Jum'at, 22 September 2017

Communal Branding, Strategi Jitu Bupati Emil Dardak Angkat Derajat UKM Trenggalek

Kamis, 14 September 2017 19:02:53 WIB
Reporter : Rahardi Soekarno J.
Communal Branding, Strategi Jitu Bupati Emil Dardak Angkat Derajat UKM Trenggalek
Bupati Trenggalek, Emil Dardak. [Foto: antok/bj.com]

PENGUSAHA sukses Bob Sadino pernah mengatakan, setinggi apapun pangkat dimiliki seseorang, tetaplah dia pegawai. Tetapi sekecil apapun usaha yang Anda punya, Anda adalah bosnya.

Semangat pantang menyerah itu ditangkap beritajatim.com yang mengunjungi 'Bambu Indah Craft' milik Sukatno di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Sabtu (9/9/2017).

Sore itu, tampak beberapa ibu muda dan seorang lelaki setengah baya sedang memainkan keterampilan tangannya dengan anyaman bambu. Mereka fokus mengerjakan besek dan keranjang suvenir di sebuah bangunan rumah yang terbuat dari bambu.

Dinding, plafon dan tiang penyangga rumah terlihat kokoh berbahan bambu. Lokasi itu digunakan sebagai bengkel kerja para perajin 'Bambu Indah Craft' yang terlihat rimbun dan nyaman.

Di bangunan yang halaman depannya dipagari gazebo bambu inilah, pundi-pundi puluhan sampai ratusan juta rupiah diperoleh dari buyer dalam dan luar negeri setiap bulannya. Mereka dengan bangga memesan buah karya anak bangsa dari Bumi Menak Sopal Trenggalek.

Hidup dari Bambu

Senyum perajin Suprihatin merekah saat mengerjakan kerajinan anyaman bambu. [Foto: antok/bj.com]

Suprihatin (40), seorang perajin 'Bambu Indah Craft' tampak cekatan tangannya menganyam bambu untuk membuat besek keranjang suvenir dan tudung saji makanan.

"Saya sudah bekerja di sini selama 10 tahun, Mas. Sehari-hari ya menganyam besek keranjang untuk suvenir ini. Alhamdulillah, saya dapat upah Rp 30 ribu per hari, kadang seminggu bisa dapat Rp 200 ribu lebih," ujar wanita berjilbab warna krem ini kepada beritajatim.com.

Suprihatin bisa menghidupi keluarganya dari hasil keringatnya menganyam bambu. "Suami saya bekerja di Kalimantan. Dari hasil bekerja ikut Pak Katno (Sukatno, pemilik Bambu Indah Craft) ini, saya bisa bertahan hidup dan menyekolahkan kedua anak saya. Yang pertama bernama Erlin, sekarang kelas 2 SMK dan Karin, kelas 2 SD," tutur wanita berparas manis ini.

Dia dan perajin anyaman bambu lainnya memulai aktivitas sejak pukul 08.00 WIB hingga berakhir pukul 15.00 WIB. "Dalam seminggu ada satu hari libur, terserah saya, Mas diambil hari apa liburnya," katanya sambil mengusap peluh di dahinya.

Dia mengaku senang dalam suatu kesempatan dikunjungi Bupati Trenggalek Emil Dardak dan istrinya Arumi Bachsin. "Pak Bupati dan istri orangnya baik, Mas. Saya yang hanya orang kecil sebagai perajin anyaman bambu ini diperhatikan bapak pemimpin. Ke depan, saya harap pemerintah tak bosan-bosan membantu pemasaran dan modal, sehingga usaha Pak Katno terus berkembang besar. Kalau besar, saya kan juga untung, Mas," imbuhnya sembari tersenyum.

Anyaman Hiasi Brunei

Sukatno, pemilik Bambu Indah Craft, yang mengaku bermodal awal Rp 500 ribu. [Foto: antok/bj.com]

Sukatno yang biasa disapa Pak Katno adalah pemilik Kerajinan Bambu Indah. Laki-laki bertubuh subur yang rambutnya sudah memutih ini, hampir 26 tahun menggeluti usaha kerajinan bambu. Kini, sebagai pemilik Bamboo and Rotan Dandycraft, dia berhasil memimpin ratusan perajin.

