi sasaran pembinaan BI Jember. Salah satunya di Bondowoso. "Kami membina hingga petani siap diberi kredit oleh perbankan," kata Gde Agus. BI membina bagaimana keuangan petani kopi di Bondowoso kuat, termasuk dengan mengatur uang untuk peruntukan kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan usaha.

Di Jember, BI membina Koperasi Ketakasih yang bergerak di bidang kopi robusta. "Secara kelembagaan, Ketakasih lebih kuat daripada binaan kami di Bondowoso. Ini dikarenakan (jumlah petani kopi) mereka lebih sedikit daripada Bondowoso. Jadi karakteristik pola pengelolaannya berbeda," kata Gde Agus. [wir/suf]

Tag : kopi

Komentar

?>