Kamis, 18 Oktober 2018

Kedaulatan Benih Lokal Harus Dipertahankan

Selasa, 07 Nopember 2017 15:32:55 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Kedaulatan Benih Lokal Harus Dipertahankan

Malang (beritajatim.com) - Kedaulatan benih lokal bagi petani Indonesia harus dipertahankan. Hal inilah yang menjadi dasar Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, untuk menunjang Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Bertempat di Jalan Raya Karangploso KM 4, Kabupaten Malang, Selasa (7/11/2017), BPTP Jatim mengajak seluruh petani berdaulat terhadap penggunaan benih lokal dewasa ini.

Pada pertemuan yang dilanjutkan Seminar Nasional terkait Strategi Pengelolaan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik (SDG) Lokal Bersama Masyarakat dalam Mencapai Lumbung Pangan Dunia, Pemerintah Indonesia dirasa sangat kurang dalam mendukung petani memuliakan dan memproduksi sendiri benih unggulnya.

Hal itu berakibat fatal pada ketahanan negara akibat ketergantungan petani pada benih hibrida yang diproduksi korporasi, baik itu BUMN maupun korporasi swasta nasional dan multinasional.

Data mencatat bahwa dari kebutuhan benih padi nasional sebanyak 300 ribu ton, 40% disuplai oleh 2 BUMN yaitu PT. Sang Hyang Sri (Persero) dan PT. Pertani (Persero). Sementara 60% diserahkan pada pasar bebas, tercatat sejumlah perusahaan swasta nasional dan multinasional berupaya terus untuk memperbesar penguasaan atas benih pangan pokok di Indonesia.

“Hari ini kita lakukan temu nasional dengan petani terkait sumberdaya genetik. Dari agenda ini, kita bisa bertemu dengan seluruh stake holder dan penyuluh untuk berkomitmen kedepan kita tidak boleh melupakan asal usul pangan lokal,” ungkap Chendi Tofa Kristanto, Ketua BPTP Jawa Timur, Selasa (7/11/2017).

Menurutnya, dari pertemuan hari ini selama dua hari kedepan, bukan hanya mengoleksi benih semata. Tapi masing-masing benih atau varietas tadi memiliki keunggulan. “Pemerintah daerah tidak tahu varietas ini seperti apa sih, disinilah nanti kita dorong ada sertifikat benih,” paparnya.

Rentannya kedaulatan petani atas benih, ketergantungannya pada benih hibrida yang harus selalu dibeli setiap kali musim tanam, menjadi salah satu penyebab dari semakin mundurnya kualitas kehidupan petani di Indonesia. “Ini yang luput dari perhatian pemerintah. Balai penelitian benih memang didirikan, tetapi hasil penelitiannya kemudian tidak diserahkan kepada petani untuk diproduksi sehingga petani juga dapat menguasai hulu rantai pasok produksi,” tuturnya.

Sementara itu, Mastur, Pakar Litbang Biotekhnologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, menambahkan, Indonesia kaya akan sumberdaya genetik nomer dua di dunia. “Kita ini kaya nomer dua, tapi harus dilestarikan. Ada tanaman yang tidak tinggi produksinya, tapi luar biasa tahan terhadap cuaca. Gen nya nanti bisa kita silang untuk bisa produksi tinggi,” bebernya.
Kata Mastur, benih varietas bagus penting untuk di daftarkan. Sumberdaya genetik lokal, yakni hasil karya petani dari hutan yang jauh,alu dikumpulkan didekat rumah. Setiap panen dipilih bertahun-tahun sehingga jadi varietas lokal. “Itu adalah milik petani, harus. Tidak bisa dikomersialkan,” ujarnya.

Padahal pada kekayaan benih asli lokal (heirloom seed) yang dimiliki turun temurun di semua komunitas masyarakat tradisional di Indonesia, terdapat kekayaan tersedianya benih yang adaptif terhadap iklim dan ekologi setempat. Kekayaan plasma nutfah ini salah satu hal yang sangat strategis untuk bisa menjamin kemampuan warga memproduksi tanaman yang diperlukannya baik untuk pangan maupun non pangan. Indonesia sendiri sebagai negara di wilayah tropis menyimpan kekayaan yang dahsyat dalam keragaman plasma nutfah benih lokal, yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah untuk memastikan kekayaan ini dipertahankan dan dikembangkan untuk kesejahteraan dan kemandirian petani dan ketahanan negara bangsa secara umum. [yog/but]

Tag : pertanian

Komentar

?>