"Tetapi yang berada di sini (bekerja di rumahnya) hanya enam orang. Kami melibatkan teman-teman perajin tradisional ada sekitar 50 rumah di sekitar sini. Awal mulanya, kami berpikir bagaimana bambu ini bisa dijual ke luar daerah dan dinikmati lebih tinggi. Biaya peralatan sangat murah. Harga bambu hanya Rp 5.000 dan peralatan sabit Rp 10 ribu," ujar suami Bibit Andayani ini.

Berbagai macam produk kerajinan telah dia hasilkan. Mulai dari meja makan, meja kursi tamu, kotak tisu, tudung saji, vas bunga, besek, tempat rokok, sketsel, keranjang suvenir, aneka mebel, gazebo hingga peralatan ijab kabul pengantin.

Seabrek hasil kreatif itu dari tangan-tangan terampil di Desa Wonoanti. Jenis bahan baku pun pilihan. Bambu apus, misalnya, harus yang berwarna kehitam-hitaman. Diolah seperti warna aslinya. Nilai artistiknya biar tetap ada.

Ketekunan Sukatno patut diteladani. Dia mengaku hanya bermodalkan awal Rp 500 ribu dan ketika itu masih memiliki perajin sebanyak 20 orang. Sekarang sudah berkembang memiliki perajin di 50 rumah sekitar workshopnya. Satu rumah biasanya terdapat 3-4 orang perajin.

Bahan baku melimpah ruah, karena memanfaatkan bambu milik penduduk di sekitar desanya. Kini, dia mampu menembus pasar nasional, bahkan internasional. Selain Surabaya juga menyebar di pasar di Jawa Tengah, Bali, dan Kalimantan. Pembeli dari luar negeri pun datang sendiri, antara lain dari Brunei Darussalam, Korea Selatan, Jepang, dan Filipina.

Sukatno juga banyak menerima order pembuatan besek (tempat nasi dan sayur dari anyaman bambu). Lazim digunakan pada acara kenduri atau tasyakuran. Order besek lazim dalam jumlah besar. Pengerjaan dilakukan di rumah-rumah perajinnya. "Rumah saya tidak cukup," katanya.

Dia mengaku kerap kewalahan menerima order pada bulan Besar (Jawa), saat musim hajatan dan adanya permintaan desain baru. Ini karena pemesan memberikan desain gambar produk sesuai selera masing-masing. Kadang dia mengaku sulit memenuhi pesanan sesuai dengan desain atau gambar. Bentuknya rumit dan kurang pengalaman memahami desain.

Suasana nyaman terasa di workshop Kerajinan Bambu Indah. [Foto: antok/bj.com]

Harga-harga produk kerajinan bambu dan rotan Sukatno amat variatif. Tergantung motif, jenis, dan besar-kecilnya. Tempat snack, misalnya, Rp 1.500 per biji. Besek yang dihias cantik Rp 5 ribu sampai Rp 10 ribu. Sketsel (penyekat ruangan) ukuran 2,5x0,6 meter tiga 'daun' Rp 250 ribu.

Kursi raja yang dipesan pembeli dari Brunei, misalnya, harganya Rp 1,5 juta. Bahan bakunya bambu pilihan dibalut rotan. Kecermatan tingkat pengerjaannya memang tinggi. Pengerjaan satu set kursi tamu butuh waktu 20 hari.

Bahan baku bambu pilihan per batang Rp 5.000. Cukup murah dibandingkan di Surabaya yang bisa mencapai Rp 20 ribu per batang. Bahan baku pun mudah didapat, karena rata-rata pekarangan penduduk setempat secara alami ditumbuhi bambu.

