Rabu, 18 Oktober 2017

Senyum Petani Tembakau di Kabupaten Malang

Ongkos Buruh Perajang Tembakau Rp.55 Ribu, Begini Prosesnya

Rabu, 20 September 2017 14:14:38 WIB
Reporter : Brama Yoga Kiswara
Ongkos Buruh Perajang Tembakau Rp.55 Ribu, Begini Prosesnya

Malang (beritajatim.com) - Senyum bahagia kini dirasakan petani tembakau di Kabupaten Malang. Cuaca terik akhir-akhir ini, justru membawa berkah bagi para petani tembakau di Desa Jatiguwi, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Jika dibanding tahun 2016 lalu, cahaya matahari yang cukup terik saat ini, adalah berkah luar biasa bagi petani tembakau.

Seperti apa proses produksi petani tembakau memanfaatkan musim kemarau di Kabupaten Malang? “Kalau sampeyan kesini malam hari, suasananya cukup ramai mas. Semua pada sibuk dengan tembakau, ada yang merajang atau mengiris tembakau, lalu dijemur. Sepanjang jalan ini banyak orang,” kata Naryo (52), petani tembakau sekaligus buruh perajang tanaman tembakau, Rabu (20/9/2017) saat ditemui beritajatim.com di rumahnya.

Kampung tempat Naryo tinggal di Desa Jatiguwi, adalah sentra tanaman tembakau di Kabupaten Malang. Sebelum dirajang, tanaman tembakau dari sawah lebih dulu dipanen. Jenis bibit tembakau yang ditanam petani ditempat itu adalah bibit tanaman tembakau dengan nama Cidi, Kalituri dan juga Rejeb. “Kalau rejeb ini daunya tidak terlalu lebar. Tapi cukup padat. Bibit tembakau ini produk lokalan dari Tulungagung,” beber Naryo.

Setelah dipanen, tembakau harus dirowek atau ditimbun lebih dulu sampai matang. Kematangan daunya terlihat dari perubahan warna daun tanaman tembakau dari hijau ke kuning kecoklatan. Butuh waktu 8 hari penimbunan sebelum tembakau, masuk proses perajangan atau diiris. Butuh skil khusus untuk memotong tembakau. “Ya kalau tidak terbiasa memang susah dan berat. Pisaunya juga harus ukuran besar. Tangan harus cukup kuat, karena proses perajangan semuanya masih menggunakan cara tradisional,” katanya.

Pisau yang digenggam Naryo cukup besar dan berat. Ia harus menekan tumpukan tembakau yang hendak dirajang dengan tangan kiri. Upah yang ia terima pun tak terlampau besar.Hanya berkisar Rp.55 ribu untuk satu kwintal tembakau yang sudah dirajang. “Upah bagian memotong biasanaya Rp.55 ribu per satu kwintal. Tergantung dalam satu hari bisa merajang berapa banyak, asalkan kuat saja tanganya ya dapat uang banyak,” tuturnya.

Setelah tembakau dirajang, hasil potongan tipis-tipis itu dikumpulkan oleh buruh penjemur. Biasanya, para wanita di Desa Jatiguwi, bertugas sebagai tenaga penjemur tembakau yang sudah dirajang dengan upah Rp.35 ribu per kwintalnya. “Kalau upah bagian jemur tembakau yang sudah dirajang Rp.35 ribu mas. Kalau malam, biasanya banyak wanita yang tugas menjemur. Kita jemur selama dua hari,” tambah Karmunah (43), petani tembakau sekaligus juragan pengupah 10 orang wanita di desanya sebagai penjemur tembakau. [yog/but]

Komentar

?>