Rabu, 22 Nopember 2017

Dari 'Bincang Kopi Robusta Fiesta' PWI, BI, PTPN XII, GPP, dan Universitas Jember

Petani Kopi Jember Tak Perlu Khawatirkan Persaingan Keunggulan Komoditas

Minggu, 12 Nopember 2017 17:51:53 WIB
Reporter : Oryza A. Wirawan
Petani Kopi Jember Tak Perlu Khawatirkan Persaingan Keunggulan Komoditas

Jember (beritajatim.com) - Tidak ada komoditas kopi istimewa di daerah tertentu yang lebih baik dan mengungguli komoditas kopi daerah lainnya. Semua membawa spesifikasi kualitas berbeda.

"Kualitas yang bagus bisa diperoleh jika tanaman kopi bisa dikelola dengan baik, mulai dari pengelolaan lahan, gelondong merah, sampai di pasar. Biji kopi yang bagus adalah yang berwarna merah, karena itu indikator kemasakan," kata Kepala Bagian Teknik dan Pengolahan PT Perkebunan Nusantara XII Dudiek Polii, dalam acara Robusta Fiesta yang diselenggarakan selama Jumat dan Sabtu, 10-11 November 2017, di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Robusta Fiesta adalah kegiatan sinergi lima lembaga, yakni Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Bank Indonesia, PT Perkebunan Nusantara XII, Gabungan Perusahaan Perkebunan, dan Universitas Jember.

Dudiek meminta petani kopi tak mudah bingung. "Jangan gamang menerima informasi. Setiap kopi memiliki processing masing-masing. Jangan latah. Belum tentu processing tertentu meningkatkan taste (cita rasa). Petani harus punya keyakinan, suatu ketika, pasar akan mencari kopi yang dimiliki," katanya.

Dudiek mencontohkan kopi luwak. "Kopi luwak ini mild. Mulai dari anak kecil hingga dewasa suka, karena luwak memakan kopi yang masak optimal," katanya.

Manajer Kebun Kalisanen Yualianto menegaskan, masing-masing daerah memiliki spesifikasi kopi dengan cita rasa berbeda. "Jadi jangan takut. Semua punya cita rasa khas. Cuma memang agar taste (cita rasa) ini keluar, biji kopi yang dipanen memang harus masak sempurna," katanya.

Peluang bisnis kopi di Indonesia saat ini semakin bagus. Tahun 2010, konsumsi kopi sekitar 0.,8 kilogram per kapita per tahun. Saat ini sudah naik menjadi 1,2 kilogram. Kalau dikonversi, sekitar 2-3 cangkir kopi per hari. 

Kafe atau kedai kopi kini menjadi gaya hidup. Harga satu cangkir kopi berkualitas baik bukan lagi masalah. "Orang sekarang kalau masuk ke kafe bertanya mana kopi yang terbaik dan tidak tanya berapa harganya," kata Dudiek.

Dudiek senang saat ini petani mulai memperhatikan cara menghasilkan kopi dengan cita rasa yang baik. Petani sudah harus berdaya. "Kopi di Indonesia pertama kali datang dari Batavia (Jakarta). Tapi sekarang di Jakarta, yang ada bukan lahan kopi, tapi kafe. Kopi dihasilkan di Jember, tapi yang maju adalah pemilik kafe di Jakarta. Saya berpikir, kenapa kok di sini tidak bisa berkembang. Tentu itu semua kembali kepada diri kita masing-masing," jelasnya. [wir/suf]

Tag : kopi

Komentar

?>