Peralatan yang dipakai juga sangat sederhana. Seperti pisau, sabit dan parang aneka bentuk, palu dan bar. Namun kecermatan menyayat dan merangkai bahan baku sangat menentukan kualitas produk. Kualifikasi dan kompetensi perajin pada umumnya otodidak, meski Sukatno juga kerap turun membimbing.

"Dinas Perindustrian dan Perdagangan Trenggalek pernah memberikan diklat, namun itu tak cukup. Kalangan perajin masih harus banyak belajar sendiri, agar bisa memenuhi selera konsumen. Kami juga melatih mereka sendiri. Orderan membludak juga jadi kendala. Ketika musim hujan, mereka memerlukan oven (pemanas) untuk mengeringkan bahan baku," jelasnya.

Keikutsertaan di even nasional maupun internasional sangat diperlukan sebagai salah satu promosi efektif. Biasanya instansi terkait mengajak perajin. Soal peran bank, versi Sukatno, tidak ada masalah. Bank-bank BUMN memberikan suntikan dana berapa pun yang dia butuhkan. Tergantung omset tiap bulan. Lazimnya Rp 10 juta dengan bunga lunak.

Meski demikian dia tidak selalu mengandalkan kredit bank. Hanya pada situasi mendesak, semisal saat order membludak. "Alhamdulillah, omset dalam sebulan sudah mencapai kisaran Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Sebulan menghasilkan 50 ribu barang kerajinan," kata Penerima Penghargaan Pemuda Pelopor Nasional Penciptaan Lapangan Kerja dari Presiden Soeharto pada tahun 1992 silam ini.

Ciri khas kerajinan bambu miliknya hingga diminati konsumen luar negeri, menurutnya, dibuat secara tradisional dengan kerajinan tangan dan anyaman bambunya cukup bagus serta bisa diandalkan.

"Kalau ada order dadakan, perajin kami sanggup kerja siang malam. Dulu ikut pameran saja tidak laku, Mas. Sekarang pembeli datang langsung ke rumah dan order dadakan. Dari segi permodalan, sekarang tidak ada kendala," imbuhnya.

Dia seringkali mengikuti kegiatan pameran di dalam maupun luar negeri. Pameran-pameran ini sebagai pintu masuk untuk mencari pasar baru. Saat ini, dari semua produksi, sekitar 35 persen untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor. Sisanya untuk pasar domestik.

"Memang sekarang secara total, ekspor mulai menurun. Tapi Alhamdulillah untuk kerajinan bambu ini tidak ada penurunan. Justru permintaan terus naik. Ya, rata-rata kenaikan permintaan tiap tahun mencapai 10 persen," paparnya optimistis.

Sentra kerajinan bambu dan rotan di Desa Wonoanti ini bisa dicapai dengan bus jurusan Surabaya-Trenggalek. Sebelum memasuki Kota Trenggalek, belok kiri ke jurusan Kecamatan Karangan, kira-kira 2 kilometer kemudian ada pertigaan pertama, belok ke kiri lagi, sampailah di sentra kerajinan itu.

Perajin anyaman bambu di Trenggalek terus kebanjiran order. [Foto: antok/bj.com]

Langkah Cantik Trenggalek
Trenggalek memiliki luas sekitar 130 ribu hektare dan jumlah penduduknya 800 ribu jiwa. Artinya, ada 0,16 hektare per penduduk. Lahan itu tidak hanya untuk kebutuhan pangan, tapi juga untuk pembangunan infrastruktur. Dua pertiga wilayah adalah pegunungan.

Bupati Trenggalek, Emil Elestianto Dardak, memiliki strategi jitu dan langkah cantik untuk memajukan daerahnya serta membumikan produk UKM ke seluruh pelosok negeri, hingga ke luar negeri. Apa itu?

Suami artis Arumi Bachsin ini mulai bercerita awal bahwa ada 10 brand perusahaan global yang mengontrol produk dan menguasai pasar dunia sekarang ini. Di antaranya adalah Nestle, Coca Cola Group, Danone dan Unilever. Ada cara jitu Emil agar produk UKM Trenggalek bisa bersaing dengan brand terkenal dunia itu.

