Minggu, 19 Agustus 2018

Penggunaan Merkuri Diawasi Polisi, Pengrajin Emas Was-Was

Jum'at, 03 Nopember 2017 17:56:31 WIB
Reporter : Deni Ali Setiono
 Penggunaan Merkuri Diawasi Polisi, Pengrajin Emas Was-Was

Gresik (beritajatim.com)- Pengrajin emas di wilayah Gresik mulai kuatir karena mulai diawasi oleh polisi. Pengawasan itu dilakukan terkait dengan Intruksi Presiden (Inpres) Presiden Joko Widodo tentang penghapusan penggunaan merkuri yang dijual bebas.

Kasatreskrim Polres Gresik, AKP Adam Purbantoro mengatakan, sesuai dengan Inpres Presiden Joko Widodo melalui Kapolri selanjutnya ke Polda lalu turun ke Polres. Pihaknya sudah membentuk tim Satgas Penghapusan Merkuri. Tugas dari tim ini nantinya mengawasi dan mencari tahu peredaran merkuri yang dijual bebas di pasaran.

"Pengrajin emas tidak usah kuatir terkait dengan adanya Satgas Penghapusan Merkuri. Sebaliknya, keberadaan satgas itu mensosialisasikan kepada pengrajin bahwa penggunaan merkuri dilarang. Sebab, dampaknya membahayakan lingkungan, dan kesehatan," katanya kepada wartawan, Jumat (3/11/2017).

Lebih lanjut AKP Adam Purbantoro mengatakan, keberadaan Satgas Penghapusan Merkuri nantinya tidak hanya menyasar pada pengrajin emas saja. Namun, tim tersebut juga menyasar ke pedagang besar yang memanfaatkan merkuri.

"Sebelum Inpres ini berjalan, kami mensosialisasikan terlebih dulu ke pengrajin emas agar tidak salah paham," tuturnya.

Menanggapi adanya larangan penggunaan merkuri. Kepala Desa (Kades) Dadapkuning, Kecamatan Cerme, Gresik, H.Saikun yang mayoritas warganya pengrajin emas menuturkan, dirinya sebenarnya tidak keberatan pemerintah melarang penggunaan merkuri. Sebab, hampir 45 persen warganya masih menggunakan merkuri untuk proses melarutkan limbah menjadi emas. 

"Kalau dilarang berimbas pada 266 kepala keluarga. Belum lagi ada BUMDes yang membiayai. Kami ingin ada solusi yang terbaik agar pengrajin di tempat kami tetap eksis meski tidak menggunakan merkuri," ujarnya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Usman seorang pengrajin emas asal Desa Giri, Kecamatan Kebomas, Gresik. Menurutnya, selama hampir 25 tahun lebih dirinya tidak merasakan bahaya merkuri dan dampaknya di lingkungan tempatnya bekerja.

"Dampaknya tidak ada karena penggunaan merkuri dipakai sampai habis," akunya.

Mendapat pernyataan itu, Kabag Ops Polres Gresik, Kompol Nur Halim tetap bersikukuh bahwa penggunaan merkuri yang dipakai oleh pengrajin emas tetap dilarang. Pasalnya, merkuri tersebut dijual bebas padahal dampaknya sangat berbahaya.

"Intinya melalui sosialisasi ini kami mencari masukan dari pengrajin emas. Terkait dengan Inpres penggunaan merkuri tetap dilarang dan satgas kami segera menindaklanjuti," tandasnya. [dny/ted]

Tag : emas

Komentar

?>