Rabu, 22 Nopember 2017

Dari 'Bincang Kopi Robusta Fiesta' PWI, BI, PTPN XII, GPP, dan Universitas Jember

PTPN XII Akui Sinergi dengan Petani Kopi Jember Perlu Ditingkatkan

Minggu, 12 Nopember 2017 18:08:41 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
PTPN XII Akui Sinergi dengan Petani Kopi Jember Perlu Ditingkatkan

Jember (beritajatim.com) - Dari 86 ribu hektare lahan yang dikuasai dan dikelola PT Perkebunan Nusantara XII, sebanyak lima ribu hektare adalah lahan kopi robusta. Dari delapan kebun kopi robusta di Jawa Timur, lima kebun di antaranya berada di Kabupaten Jember.

Fakta ini sudah menunjukkan betap strategisnya posisi Kabupaten Jember dalam pengembangan budidaya kopi robusta. Lima kebun tersebut adalah Gunung Gambir di Kecamatan Sumberbaru, Zelandia di Tanggul, Rayap Renteng di Arjasa, Silosanen di Silo, dan Gumitir di Silo.

Lima kebun itu dikelilingi lahan petani kopi rakyat. "Cuma memang sampai saat ini, sinergi antara PTPN XII dengan petani kopi di Jember masih perlu ditingkatkan," kata Manajer Kebun Kalisanen PT Perkebunan Nusantara XII Yualianto, dalam acara Robusta Fiesta yang diselenggarakan selama Jumat dan Sabtu, 10-11 November 2017, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Robusta Fiesta adalah kegiatan sinergi lima lembaga, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Bank Indonesia, PT Perkebunan Nusantara XII, Gabungan Perusahaan Perkebunan, dan Universitas Jember.

"Sebagai badan usaha milik negara (BUMN), kami punya misi, selain menghasilkan devisa negara dari ekspor komoditas, juga menjadi penggerak perekonomian sekitar perkebunan dan menjaga lingkungan," kata Yualianto.

Yualianto mengatakan, ada beberapa kendala yang dihadapi petani kopi rakyat di Jember. Dalam hal kultur teknis, ia menyebut para petani kopi robusta punya kemampuan dan ilmu yang memadai. "Rata-rata petani di sekitar kebun adalah putra orang kebun. Bapak mereka belajar kemampuan kultur teknis dari perkebunan," katanya.

Namun, lanjut Yualianto, petani punya kebiasaan tak selektif dalam memanen. Mereka memanen biji kopi tanpa memperhatikan tingkat kemasakan. "Biji warna merah, hijau, hitam dipanen semua, sehingga taste (cita rasa) tidak jelas," katanya. Padahal itu mempengaruhi harga di pasaran. PTPN XII siap menampung kopi dari petani asalkan masak sempurna.

Selama ini, PTPN XII sudah membina petani dari sisi kultur teknis, sistem panen, dan pengolahan pasca panen. "Pengolahan menjadi kendala utama, karena butuh biaya besar. Kami punya dana CSR (Corporate Social Responsibility atau dana tanggung jawab sosial perusahaan) yang bisa diperbantukan untuk petani dengan bunga lunak, yang dibayar saat panen. Cuma kadang ada petani yang menjual kopi ke tengkulak setelah panen," kata Yualianto.

PTPN XII juga siap menjembatani petani dengan perbankan untuk mangakses permodalan. PTPN XII memiliki data petani binaan yang bisa menjadi pertimbangan perbankan untuk meminjamkan dana kepada budi daya perkebunan kopi rakyat.

Achmad Husein, salah satu petani, setuju jika PTPN XII menerima kopi dari petani. "Tapi kami mohon jangan diterima gelondongan. Kalau masih diterima gelondongan, itu sama saja membodohi petani. Kalau kopi diolah basah, masih ada nilai tambah. Kalau dijual gelondongan, walaupun sudah diminta agar petani hanya memetik biji warna merah, tetap saja yang warna hijau ikut karena petani tak melakukan sortasi," katanya. [wir/suf]

Tag : kopi

Komentar

?>