"Kami harus bisa berdiri di atas pundak raksasa atau dinamakan Standing on The Shoulder of Giants. Jika produk ingin besar, kami harus bisa diversifikasi ke sektor hilir. Seperti ikan diolah, singkong diolah dan pisang jadi keripik pisang. Ini agar memiliki nilai tambah," tutur bupati kelahiran 20 Mei 1984 di Jakarta ini.

Bupati muda berusia 33 tahun ini mengatakan, produk yang sudah punya nama atau brand kuat bisa menjual rugi atau diskon besar-besaran di sebuah Hypermart, tetapi ternyata masih dapat untung di tempat penjualan lain.

"Bagaimana UKM kita bisa bersaing dengan produk yang sudah punya brand itu, salah satu solusinya adalah keberadaan BUMN bisa menjadi fasilitator UKM," jelasnya.

Pekerjaan rumah (PR) pengusaha UKM Trenggalek adalah pemasaran, baru kemudian berbicara modal. Produk harus bisa bersaing secara harga dan kualitas.

Emil telah mengusulkan ke Kementerian BUMN untuk membangun sinergi bisnis. Selama ini, pihaknya hanya mengandalkan pembelian produk UKM melalui wisatawan yang berkunjung ke Trenggalek. Produk UKM telah di-display di etalase lokasi-lokasi wisata dan menjualnya keluar daerah atau mancanegara melalui pameran.

Dia mencontohkan, pemasaran batik khas Trenggalek yang sebelumnya hanya mengandalkan pameran-pameran. Batik ternyata kurang laku karena belum memiliki brand khas Trenggalek, seperti halnya Batik Danar Hadi, Batik Keris dan Parang Kencana yang sudah punya nama.

"Akhirnya saya datang ke Sarinah Department Store di Jakarta. Saya buat communal branding (merk milik bersama). Ini karena menciptakan citra merk bukan ujug-ujug selesai. Kami Alhamdulillah juara di Dekranas mewakili Jatim," papar bupati pasangan Mochamad Nur Arifin (Gus Ipin) ini.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Demikian pepatah yang menjadi penyemangat Trenggalek. Sebagaimana perumpamaan sapu lidi bahwa ketika kita sendirian akan mudah dipatahkan, tapi jika diikat menjadi satu akan menjadi kuat.

Begitu pun bagi sebuah brand, jika sendirian akan menjadi berat dalam membangun dan mempertahankan brand tersebut. Bagi perusahaan besar dengan sumber daya yang besar, mungkin bisa sendirian bahkan berupaya mendisrupsi brand lainnya. Tapi bagi produk-produk UKM perlu pembelaan dari komunitasnya, untuk itulah perlu bersatu, membangun ikatan emosi untuk saling membela.

Kesadaran tentang communal branding ini menjadi sangat penting sejak berlakunya pasar terbuka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), di mana produk dari negara tetangga bebas berkompetisi di pasar kita. Memproteksi pasar tidak mungkin lagi, kecuali dengan membangun ikatan emosi antara komunitas yang menjadi produsen sekaligus juga pasar.

Komunal brand juga akan menghindari klaim sepihak dari negara tetangga atas produk-produk yang telah menjadi warisan kekayaan budaya kita. Pemerintah, terutama pemerintah daerah perlu segera menggerakkan komunal brand di daerahnya, bisa berbasis desa atau komunitas.

"Awalnya, batik Trenggalek bernama Batik Arumi. Istri saya (Arumi Bachsin) bilang kalau tak laku batiknya karena pakai namanya, jangan salahkan dia. Ternyata DPRD Kabupaten Trenggalek memprotes pemkab, karena tidak bisa memenuhi permintaan yang membludak. Itu tandanya laku keras," jelas Emil.

Akhirnya, batik khas Trenggalek memiliki sebuah brand bernama Batik 'Terang Galih' Trenggalek. Brand diambil dari nama Trenggalek itu sendiri yang berarti Terang ing Galih (Terang di Hati).

"Ada single identity. Batik kami dinamakan Batik Terang Galih Trenggalek dan diover ke Sarinah Department Store Jakarta. Merknya satu dan ada sub brand nama perajinnya di setiap batik. Alhamdulillah, kini Batik Terang Galih berdiri bersama deretan merk terkenal lainnya seperti Batik Danar Hadi, Keris, Parang Kencana dan Anne Avantie," ujarnya bangga.

Ubah Citra Kota Gaplek
Setelah berhasil memasarkan produk UKM Batik Trenggalek melalui communal branding atau komunal brand (merk milik bersama) di Sarinah Jakarta, Emil Dardak juga ingin mengubah image atau citra Kabupaten Trenggalek yang terlalu lekat dengan makanan gaplek.

Trenggalek dikenal sebagai Kota Gaplek. Stigma 'kalau mau makan gaplek ya datang ke Trenggalek' lambat laun akan dihilangkan.

Gaplek adalah bahan makanan yang diolah dari ubi ketela pohon atau singkong. Prosesnya sangat mudah. Ubi singkong yang telah dipanen kemudian dikupas dan dikeringkan. Gaplek yang telah kering, kemudian ditumbuk sebagai tepung tapioka dan bisa dibuat bermacam-macam kue.

"Trenggalek punya rumah kakao atau cokelat, karena ada kebun kakao seluas 4.300 hektare di Trenggalek. Kami ingin mengubah image Trenggalek yang dulunya hanya dikenal makanan gaplek menjadi daerah wisata eksotis dan punya nilai jual menarik. Ada kakao dan kopi di Trenggalek," tuturnya.

Ketika ada orang yang bertanya mengapa harus pergi jauh-jauh ke Trenggalek, Emil berharap jawabannya saat ini adalah mereka ingin minum cokelat panas dan kopi khas Trenggalek di atas pegunungan, dan bukan sekadar makan gaplek saja.

"Seperti brand lokal Anomali Coffee di Jakarta yang kini bisa bersaing dengan Starbucks dan Excelso. Tak hanya cokelat dan kopi, Trenggalek punya daerah pegunungan yang juga cocok untuk ternak sapi perah seperti di Australia dan dibantu dengan teknologi," imbuhnya.

Selain Rumah Cokelat, Trenggalek juga membuat Rumah Produksi susu dan diberi nama Susu Dilem Wilis dan izinnya akan bekerjasama dengan BPOM.

"Negara harus hadir untuk mengangkat derajat UKM di Trenggalek. Penghargaan untuk Trenggalek dari pemerintah atau internasional harus bisa ikut dirasakan dan dinikmati pedagang kecil. Trenggalek boleh dibilang daerah jauh jaraknya dari Surabaya dibandingkan daerah lain, tetapi harus jadi yang terdepan," ujarnya dengan optimistis.

Konsumen tertarik dengan hasil kerajinan anyaman bambu Trenggalek. [Foto: antok/bj.com]

Komitmen Pemprov Jatim
Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) mengapresiasi konsep Jatimnomics yang digagas Pemprov Jatim, dalam menangani kendala klasik yang dialami Usaha Kecil Menengah (UKM), yakni masalah produksi, permodalan, dan pemasaran.

"Konsep Jatimnomics saya kira cukup ampuh dalam menyelesaikan persoalan klasik UKM. Kini tinggal UKM-nya, apakah mau maju atau tidak," kata Ketua Bidang Manajemen Usaha Dekranas, Bintang Puspayoga dalam suatu kesempatan.

Bintang yang juga Penasehat DWP (Dharma Wanita Persatuan) Kemenkop dan UKM itu mengatakan, perajin yang umumnya UKM itu juga harus meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam menghasilkan suatu produk. Karena itulah pelatihan terus dilakukan khususnya yang vocational. Dia berharap bisa membawa perajin dan UKM untuk bisa naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi.

Sementara itu, Kadis Koperasi dan UKM Provinsi Jatim, Mas Purnomo Hadi mengatakan pihaknya akan memaksimalkan kegiatan pelatihan UKM di 38 kabupaten/kota di Jatim. "Kami akan lakukan secara rutin sehingga semua UKM, wirausaha pengelola koperasi, dapat meningkatkan kualitas usahanya," tukasnya.

Dia menjelaskan, saat ini di Jatim ada 31.700 unit koperasi dan 8 juta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). "Ini jumlah yang tidak sedikit, karena itu pembinaan usaha mikro kami serahkan ke kabupaten/kota masing-masing, untuk UKM oleh provinsi, sedangkan menengah atas ke pusat," jelasnya.

Mantan Kabiro Administrasi Perekonomian Pemprov Jatim ini, mengakui kendala perajin dan UKM, yakni terutama masalah pasar, produksinya dan pembiayaan. Jatimnomics memiliki tiga pilar pengembangan pengrajin, UKM maupun koperasi.

"Ketika pengelola koperasi maupun UKM ada masalah produksi, maka akan dibantu melalui diklat atau BDC (bussines development center) secara gratis. Kami siapkan semua mulai dari materi, tenaga ahli dan sebagainya," katanya.

Untuk kendala permodalan, Jatimnomics melalui Bank Jatim menyediakan kredit tani dengan bunga 6 persen per tahun. Dalam hal ini Lembaga Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida) menyiapkan dana penjaminan.

Pemprov Jatim juga mengajak LPDB (Lembaga Pengelola Dana Bergulir) untuk ikut menyalurkan dana ke koperasi dan UKM, dan sudah terealisasi lebih dari Rp 1 triliun dengan NPL (non performing loan) di bawah 5 persen.

Sementara itu, untuk masalah pasar, seharusnya tidak perlu ditakuti, tapi bisa dijadikan tantangan. "Karena itu momen-momen penting seperti pameran dagang harus dimanfaatkan, khususnya dalam menghadapi serbuan produk impor yang membanjir," tegasnya.

Pengembangan UMKM di Jatim terus dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memperluas akses pasar melalui berbagai pameran berskala nasional maupun internasional. Tak hanya itu, perluasan akses pasar juga menyasar produk koperasi agro berorientasi ekspor melalui Cooperative Trading House (CTH).

Upaya lainnya, dalam hal strategi pembiayaan melalui lembaga keuangan mikro seperti koperasi wanita dan koperasi pondok pesantren. Pengembangan skema pembiayaan (model loan agreement) juga dilakukan dengan dukungan dana bergulir berbunga rendah sebesar 6 persen per tahun hingga penjaminan kredit bagi UMKM yang feasible tapi tidak bankable melalui PT Jamkrida Jatim.

Pemprov Jatim juga memberi perhatian kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan bantuan penguatan permodalan bagi 100 LMDH sebanyak Rp 25 juta per LMDH. Penguatan permodalan juga diberikan kepada 100 Koperasi Karyawan (Kopkar) sebanyak Rp 25 juta dengan jumlah modal Rp 2,5 milliar.

Penghargaan Jatim

Gubernur Jawa Timur Soekarwo ketika menerima penghargaan bidang Koperasi dan UMKM tahun 2017. [Foto: antok/bj.com]


Gubernur Jawa Timur Soekarwo telah memperoleh penghargaan bergengsi di bidang Koperasi dan UMKM, yakni sebagai provinsi penggerak koperasi terbaik dan penumbuhan kewirausahaan terbaik tingkat provinsi tahun 2017.

Penghargaan diserahkan oleh Menteri Koperasi dan UKM RI AAGN Puspayoga kepada Pakde Karwo pada acara Rapat Koordinasi Nasional Bidang Koperasi dan UMKM Tahun 2017 di Denpasar Bali, Kamis (23/3/2017) silam.

Banyak alasan Jatim memperoleh penghargaan tersebut. Di antaranya, Jatim dianggap berhasil dalam memfasilitasi kegiatan usaha koperasi dan UMKM seperti berdirinya lembaga keuangan mikro. Juga pelatihan-pelatihan pengemasan produk usaha packaging, fasilitasi legalitas usaha UMKM, serta peningkatan kualitas produk agar sesuai dengan standar nasional Indonesia. Selain itu, seluruh kabupaten/kota sangat aktif dalam menggerakkan koperasi di daerahnya.

Terkait kebehasilannya dalam mengembangkan koperasi dan UMKM di Jatim, Pakde Karwo mengatakan, sektor koperasi dan UMKM memang menjadi andalan Jatim. Sebab, selain berkontribusi besar bagi PDRB Jatim, sektor tersebut terbukti mampu bertahan dan terus tumbuh meski situasi ekonomi global sedang lesu.

"Koperasi dan UMKM adalah sektor utama yang harus di pihak oleh negara dalam rangka merekonstruksi arah pembangunan nasional, khususnya dalam membangun perekonomian. Sektor itu telah memberikan pelajaran hebat bagi bangsa ini dalam mengarungi situasi ekonomi yang tak menentu," ujarnya.

Berdasarkan data yang tercatat di Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jatim, jumlah koperasi dan UMKM terus tumbuh pesat. Sampai dengan Desember 2016, di Jatim terdapat 31.218 koperasi dengan anggota 7.623.830 orang. Jumlah ini diyakini akan terus bertambah mengingat kondisi perekonomian Jatim saat ini yang terus tumbuh membaik. Data terakhir menyebut 31.700 unit koperasi.

Sementara itu, jumlah UMKM di Jatim saat ini sebanyak 8 juta unit usaha, dari sebelumnya hingga akhir 2016 sebanyak 6,8 juta unit usaha. Dari jumlah tersebut, sebagian besar tergolong sebagai usaha mikro, yakni 6.533.694 unit usaha (95,53 persen), sebesar 3,85 persen atau 261.827 unit usaha sebagai usaha kecil dan 0,57 persen atau 30.410 unit tergolong sebagai usaha menengah.

Sekadar diketahui, pemprov Jatim tahun 2016 mengalokasikan dana kredit lunak untuk UMKM sebesar Rp 400 miliar. Namun, anggaran tersebut bertambah Rp 1,3 triliun, sehingga menjadi Rp 1,7 triliun. Anggaran Rp 1,3 triliun itu berasal dari dana cadangan pemilihan gubernur (pilgub) sebesar Rp 400 miliar ditambah sisa lebih penghitungan anggaran (SILPA) tahun 2015 sebesar Rp 900 miliar.

Awalnya, DPRD Jatim mengkritisi program tersebut. Tetapi karena program dipandang sangat penting, akhirnya kalangan dewan setuju.

Kemitraan Gandeng Pemain Besar

Pengamat ekonomi Unair Surabaya, Dr Rudi Purwono. [Foto: antok/bj.com]

Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Rudi Purwono kepada beritajatim.com menuturkan, langkah pembinaan UMKM melalui pelatihan bagi mereka yang unskill, memberi kemudaan akses permodalan di perbankan dan menciptakan communal branding (merk bersama) yang dilakukan Pemprov Jatim dan Pemkab Trenggalek patut diacungi jempol.

Hanya saja, menurut dia, yang tidak kalah pentingnya adalah menciptakan pasar untuk menjual produk UMKM dan bisa bersaing dengan brand-brand ternama di pasar-pasar ritel modern.

"Saya ingin melihat ke depan ada produk UMKM Jatim itu dijual di pasar ritel modern, seperti Sogo, Transmart, Carrefour, Matahari Department Store dan Hypermarket. Jadi, UMKM bisa bersaing dengan produk brand papan atas atau luar negeri. Jadi, tidak hanya dijual dengan harga murah di pasar tradisional atau deretan pedagang kaki lima pinggiran kota. Untuk itu, kualitas produk dan menciptakan brand diutamakan," tegas Rudi.

Ada lima indikator yang digunakan untuk menentukan suatu daerah itu dikatakan ramah investasi. Antara lain, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Pendapatan Asli Daerah (PAD), fasilitas dan sarana penunjang, ritel dan pasar, serta nilai realisasi investasi tahunan.

"Sebenarnya ada banyak sub-indikator yang bisa dilihat secara lebih rinci. Semisal, terkait daya beli masyarakat, struktur ekonomi dan inflasi. Hal-hal tersebut tidak bisa dikesampingkan, karena sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Soal indikator retail dan pasar, Rudi menyebut yang terpenting sekarang adalah bagaimana menghubungkan pengusaha-pengusaha besar dengan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Salah satu caranya yakni mendorong UMKM mampu menembus pasar yang lebih besar dengan metode kemitraan.

"Artinya, pengusaha-pengusaha besar yang sudah punya pangsa pasar yang jelas membantu para pelaku UMKM yang bisa mengakses pasarnya sendiri, namun dengan timbal balik UMKM sebagai binaan perusahaan besar. Semisal, Batik Terang Galih Trenggalek yang bisa menggandeng butik sekelas La Mode agar bisa dijual di gerainya," tukasnya.

Kucuran kredit UMKM yang begitu besar oleh Pemprov Jatim harus bisa dimaksimalkan oleh pelaku UMKM itu sendiri. Mengenai masih ada beberapa pelaku UMKM yang kesulitas mendapatkan akses permodalan untuk modal usaha, bisa dilakukan pembinaan kembali oleh pemerintah setempat.

Selain itu, pemerintah kabupaten/kota setempat bisa menggandeng BUMN atau kalangan swasta melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan, untuk memajukan sektor UMKM.

Tapi kerja sama bisnis ini diharapkan sesuai produk UMKM. Semisal, CSR untuk UMKM jenis makanan dan minuman, bisa membantu pengembangan produk hortikultura di wilayah itu. Yang harus dikritik selama ini, kadangkala CSR perusahaan itu diberikan asal saja tidak sesuai sasarannya.

Dia meminta Pemkab Trenggalek dan pengusaha UMKM setempat harus bisa memperkuat pemasaran produk dan didukung peningkatan kualitas serta keunikan produk UMKM. Hal ini termasuk penguatan branding produknya.

"Yang pasti pelaku UMKM harus bisa naik kelas. Dari pengusaha mikro naik kelas menjadi kecil, yang kecil naik kelas menjadi menengah. Ini karena masyarakat kelas menengah di Jatim setiap awal bulan akan membelanjakan konsumsinya ke pasar ritel modern, kalau ada yang kelupaan, baru mereka belanja ke pasar tradisional atau warung tetangganya. Pasar ini yang harus direbut UMKM," jelasnya.

Mengenai Batik Terang Galih Trenggalek, Rudi menyarankan bisa 'memanfaatkan' artis Arumi Bachsin, yang tidak lain adalah istri Bupati Trenggalek Emil Dardak sendiri.

"Ketika Mbak Arumi dan Mas Emil mengenakan Batik khas Trenggalek itu dalam setiap kesempatan acara formal, akan menjadi sarana promosi gratis. Ini karena dipakai public figure. Di Jatim, sudah bagus. Hampir tiap daerah memiliki UMKM Batik khas masing-masing, tinggal pemasarannya dan ketersediaan produk diperhatikan," pungkasnya.

Harapannya produk-produk UMKM Jawa Timur, khususnya kerajinan ayaman bambu dan Batik Terang Galih Trenggalek, bisa bersaing dengan brand-brand ternama yang sudah ada di pasar ritel modern.

Jika bisa bersaing, cita-cita Bupati Trenggalek Emil Dardak menjadikan produk UMKM-nya bisa 'berdiri di atas pundak raksasa' (standing on the shoulder of Giants), bukan sesuatu yang mustahil. Dan, orang mengenal Trenggalek tak lagi sekadar makan gaplek.

Perajin anyaman bambu sekelas Sukatno di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek bisa mengalahkan produk anyaman bambu dari luar negeri yang membanjiri Jatim, seperti halnya kisah David mengalahkan raksasa Goliath. Semoga! [tok/air]

Berita Terkait

    Komentar

    ?>